Recovery :: When I Can’t Forgive

Recovery :: When I Can’t Forgive
Salah Paham. Kedua kata itu masih terus berputar di otakku. Kedua kata itu pula yang telah menghancurkan hidupku. Kedua kata itu yang telah membuatku hilang akal. Aku masih tidak habis pikir, bagaimana bisa semuanya menjadi sedemikian rumit?

Setelah berpesta gila-gilaan merayakan ulang tahunku yang ke 32, teman-temanku pamit kembali ke Jakarta, dan aku kembali sendiri sepeninggal mereka. Pikiranku kembali menerawang, menarik mndur semua cerita. Dan akhirnya bermuara pada perkataan Bagas bahwa semuanya hanyalah salah paham yang harus aku, Dimas, Sherin dan Galih selesaikan. Aku sendiri bukannya tidak ingin mengetahui alasan sebenarnya mengapa Dimas setega itu meninggalkanku dihari pernikahan kami, tapi egoku ternyata lebih kuat mempengaruhiku. Aku terlalu angkuh untuk bertanya. Terlalu mementingkan harga diri. Aku tak ingin dia tau bahwa sampai sekarang aku masih sering menangis merasakan sakit karena terlalu merindukan dekapan hangatnya, kecupannya dan senyumnya yang menawan. Semuanya terlalu menyakitkan untuk kuingat, tapi semakin aku berusaha melupakan, justru semakin kuat kenangan itu menari di otakku.

Setelah aku bersusah payah berusaha menyembuhkan luka ini, kenapa mereka justru datang lagi dan mengusikku? Mengapa baru sekarang mereka berkata bahwa semuanya hanya salah paham? Tidak tahukah mereka bahwa aku hancur, aku terluka parah dan nyaris kehilangan akal sehatku karena ulah mereka? Ketika luka ini sudah mulai mengering, mengapa mereka tumpangi lagi dengan bara api?

Mungkin benar, aku sudah tidak bisa memaafkan mereka lagi. Memaafkan. Mengapa kata sederhana itu menjadi sulit untuk kulakukan? Aku masih menjaga jarak dari semua cinta yang bisa saja membuatku kembali terjatuh. Aku masih memendam kepahitan yang sangat setelah pernikahan itu batal tanpa alasan jelas. Aku terlalu mencintai Dimas, dan antara cinta dan benci itu hanya ada selaput tipis yang mudah koyak. Selaput tipis itu mungkin sekarang sudah mulai koyak, karena kini aku mulai bimbang dengan hatiku sendiri. Ada kalanya aku begitu merindukan sosoknya, tapi tak jarng mengingatnya justru membuatku semakin terluka. Entahlah, aku sendiri bingung dengan apa yang kini kurasakan. Semuanya terlalu rumit untuk dijelaskan.

Akhirnya hari baru di bulan yang yang baru tiba. Hari Senin tanggal 1 November. Siapa sih pegawai negeri yang tidak suka tanggal satu di hari senin? Aku suka kok hari senin. Hari Senin berarti pekerjaanku menumpuk untuk dikerjakan. Kesibukan akan membuatku melupakan sejenak segala rasa sakit hati dan mengusir sejenak segala kesendirian. Aku selalu suka hari Senin. Pagi itu aku tengah bersiap mengenakan seragamku saat tiba-tiba ada yang memencet bel di gerbang rumahku. Setengah berlari kulangkahkan kaki menuju ruang depan untuk melihat siapa yang datang sepagi ini. Kubuka pintu ruang tamu dan berjalan menghampiri gerbang. Seorang pria berdiri di sana. Aku sepertinya pernah mengenal pria ini, tapi dimana? Aku samar-samar ingat pernah bertemu dengannya, tapi aku tak ingat siapa dia dan dimana kami pernah bertemu.
“Mbak Shasha??”ujar pria itu
“Maaf, anda siapa?”tanyaku.
Pria itu diam, sebelum akhirnya mendesah. Dari suaranya terdengar dia menyimpan beban berat yang tak terkatakan.
“Aku Galih mbak, suaminya Sherin, adikmu. Mbak ingat aku?”
Aku terkejut mendengar jawabannya. Galih? Galih Grandana? Suami Sherin? Apa-apaan ini?! Aku masih terpaku mendengar jawabannya sementara dia menatapku cemas.
“Mbak, kita harus bicara. Berempat, agar semuanya jelas.”lanjutnya.
“Sorry, aku nggak bisa. Aku sibuk. Silahkan datang lain kali saja, atau jangan pernah lagi datang kemari. Aku tidak butuh penjelasan apapun darimu, Sherin ataupun Dimas. Bilang pada mereka, jangan harap aku mau mendengarkan omong kosong apapun. Silahkan tinggalkan tempat ini karena aku mau kerja.”balasku dingin. Aku kemudian berbalik meninggalkan Galih yang masih diam di depan pagar rumahku. Dia kemudian berteriak, “Mbak, setidaknya dengarkan dulu, setelah itu kalau mbak tidak mau memaafkan kami, itu urusan mbak Shasha. Tolonglah mbak, beri kami kesempatan untuk bicara.”. aku tetap diam dan melanjutkan langkahku kembali masuk ke rumah. Sampai di dalam rumah, mati-matian kutahan emosi yang mulai menggelegak.

Penjelasan, kenapa baru sekarang hah?! Aku sudah tidak membutuhkan itu lagi. Sudah cukup segala omong kosong yang ingin kalian katakan. Aku sudah cukup terluka tanpa perlu kalian tambahi dengan omong kosong tidak bermutu kalian. Perlahan kuatur kembali moodku yang berantakan. Kusibakkan gorden untuk melihat apakah dia telah pergi, tapi hatiku mencelos ketika kulihat Galih masih kukuh berdiri di depan gerbang rumahku, menungguku untuk mendengar penjelasannya.

Aku menghela nafas panjang sebelum akhirnya menelepon kantor untuk minta ijin barang satu dua hari. Dengan alasan sakit, akhirnya permohonan ijinku dikabulkan. Hari ini kuputuskan untuk stay di rumah. Aku tak berani keluar rumah barang sedetikpun. Takut kalau tiba-tiba Galih langsung menyeretku untuk bertemu dengan Sherin dan Dimas. Sudah cukup empat tahun ini kutanggung luka sendirian, kenapa masih juga mereka tak puas dan datang lagi mengusik hidupku?

Hari ini benar-benar bencana untukku. Ternyata Galih lebih keras kepala dibandingkan Sherin ataupun Dimas. Ini sudah hampir pukul lima sore dan dia masih saja bertahan di depan pagar rumahku. Sebenarnya aku kasiahan melihatnya, tapi egoku melarang untuk membiarkannya masuk dan mendengar perkataan apapun yang keluar dari mulutnya. Aku masih belum bisa menerima penjelasan apapun yang nantinya akan dikatakan olehnya. Bagiku sudah cukup dugaanku sendiri bahwa mereka memang berencana menghancurkan hidupku. Titik. Tida ada penjelasan lainnya. Aku egois memang untuk hal yang satu ini. Aku hanya tidak ingin terlalu lama bersedih dan larut dalam luka. Aku akan tunjukkan pada semua orang kalau aku bisa bangkit, aku bisa bertahan, meskipun hatiku telah remuk. Sekali lagi kusibakkan gorden untuk melihat apakah Galih masih di luar atau tidak, ternyata anak itu masih di luar, duduk di atas kap mobilnya sambil merokok. Ini sudah hampir gelap, tapi dia masih bertahan di sana. Rasanya aku ingin mengajaknya masuk, risih diliht oleh tetangga. Lalu kusingkirkan egoku sementara, aku membuka pintu dan melangkah keluar.
“Gal, aku ga nyangka kalo kamu keras kepala seperti ini. Baiklah, ayo masuk, aku akan dengarkan penjelasanmu.”
Galih tersenyum mendengar apa yang baru saja kukatakan. Dia kemudian beranjak dari tempatnya duduk menungguku lalu berjalan masuk ke rumah mengikutiku. Kupersilahkan dia duduk kemudian mengambil segelas air minum untuknya. Setelah dia selesai minum kutatap dia. Dia lalu menghela nafas. Terdengar sangat berat dan sarat beban. Kutatap matanya dengan sorot menunggu. Iya, aku menunggu apa yang akan diucapkannya. Dia masih terdiam, belum juga mengeluarkan suara. Kemudian dikeluarkannya sebungkus rokok, lalu menatapku dan bertanya, “Boleh merokok kan mbak?”.
Aku hanya menganggukan kepala, lalu mengambil asbak dipojok ruang tamu. Kuambil rokok milikku sendiri, lalu kunyalakan lighter dan menghisap rokokku. Dia tampak terkejut melihatku merokok. Iya, sejak pindah ke Madiun aku jadi perokok juga. Ini adalah salah satu pelarianku, meskipun tidak bisa menyembuhkan luka hati, setidaknya benda ini mampu mengurangi stress yang kurasakan. “Sejak kapan mbak Shasha merokok? Bukankan dulu mbak paling tidak suka melihat perempuan merokok?”tanya Galih.

Aku hanya tersenyum kecut mendengar petanyaannya. Dulu memang iya, aku benci melihat perempuan merokok, tapi sejak aku merasakan bahwa dikhianati itu menyakitkan, aku mulai merokok. Merokok untuk menghapus rasa sakit, untuk pelarian. “Sejak aku tau kalau dikhianati oleh adik sendiri itu menyakitkan.”sahutku tajam. Kulihat dia tetegun mendengar jawabanku. “Cepet katakan apa yang mau kamu katakan tadi. Waktuku tak banyak, aku ada urusan setengah jam lagi.”kataku. dia menghela nafas lagi dan menhisap rokoknya dalam sebelum mulai bicara.
“Ini semua berawal dari kesalahanku dan Sherin mbak, jangan libatkan mas Dimas juga. Dia hanya korban dari kebodohanku mbak.”ucapnya. “Jangan coba-coba menutup-nutupi kesalahan laki-laki itu Gal, katakan semuanya sekarang atau jangan pernah katakan sama sekali.”sahutku. “Tolong mbak, dengarkan dulu semuanya. Ini semua tidak seperti apa yang mbak Shasha bayangkan selama ini.”jawabnya.
“Jangan berkata seolah kamu tahu apa yang selama ini kupikirkan Gal, kamu tidak tahu betapa hancurnya aku saat itu. Jangan bersikap seolah apa yang sudah kalian bertiga lakukan itu hanya masalah sepele.”ucapku tajam. Mati-matian kutahan emosi agar tidak berteriak padanya.
“Mbak tolong jangan potong perkataanku dulu. Aku berusaha melihat semuanya dari sudut pandang mbak Shasha juga.”
Aku diam, tidak menyahut perkataannya barusan. Kubiarkan dia mengucapkan apa yang ingin diucapkan. Aku memang mau mendengarkan, tapi bukan berarti aku mau memaafkan mereka. Galih kemudian diam, dia tampak bingung mau menjelaskan darimana. Kulihat dari matanya tampak keraguan.
“Mas Dimas sebenarnya hanya mencoba membantu mbak, ga lebih. Dia juga berat melakukan ini semua. Kalau bukan karena aku yang pengecut, tidak mungkin dia melakukan ini semua mbak. Dia tahu kalau Sherin mengandung, lalu dia bertanya apakah aku ayah dari bayi yang dikandungnya. Sherin tidak mau menjawab waktu itu mbak, dia takut. Dia takut mengecewakan mbak Shasha. Dia takut mbak, makanya dia tidak memberitahumu waktu itu. Dia malah memberi tahu mas Dimas, karena selama ini mas Dimas tahu kalau hubunganku dan Sherin itu tidak sehat. Kami mengambil langkah yang salah untuk mengekspresikan cinta kami. Lima bulan sebelum hari pernikahan mbak dan mas Dimas, aku dan Sherin kepergok mas Dimas waktu melakukan itu di ruang tamu rumahmu mbak. Makanya sejak saat itu Sherin selalu ketakutan kalau mas Dimas bakal ngasih tau mbak Shasha.”
Galih diam sejenak kemudian menghela nafas untuk kembali melanjutkan ceritanya.
“Tapi waktu itu aku terlalu pengecut mbak. Aku terlalu pengecut untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah kuperbuat. Waktu Sherin bilang kalau dia hamil, aku berusaha untuk selalu mengelak, bahkan memintanya untuk menggugurkan bayinya, tapi dia menolak. Dia tak mau membunuh buah cinta kami mbak. Dia bahkan sempat bilang, kalau aku tidak mau menikahinya, dia akan membesarkan anak itu sendiri. Jujur, waktu itu aku masih ragu dengan diriku sendiri, karena waktu itu aku bahkan belum wisuda. Bagaimana mungkin aku bisa menghidupi anak dan istri kalau diri sendiri masih bergantung pada orang tua? Itu yang kupikirkan mbak. Iya, aku memang egois dan picik.” Galih kemudian tersenyum getir. Matanya mulai menampakkan lapisan bening yang siap luruh. Mau tak mau aku ikut trenyuh melihatnya, bagaimanapun juga aku bukan manusia kejam yang tak bisa merasakan kesedihan orang lain.
“Waktu itu aku lari mbak, sembunyi dari Sherin. Tapi lama-kelamaan aku semakin merasa bersalah, apalagi kalau memikirkan bayi yang dikandungnya. Aku kemudian memberanikan diri menghubunginya, memintanya untuk bertemu. Aku bersyukur sekali waktu itu dia mau memaafkanku dan mau kembali bersamaku. Tapi aku tidak tahu bahwa dengan menghilangnya diriku selama beberapa minggu itu telah membuat keadaan menjadi sangat kacau. Maafkan aku mbak, ini semua salahku.”
Akhirnya lapisan bening itu luruh bersamaan dengan permintaan maafnya. Aku hanya bisa diam tidak menjawab permintaan maafnya. Otakku masih sibuk mencerna informasi rumit yang baru saja diterima. Jadi Dimas berusaha menyelamatkan Sherin dari rasa malu, tapi malah membuatku dipermalukan. Dia berpikir kalau aku akan menerima begitu saja alasannya itu. Kenapa harus di hari pernikahan kami? Kenapa tidak sebelumnya? Good, aku semakin mempunyai alasan untuk membenci laki-laki itu.kemarahanku terhadap Sherin memang berkurang, tapi kebencianku pada Dimas tak kunjung surut.

Aku menghela nafas sejenak sebelum akhirnya berkata, “Kalau kamu sudah selesai dengan semua yang ingin kamu katakan, silahkan keluar, aku butuh waktu untuk mencerna semua yang kamu ucapkan.”. Galih diam sejenak kemudian dengan takzim dia memohon diri dan pulang. Sepeninggal Galih aku hanya diam mencoba mencerna kembali setiap kata yang dia ucapkan. Kembali menelaah dan menggabungkan potongan-potongan puzzel di otakku. Aku memang mendengarkan, tapi bukan berarti aku bisa dengan mudah meaafkan. Aku butuh waktu lebih untuk bisa berdamai dengan hatiku sendiri sebelum berdamai dengan mereka.

Gue dan Segala Unek-unek

Gue dan Segala Unek-unek
Apa sih yang kalian cari dari bangku kuliah? Ilmu? Relasi? Atau hanya gelar semata? Kalau gue sih, jujur aja, kuliah cuma untuk nyenengin orang tua. Kenapa begitu? Soalnya gue masuk jurusan yang nggak gue banget. Gue dari dulu pengen banget bisa jadi diplomat, pengen banget kuliah di jurusan Hubungan Internasional. Tapi kenyataan berkata lain, gue harus masuk di jurusan akuntansi, yang gue sama sekali nggak ngerti. Gue dari jurusan IPA dulu waktu SMA, udah punya bayangan bakal kemana kuliah nanti, tapi semuanya mentah seketika waktu gue harus nurutin keinginan orang tua buat masuk ke jurusan akuntansi di kampus itu dengan alasan mereka memberikan beasiswa penuh selama 4 tahun alias 8 semester. Sebagai anak yang nggak pengen ngecewain orang tua, akhirnya gue daftar ke kampus itu, ikut tes dan merelakan diri nggak ngerayain kelulusan bareng temen-temen lantaran masih tes di kampus itu. Kalau ditanya apakah gue kecewa, gue bakal bilang gue sangat kecewa karena harus mengubur impian gue sejak kecil. Kalau ditanya apakah gue nyalahin orang tua gue, sangat, gue sangat menyalahkan orang tua gue yang nggak ngasih pilihan lain.
Gue kecewa, gue marah, tapi gue nggak bisa apa-apa. Kalau gue protes, yang ada mereka malah nyalahin gue balik. “Loh, kemarin mau waktu ditawarin beasiswa?” itu kalimat ampuh yang selalu bikin gue bungkam seribu bahasa. Iyalah gue mau, kalo nggak, gue juga nggak bakalan dikasih kuliah ke jurusan yang gue mau. Sama aja. Gue nggak dikasih pilihan selain menerima dengan setengah, eh buka, 10% kerelaan hati. Gue suka ngiri sama kakak gue yang diijinin kuliah di jurusan yang dia mau. Dia selalu bisa jadi anak yang bisa diandalkan, selalu jadi kesayangan. Sedangkan gue, anak pemberontak yang selalu bikin ulah, penyakitan, cacat, malu-maluin keluarga, bodoh dan paling tidak diinginkan. Gue capek berada ditengah-tengah anak kebanggaan orang tua seperti kakak dan adek gue, gue capek selalu dibanding-bandingin. Gue satu-satunya yang nggak punya prestasi apapun, yang nggak bisa membuat orang tua gue bangga nyebut nama gue.
Bukan cuma sekali gue kepikiran buat bunuh diri, pikiran itu selalu mampir diotak gue, bahkan sejak gue SD!! Gue selalu dituntut untuk jadi seseorang yang mereka inginkan. Gue bahkan nggak boleh nentuin sendiri sekolah lanjutan mana yang gue mau. Semuanya sudah diatur, dan gue harus nurut. Hey, bukan hidup seperti ini yang gue mau. Gue punya jiwa yang ingin bebas. Gue punya definisi hidup gue sendiri, dan yang pasti bukan hidup seperti yang gue jalanin sekarang! Kalau gue masih bertahan, ini karena gue masih menghargai mereka sebagai orang tua gue, tapi nanti kalau mereka mulai memaksa gue lagi, nggak tau deh gue masih bisa bertahan atau tidak. Gue benci kenyataan bahwa gue dilahirkan dalam kondisi seperti ini, gue benci kenyataan bahwa gue selamanya nggak bakalan bisa benci sama orang tua gue. Gue benci sama diri gue sendiri yang nggak bisa berjuang mempertahankan mimpi gue sendiri! Persetanlah sama dosa atau apapun, gue bener-bener pengen mati sekarang!!