Recovery: They Come Again

Recovery :: They Come Again
Jika ada yang mengatakan biarlah waktu yang menyembuhkan segala luka, aku akan percaya itu. Meskipun membutuhkan waktu bertahun-tahun, aku rela menunggu sampai luka ini mengering dan sembuh tanpa bekas.
Aku masih saja tidak habis pikir dengan ulah Sherin dan Dimas. Semakin aku pikirkan, semakin aku tidak mengerti. Apa sih kesalahan yang telah aku lakukan pada mereka berdua? Dan setiap kali mengingat hal itu, pertahanku runtuh seketika. Aku menangis, meski hanya isakan pelan. Cinta itu terkadang malah membuat kita sakit.
Hari-hari selama di Madiun ini sungguh menyiksaku. Mungkin karena orang-orang di kota ini masih sedikit konservatif dan kolot, melihatku yang masih melajang di usia yang sudah lebih dari kepala tiga, sehingga banyak tetangga yang mulai mempergunjingkanku. Terserahlah, mereka tidak tahu apa-apa mengenai alasanku tetap melajang diusiaku ini. Aku harus benar-benar menebalkan muka dan menulikan telinga untuk terus bersikap manis terutama kepada ibu-ibu di kompleks perumahan tempatku tinggal. Iya, rumah yang di Jakarta sudah kujual, beserta dengan barang-barang yang berhubungan dengan Sherin dan Dimas. Aku sakit setiap kali melihat benda-benda itu disekelilingku. Aku akhirnya membeli rumah di sebuah perumahan setelah setahun kost di kota ini.
Tifa, Amel, Ray, Bagas dan Dion. Hanya mereka yang tahu dimana aku tinggal. Aku sudah berpesan kepada mereka agar tidak memberitahukan keberadaanku kepada siapapun terutama kepada dua penghianat itu. Setiap tahun mereka sengaja meluangkan waktu barang dua tiga hari untuk mengunjungiku. Hanya mereka yang mengerti betul keadaanku. Aku masih bersyukur karena masih memiliki mereka berlima, sahabatku sedari SMA.
Hari Sabtu dan Minggu adalah hari yang paling kubenci. Karena kedua hari tersebut merupakan hari libur, sehingga aku tidak tahu bagaimana cara agar membuatku lupa bahwa aku sendirian. Seperti hari ini, aku hanya duduk sambil memeluk lututku di sofa yang berada di teras belakang rumah sambil memandangi bunga-bunga yang tumbuh dengan cantiknya. Tiba-tiba saja ponselku menjerit, pada layarnya nampak foto dan nama penelepon. Amelia-Amel. Langsung saja kupencet tombol jawab.
“Halo, Mel.”
“Hi Sha, gue sama anak-anak udah on the way nih mau ke rumah lo. Liburan, senin sampai rabu kan kebetulan libur, jadi kita mau ngercokin elo…hahaha”
“Anak-anak? Emang siapa aja yang lo ajak?” tanyaku.
“Biasalah, gank rempong kita. Kangen nih kita sama lo. Sama ada hal penting yang mau kita bicarain sama lo”
“Oh, oke deh. Gue nitip bawain keripik mang Dudung ya. Yang biasanya itu.”sahutku kemudian.
“Iye, yaudah ye cin, ini mau capcus jemput si rempong.”
“Si rempong? Dion maksud lo?”
“Iye siapa lagi. Laki paling rempong ya cuman dia..hahaha”
“Oke, ati-ati di jalan ya cin”
“iye, bye..”
Telepon dari Amel sungguh membuatku tersenyum. Ini adalah bulan Oktober, dan lusa adalah ulang tahunku yang ke 32. Mereka pasti sengaja untuk datang dan menemaniku di hari yang pernah menjadi hari terburuk dalam hidupku. Padahal bulan Juli lalu mereka baru saja kemari bersama keluarga masing-masing untuk menikmati liburan sekolah anak-anak mereka. Maklum, mereka sudah menikah jauh-jauh hari sebelum aku berpacaran sama Dimas. Akulah the last jomblo di gank rempong ini.
Masih dengan posisi semula, aku kembali menerawang. Luka ini masih terasa perih, masih terasa sakit. Ayolah, siapa sih yang bisa dengan mudah melupakan kejadian menyakitkan sekaligus memalukan seperti itu? Kejadian itu telah mengubahku dari Shafina yang ceria dan blak-blakan menjadi Shafina yang pendiam, murung dan tertutup. Bahkan beberapa rekan kerjaku di sini mengatakan bahwa aku judes. Biarlah, mereka tak tahu apa-apa mengenai hidupku ini. Aku memang masih trauma, sehingga belum bisa membuka hati pada orang-orang baru, meski aku sudah mencoa untuk bersikap sopan dan ramah kepada rekan kerjaku, tapi itu hanya sabatas formalitas untuk menjaga hubungan kerja yang baik.
Tiba-tiba aku merasa lapar, kulirik sekilas ponselku, ternyata sudah hampir jam 12 siang dan aku belum makan apapun dari tadi pagi. Akhirnya aku masuk kembali ke rumah, memeriksa isi kulkas dan setelah mendapatkan barang yang kuinginkan, akupun mulai memasak. Nasi goreng seafood adalah kegemaranku. Dan siang ini aku ingin makan nasi goreng seafood super pedas. Setelah selesai memasak, aku mendengar ada yang membunyikan bel, buru-buru kuhampiri ruang tamu untuk melihat siapa yang datang. Kubuka perlahan pintu depan dan betapa terkejutnya aku melihat siapa yang berdiri di depan gerbang rumahku. Sherin, Dimas dan seorang balita. Aku hanya terdiam, memandangi mereka dan berkata pada diri sendiri, “Ini hanya ilusi, mereka tak mungkin tahu dimana aku tinggal, ini tidak nyata.”. Tapi semuanya buyar seketika saat kulihat senyum terkembang dibibir keduanya. Cih, senyum palsu. Aku tak akan tertipu dengan senyum bodoh kalian.
“Kak, kakak mau tetap diam di situ tanpa mempersilakan kami masuk?”tanya Sherin
“Maaf,kalian mencari siapa ya?” aku balik bertanya. Hey,jangan harap aku mau membiarkan kalian masuk dan kembali menyakitiku. Urus saja kehidupan bahagia kalian.
Sherin menangis mendengar jawabanku. Kemudian Dimas yang sedari tadi hanya diam, sekarang menatapku penuh penyesalan. Dia menyesal? Benarkah? Jangan bercanda, aku sudah tidak bisa percaya apapun yang kalian katakan dan lakukan.
“Sha, kumohon biarkan kami menjelaskan semuanya. Ini semua salah paham. Kamu harus mendengar penjelasan kami dulu. Tolong Sha,jangan siksa kami seperti ini.”kata Dimas
Baiklah, aku sudah tidak sanggup lagi. Kalau seperti ini aku bisa tiba-tiba menangis. “Maaf, sepertinya kalian salah alamat. Sekali lagi maaf, saya sedang sibuk.”kataku sambil menutup pintu. Samar masih kudengar teriakan Sherin dan Dimas memanggilku. Aku tak peduli. Enak saja mereka bilang semuanya salah paham. Aku ditinggalkan begitu saja di depan altar dan itu dibilang salah paham? Yang benar saja. Sialnya, melihat mereka, pertahanku kembali runtuh. Aku menangis sejadi-jadinya. Darimana mereka tahu aku tinggal disini? Apa dari teman-temanku? Ah, itu tidak mungkin. Dari kantor lamaku? Itu sih mungkin saja. Toh banyak yang tahu bahwa aku akan pindah ke Madiun. Shit, aku tidak memikirkan kemungkinan itu.
Setelah sekitar satu jam aku menangis bersandar pada pintu, samar kudengar suara mobil menjauh. Aku bangkit dan melihat dari jendela, mereka sudah pergi. Baguslah, jangan datang lagi penghianat!! Kulangkahkan kakiku menuju dapur, makan siangku masih utuh dan mulai dingin. Kupanaskan sebentar dan kemudian aku mulai makan. Makanan itu hanya kukunyah sebentar lalu cepat-cepat kutelan. Aku kelaparan dan marah. Dan ini yang tiga tahun terakhir kulakukan jika sedang marah, makan sebanyak-banyaknya.
Hari masih pagi saat teman-temanku tiba. Mereka langsung saja merebahkan diri di sofa dan duduk lesehan di lantai ruang tamu. Tifa dan Amel langsung menuju kamarku untuk meletakkan ransel. Dan aku sibuk membuatkan teh hangat dan mengeluarkan kue dari kulkas untuk menemani mereka melepas lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Kutunggu mereka sampai mereka selesai istirahat sebelum menceritakan peristiwa kemarin siang.
Dua jam waktu yang dibutuhkan mereka untuk meregangkan otot. Akhirnya Amel mulai buka suara.
“Lo tau ga kalo sebenernya Dimas dan Sherin ga pernah menikah? Dan anak yang dikandung Sherin waktu itu bukan anaknya Dimas?”tanya Amel.
Aku hanya tersenyum getir dan mrnjawab “Jangan bercanda deh. Ini bukan April mop.”.
“seriusan Sha, ini alasannya kita kesini. Kita juga beru tau sebulan yang lalu.”sahut Tifa.
Aku hanya terdiam. Kalau memang mereka tidak pernah menikah, mengapa kemarin mereka datang bersama?
“Kita tau ini masalah pribadi elo sama Dimas dan Sherin, tapi kita juga ga mau elo terus-terusan menutup diri kaya gini. Gue bulan lau kebetulan ketemu sama Sherin waktu lagi nganter Ratih belanja. Lo tau dia sama siapa? Dia gandengan mesra sama laki-laki dan itu bukan Dimas. Dan kebetulan lagi, dia ngeliat gue dan nyamperin gue. Dia basa-basi nanya kabar dan ngenalin laki-laki itu, namanya Galih. Dia bilang kalau itu adalah suaminya. Gue kaget waktu itu, lalu gue bilang, bukannya elo kawin sama Dimas ya? Dia malah senyum kecut dan bilang, ini kesalahan. Salah paham yang berakibat fatal.”kata Bagas. Bagas diam menarik nafas sebentar dan melanjutkan ceritanya. “Dia bilang kalo ingin menjelaskan semuanya, tapi elo keburu ga bisa dihubungi dan rumah peninggalan orang tua kalian keburu lo jual, makanya dia bingung gimana cara ngehubungi elo. Dan sorry nih ya Sha, gue ngasih tau kalo elo pindah ke Madiun, tapi gue ga bilang dimana elo tinggal.”
Aku terdiam mendengar cerita Bagas. Amel dan Tifa sedari tadi merangkulku, memberiku penguatan. Aku masih belum bisa sepenuhnya menerima penjelasan Bagas. Salah paham? Bagaimana mungkin masalah seserius itu hanya salah paham. Ayolah, yang benar saja. Setelah membuat aku batal menikah, dia malah menikah dengan Galih. Tunggu, Galih kan pacarnya Sherin yang sering datang ke rumah waktu itu. Aku lalu membelalakan mataku.
“Elo bilang tadi suaminya Sherin namanya Galih?”tanyaku pada Bagas.
“Iya, elo kenal?”sahut Bagas.
“Jelas aja gue kenal. Sialan tuh Sherin. Salah apa sih gue sama dia? Udah punya pacar, masih aja ngacauin pernikahan gue. Kalo dia akhirnya kawin sama Galih, buat apa dia lari sama Dimas? Ini gila.”kataku penuh emosi.
“Asal kalian tau, kemarin siang mereka kemari. Ga tau diri emang mereka. Mereka pikir semudah itu gue bisa nerima kehadiran mereka kembali? Mereka ga tau sakitnya ditinggalin gitu aja di altar. Gue ga cuman sakit hati, gue juga malu. Seenaknya aja mereka dateng lagi dan bilang bahwa semuanya hanya salah paham. Salah paham apanya?!”lanjutku berapi-api. Tanpa sadar air mataku mulai meleleh. Tubuhku bergetar menahan emosi yang menggelegak. Luka yang belum mengering itu kembali melepuh.
Mereka semua terdiam. Sementara Tifa dan Amel memelukku dari kiri dan kanan mencoba menenangkanku. Aku masih terisak. Ini gila. Salah paham? Dengan mudahnya Sherin bilang salah paham sementara dia tidak tau betapa remuknya perasaanku waktu itu. Dia adikku sendiri. Aku sungguh menyayanginya. Aku selalu mengalah padanya sejak kecil. Apa itu alasannya, dia berpikir aku akan memberikan calon suamiku juga? Gila!! Dia hamil dengan pacarnya yang bernama Galih tapi malah menghancurkan pernikahan yang sudah lama kuimpikan dengan cara lari bersama dimas calon suamiku. Dan sekarang mereka datang lagi ketika aku sudah hampir berhasil keluar dari luka yang menyakitkan itu dengan susah payah. Apa tujuan mereka sebenarnya? Ingin menghancurkan hidupku?

Recovery :: The Beginning

Kembali dengan cerita baru..kali ini ceritanya dibikin bersambung dengan main title Recovery. Happy reading..

Oh iya, disclaimer :: ini cerita murni hasil pemikiran saya BlueRhey.

And the story start…

***$$$***

Kalau kamu belum pernah patah hati, mungkin akan menganggap apa yang aku tulis berlebihan. Bahkan mungkin bagi yang sudah pernah mengalami patah hati, ini juga masih terlalu berlebihan. Tetapi seandainya kalian ada diposisiku, mungkin kalian akan beranggapan lain. Aku ditinggalkan di depan altar begitu saja oleh calon suamiku, orang yang sudah menjadi kekasihku selama hampir tiga tahun. Lebih menyedihkan lagi, dia kabur bersama dengan adikku sendiri. Aku merasa jadi wanita paling tolol sedunia saat itu. Dia, laki-laki itu, menggenggam tanganku sebelum akhirnya berkata, “aku tak bisa melanjutkan ini, aku terlanjur jatuh cinta pada Sherin, adikmu, dan dia sekarang mengandung anakku Sha.”. Apa yang kalian lakukan jika kalian ada diposisiku saat itu? Aku, aku hanya bisa diam dan melepasnya begitu saja. Aku masih tidak menyangka ternyata adikku yang kujaga sejak kecil, yang kubiayai kuliahnya sampai sarjana, tega melakukan hal sekejam itu padaku.

Hari itu adalah hari yang paling aku nantikan sepanjang hidupku. Ya, bertepatan dengan ulang tahunku yang ke 28, Dimas, kekasihku akan menikah denganku. Aku Shafina Mega, akhirnya akan menjadi istri. Semua persiapan pernikahan sudah siap sejak jauh-jauh hari. Tapi ternyata semuanya sia-sia saja. Jika memang dia sudah tidak mencintaiku, mengapa harus seperti ini? Apa tidak bisa dia meninggalkanku dengan cara baik-baik? Dengan cara terhormat, bukan malah mempermalukanku dihadapan semua orang seperti itu. Dan yang membuatku semakin terluka, dia menghamili adikku, adik kecilku. Bagaimana bisa Sherin, adikku yang begitu manis, melakukan hal sekejam itu padaku? Apa salahku padanya?

Ini adalah tahun ke empat semenjak kejadian menyakitkan itu, tapi aku masih saja belum bisa menyembuhkan luka yang menganga di hatiku. Sherin dan Dimas sudah tidak pernah lagi muncul dihadapanku karena sejak kejadian itu aku sengaja lari. Aku memilih pergi dari semuanya dan mencoba untuk kembali menata hatiku di kota lain yang jauh dari Jakarta, jauh dari orang-orang yang mengenalku. Jauh dari semua teman dan saudara. Madiun. Di kota kecil ini aku ingin menenangkan diri. Aku berharap dengan berada di kota yang asing dan sepi, aku bisa menyembuhkan luka ini, tapi ternyata tidak mudah melupakan semua sakit ini. Semua beban pekerjaan ternyata tak bisa mengalihkan pikiranku dari hal tersebut.

Sebelumnya akan kuceritakan tentang aku dan adikku. Kami telah menjadi yatim piatu semenjak kecelakaan yang merenggut nyawa ayah dan ibuku. Saat itu umurku baru 24tahun dan aku baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di perusahan tempatku bekerja yang kebetulan adalah BUMN. Sherin saat itu masih 18tahun dan masih duduk di kelas tiga SMA. Ayah yang hanya seorang staf HRD di sebuah perusahaan otomotif dan ibu yang hanya menjadi ibu rumah tangga tentu saja tidak meninggalkan banyak warisan untukku dan Sherin. Sebuah rumah dan 2buah motor. Hanya itu yang ditinggalkan orangtuaku. Karena ayah bekerja di perusahaan swasta, tentu saja tidak ada uang pensiun buatnya, jadi otomatis aku yang harus menanggung semua kebutuhan hidup kami berdua. Untung saja aku sudah menjadi pegawai tetap di kantor BUMN ini.

Saat itu Sherin sangat terguncang, karena itu aku memilih untuk tidak menampakkan betapa rapuhnya aku setelah ayah dan ibu meninggal. Aku harus melindungi Sherin. Mati-matian aku bekerja dan berhemat agar kebutuhan kami terpenuhi. Aku harus merelakan uang yang harusnya bisa kugunakan untuk membeli koleksi novel dan sepatu kets,untuk membayar uang sekolah dan les adikku. Tak apalah, demi masa depan adikku, aku akan lakukan apapun. Hanya dia satu-satunya keluarga yang kumiliki sekarang, jadi akan kulakukan apapun untuk membuatnya bahagia. Untungnya dia masih bisa mengikuti pelajaran dengan baik dan tetap menjadi Sherin yang manis dan tak banyak tingkah. Aku begitu bersyukur memiliki adik sepertinya.

Setelah lulus SMA, Sherin memaksa untuk langsung bekerja, tapi aku melarangnya. Aku memintanya untuk tetap melanjutkan kuliah, setidaknya D3, agar lebih dihargai oleh perusahaan. Lagi-lagi dia menurut, dia melanjutkan kuliahnya. Meskipun setelah selesai jam kuliah dia kemudian bekerja paruh waktu, prestasinya juga tidak turun, malah dia mendapat beasiswa sampai tamat S1.

Cukup cerita mengenai Sherin, sekarang cerita mengenai diriku, Dimas dan awal cinta ini menjadi rumit.

Aku mengenal Dimas sudah cukup lama, dia adalah teman kuliahku dulu. Setelah terpisah kira-kira tiga tahun, aku bertemu lagi dengannya disebuah kafe. Saat itu aku sedang menunggu Latifa, teman kerjaku. Ternyata kafe itu adalah miliknya. Yah, dia memang berasal dari keluarga yang cukup berada, tak heran jika dia sanggup membuka sebuah kafe yang berkelas seperti itu. Kami mengobrol cukup lama, bernostalgia mengenang masa-masa kuliah dulu. Bergosip tentang si A yang akhirnya menikah dengan si B padahal dulu kenalpun tidak dan juga tentang dosen A yang menikah lagi setelah istrinya meninggal padahal umurnya sudah hampir 70 tahun dan masih banyak hal lainnya. Pertemuan itu pun berakhir dengan saling menukar nomor telepon. Tak lama setelah itu, aku dan Dimas akhirnya berpacaran.

Aku sering mengajaknya ke rumah, memintanya untuk mencicipi masakanku. Dia tak pernah menolak, “Sekalian belajar gimana nanti kalo kita udah nikah”,begitu alasannya. Kadang dia datang tanpa memberitahu dan memberikan banyak kejutan. Aku sangat mencintainya. Mungkin inilah alasannya, cinta yang berlebihan dari satu pihak akan membebani pihak yang lain. Dia masih saja tetap hangat meskipun hubungan kami sudah berjalan lebih dari setahun, sampai akhirnya aku merasa ada yang berbeda dengan sikap Dimas dan Sherin. Entahlah, hanya saja mereka lebih sering saling menghindar ketika kami sedang bersama, padahal dulu mereka sangat akrab. Aku tidak menaruh curiga sama sekali, mungkin karena aku terlalu percaya kepada Dimas dan terlalu menyayangi Sherin sehingga aku tak pernah berpikiran negatif pada mereka. Tapi ternyata kepercayaanku dikhianati begitu saja. Diam-diam mereka menjalin cinta dibelakangku. Dan ini baru kuketahui pada hari pernikahanku.

Kalian bisa bayangkan tidak sakitnya hatiku? Aku hampir gila memikirkan hal itu. Hampir hilang akal, aku pernah menyayat pergelangan tanganku dengan pisau, tapi itu tak mampu membuatku menyusul ayah dan ibu. Aku sangat kacau saat itu. Mengingat bagaimana Dimas pergi begitu saja dan berlalu sambil menggandeng Sherin keluar dari gereja sungguh membuatku frustasi. Aku hanya mematung di depan altar sebelum akhirnya pingsan. Begitu aku sadarkan diri, aku sudah ada di kamarku, kamar yang harusnya menjadi kamar pengantin. Aku hanya menagis tertahan sebelum akhirnya meraung dan menjerit tak terkendali. Tifa dan Amel, sahabatku, hanya bisa memelukku dan menangis bersamaku, sementara di luar beberapa temanku masih setia menungguiku. Kukoyak gaun pengantin yang kukenakan sambil berteiak mengutuki Dimas dan Sherin. Bermacam makian dan kata-kata kasar yang tak pernah kuucapkan, terlontar begitu saja dari mulutku. Aku sudah tak peduli lagi.

Setelah kejadian itu, aku hanya mengurung diri di kamar selama berhari-hari dan selama itu teman-temanku bergantian menjagaku, membujukku agar mau makan dan keluar kamar. Aku hanya memandangi mereka dengan tatapan kosong. Mereka bilang, aku sudah seperti zombie. Berat badanku turun drastis, kulitku semakin pucat dan mataku yang bulat menjadi cekung dengan lingkaran hitam disekitarnya. Aku bertahan dalam kondisi seperti itu selama tiga minggu sampai akhirnya aku lelah terus menerus meratap. Aku harus bangkit dan menunjukkan bahwa aku sanggup hidup sendiri, bahwa aku bisa bahagia tanpa mereka berdua. Setelah satu bulan kembali bekerja aku kemudian minta dimutasi ke Madiun, berharap bahwa di kota kecil itu aku bisa menemukan kembali kehidupanku yang hlang. Kembali menemukan kebahagiaanku yang direnggut paksa oleh dua orang yang paling kucintai dalam hidupku. Aku tidak membenci mereka, tidak pula menyalahkan mereka, tapi menghapus luka tidaklah mudah.

Inilah aku sekarang, Wanita yang tidak bisa dibilang muda, Umurku sudah 32tahun dan aku masih saja betah hidup sendiri. Aku masih butuh waktu untuk menyembuhkan luka ini, entah berapa lama lagi waktu yang kubutuhkan. Aku akan terus menunggu sampai luka ini tak lagi terasa perih meskipun itu membutuhkan waktu seumur hidupku.