Walk On

Walk On
Hari hampir gelap ketika seorang yeoja berjalan menyusuri pantai di kawasan Incheon itu sendirian. Tangannya berusaha memeluk sendiri tubuhnya sementara rambutnya berkibar tertiup angin. Yeoja itu berjalan dan terus berjalan sambil menundukkan kepalanya. Perlahan air matanya luruh menganak sungai membanjiri wajahnya, tak lama kemudian dia menjerit histeris. Tubuhnya ambruk, kakinya sudah lelah berjalan dan kini dia membiarkan air asin itu membasuhnya. Tangan yeoja itu gemetar ketika dia mencoba meraih tas yang disandangnya. Air asin itu sudah membasahi tasnya dan juga hampir seluruh tubuhnya yang masih terduduk di tepi pantai. Dia mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru, membukanya dan tersenyum getir. Sebuah cincin, foto seorang namja yang tersenyum lebar dan sebuah test pack. Ketiga benda itu membuatnya kembali pada masa yang membuatnya sangat bahagia dan juga ke dalam masa paling menyedihkan dalam hidupnya.

Flashback
“Yejin-ah, menikahlah denganku.”
Seorang namja tengah berlutut dihadapan yeojachingunya sambil membuka sebuah kotak berisikan cincin emas putih yang cantik. Yeoja bernama Yejin itu tersenyum dan tersipu malu membuat pipinya bersemu merah. Kemudian yeoja itu meminta namja itu berdiri.
“Ne, Jinki oppa. Aku mau menikah denganmu.” Yejin kemudian mencium pipi namjanya setelah mengatakan jawabannya.
Jinki tersenyum dan kemudian menenggelamkan yeoja mungil itu kedalam pelukannya. Malam itu mereka habiskan berdua dan merancang masa depan bersama.
Flashback end

Yeoja itu kemudian memakai cincin yang ada di dalam kotak itu. Dia kemudian berdiri dan menatap langit yang sudah berubah warna menjadi kelabu kehitaman. Telunjuknya teracung ke atas, tatapan matanya menunjukkan sorot frustasi yang sangat dalam. Dia kemudian berteriak sambil terus mengacungkan telunjuknya ke langit.
“Apa salahku sehingga Kau begitu jahat padaku? Mengapa Kau mengambil semua yang kumiliki? Apa Kau puas sekarang melihatku sendiri seperti ini? Kembalikan tunanganku! Kembalikan Jinki oppaku!”

Yeoja itu kembali jatuh terduduk, napasnya memburu setelah meneriakkan rasa frustasinya. Tepat hari ini, dua tahun lalu seharusnya dia menikah dengan Lee Jinki, tunangannya, di tempat ini. Tapi segalanya berubah. Belum sempat mereka mengukuhkan cinta dalam janji pernikahan, Jinki meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas ketika sedang dalam perjalanan menjemputnya dari Seoul menuju Incheon untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Yejin tentu saja begitu terpukul. Dia bagaikan kehilangan separuh jiwanya. Bahkan ada sesuatu yang belum sempat dia sampaikan pada tunangannya itu. Hal yang sangat penting.

Yejin kembali histeris. Dia memeluk lututnya sambil terus menangis. Dilepaskannya cincin itu dan kembali dimasukkannya ke dalam kotak. Tangannya kemudian meraih test pack bergaris dua itu.

Flashback
Yejin kembali merasakan mual. Sudah lebih dari dua minggu ini dia terus mengalami ini. Dia mulai curiga, apakah ini morning sick yang biasanya dialami oleh orang hamil?
Hamil sekarangpun tak masalah, toh bulan depan aku akan menikah dengan Jinki oppa, bagaimanapun juga ini kan buah cinta kami, kata Yejin dalam hati. Yeoja itu kemudian membuka laci meja riasnya. Dua buah test pack ada di sana. Diambilnya satu dan kemudian kembali lagi ke kamar mandi. Senyumnya terkembang saat mengetahui ada dua garis yang muncul di sana. “Aku kan memberitahunya setelah upacara pernikahan kami” kata Yejin kepada dirinya sendiri. Tetapi ternyata takdir tak berpihak padanya. Seminggu sebelum pernikahan yang telah mereka rancang bersama itu akhirnya tak pernah terlaksana karena kecelakaan fatal yang terjadi pada Jinki dan membuatnya meninggal di tempat, tak ada luka di tubuhnya, hanya saja hantaman keras pada dada kirinya cukup untuk raga terpisah dari jiwanya.
Yejin tidak menangis ataupun berteriak histeris ketika mendengar berita itu. Dia hanya diam, terlalu shock dengan kepergian tiba-tiba dari namja yang telah memberikan kebahagiaan dan melangkah bersamanya lima tahun terakhir.
Namja itu bahkan telah pergi sebelum dia tahu bahwa dalam rahim yeojanya telah tumbuh benih yang telah ditanamnya.

Yejin seperti kehilangan kesadarannya. Tatapan matanya kosong, dia bahkan nyaris tidak makan, minum dan berbicara selama hampir tiga hari lamanya sampai pertahanannya runtuh, akhirnya dia menjerit histeris dan pingsan.
Setelah siuman, Yejin kembali menjerit histeris memanggil nama Jinki. Karena takut Yejin akan berbuat nekat, keluarganya tidak memberitahu Yejin bahwa abu kremasi Jinki sudah ditaburkan di pantai yang rencananya akan menjadi tempat mereka mengikat janji setia.

Berhari-hari Yejin menjalani kehidupannya seperti zombie. Dia benar-benar tertekan dan kehilangan. Dia bahkan lupa bahwa dirinya tengah mengandung. Sampai suatu hari dia merasakan perutnya begitu sakit sampai dia tak sanggup berdiri. Darah kemudian mengalir diantara kedua kakinya. Yejin menjerit sebelum akhirnya pingsan. Satu lagi nyawa terenggut dari kehidupannya.
Flashback end

Yejin tergugu mengingat semua kejadian itu satu persatu. Tubuhnya bergetar hebat. Tangisnya meledak. Dia menjerit tak terkendali. Pertama dia kehilangan namja yang telah membawa separuh jiwanya, kemudian dia kehilangan bayi yang bahkan belum sempat dia lihat wajahnya. Semuanya terlalu menyesakkan bagi Yejin. Pernah terbersit dalam pikiran Yejin untuk menghentikan langkah kakinya dan menyerah. Tetapi ketika pikiran itu datang, dia seperti mendengar Jinki berbisik di telinganya memintanya untuk terus berjalan dan melanjutkan hidupnya. Hanya itu yang selama ini menjadi kekuatannya untuk terus berjalan, untuk terus memiliki asa. Tetapi hari ini semuanya kembali terasa berat untuk dilalui.

Yejin masih terus terduduk membiarkan air asin yang semakin lama semakin dingin terus membasahi tubuhnya yang mulai menggigil. Dia tengadahkan wajahnya ke atas melihat langit yang mulai menampakkan bintang. Perlahan dia merebahkan tubuhnya di pasir basah. Matanya menatap jauh ke arah bintang-bintang yang berpendar. Ada dua bintang yang bersinar paling terang.
“Kau kah itu oppa? Apakah kau bertemu dengan anak kita? Bagaimana rasanya mati itu? Apakah menyakitkan?” Yejin bertanya sambil terus menatap bintang tersebut. Yejin merentangkan kedua tangannya seperti berusaha meraih bintang-bintang itu. Ombak kembali mengantarkan air asin membasuh tubuhnya yang mulai mendingin. Angin malam yang dihantarkan oleh lautan membuatnya semakin merasa dingin.

Tangan Yejin kembali turun dan kini memeluk tubuhnya sendiri. Dipejamkan matanya. Bahkan dalam keadaan sadar seperti ini kilasan-kilasan kejadian itu masih terasa sangat nyata. Kejadian saat Jinki memintanya menjadi kekasih, saat pertama kali mereka berkencan, saat Jinki melamarnya, saat mereka bercinta untuk pertama kalinya di hari ulang tahun Jinki. Semuanya masih terlalu lekat dalam ingatan Yejin. Semakin keras dia mencoba melupakan, semakin berat hatinya untuk melepaskan. Dan kilasan kejadian yang paling mengguncang jiwanya itu juga kembali berputar dalam ingatannya. Bagaikan roll film yang diputar, semuanya seperti terlihat nyata di depan mata. Entah dari mana asalnya, air mata itu terus tumpah.

“Oppa bogishiposo. Oppa nan jeongmal saranghaeyo. Kajimayo oppa.” Bisik Yejin pelan.
“Aku tak pernah pergi Yejin-ah”
Yejin membuka matanya mendengar suara seseorang yang sangat dicintainya. Dia menolehkan kepalanya ke kanan, di dapatinya namja itu terbaring di sebelahnya dan kini tersenyum sambil memandangnya.
“Nado bogoshiposo. Nado saranghaeyo. Uljima, aku tak akan pernah pergi Yejin-ah. Aku selalu ada di sini, di hatimu.” Namja itu tersenyum kemudian melanjutkan kata-katanya, “Sekarang sudah waktunya kau berjalan sendiri, tanpa aku. Sekarang saatnya bagimu untuk melanjutkan langkahmu, tanpa aku. Waktuku untuk mendampingimu sudah berakhir. Sekarang waktunya bagimu untuk melepaskan segalanya tentangku. Sekarang waktunya bagimu untuk membebaskan dirimu dari kungkungan masa lalu. Berjanjilah untuk terus melanjutkan langkahmu. Jangan pernah berpikir untuk berhenti, karena aku akan terluka jika kau berhenti karena diriku. Aku mencintaimu Yejin-ah, aku mencintaimu selamanya.”
Yejin diam, dia mencoba meraih namja yang kini berbaring di sampingnya, tapi sia-sia. Tak ada siapapun di sana.

“Aku tak menyalahkanmu karena kau kehilangan bayi kita, karena kau bahkan tidak memberitahuku tentang bayi yang kau kandung itu. Ini semua takdir, jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Takdir yang mengharuskan kita seperti ini.”
Suara namja itu kembali terdengar, kali ini dia berbaring di sisi sebelah kiri Yejin.
“Oppa mianhae…”
“Aku tak menyalahkanmu Yejin-ah. Sekarang lepaskan aku agar aku juga bisa melanjutkan langkahku. Kau juga harus melanjutkan langkahmu, tunjukkanlah padaku tempat yang belum sempat kita lalui bersama selama kita melangkah bersama. Ketahuilah, aku tak pernah meninggalkanmu. Aku selalu ada di hatimu. Mungkin kau tak akan lagi bisa melihatku, tapi nanti ketika angin bertiup hangat, tandanya aku sedang mengunjungimu. Saranghaeyo Song Yejin, annyeong… ”
Perlahan bayangan namja itu memudar dan lenyap. Yejin kembali memeluk dirinya sendiri. Untuk beberapa saat dia kembali memejamkan matanya. Membulatkan tekad untuk melepaskan semua kenangannya bersama namja itu. Diambilnya kotak biru itu. Ditatapnya sekilas foto Lee Jinki, namja yang begitu dicintainya. “Saranghaeyo oppa…” kata Yejin sebelum menutup kotak itu. Yejin kemudian bangkit berdiri, berjalan pelan ke arah air yang bergulung pelan ke tepian. Dia berhenti setelah setengah tubuhnya telah terendam air. Diciumnya kotak biru yang menyimpan sejuta kenangan bersama dengan kekasihnya itu. Dengan sekuat tenaga dilemparnya kotak biru itu ke tengah laut. Berharap bahwa semua kenangan yang telah dilepaskannya akan membuatnya semakin mudah untuk kembali melangkah.

Kotak itu sudah tak tampak lagi dari tempat Yejin berdiri. Perlahan dia melangkah menjauh. Wajahnya tak lagi tertunduk seperti sebelumnya. Ada satu titik cahaya yang menjadi tujuannya kini. Setelah melepaskan semua kenangan itu, langkahnya terasa lebih ringan. Kakinya terus melangkah menuju sumber cahaya di depannya. Di sana telah menunggu seorang namja yang selalu menjadi tempatnya bersandar dua tahu terakhir ini. Seorang namja yang dengan sabar membimbingnya melangkah lagi, seorang namja yang dengan besar hati mau menerimanya dengan segala masa lalu yang dimilikinya. Namja itu dengan sabar menungguinya tanpa sedikitpun mengusiknya menikmati kesendirian yang membuatnya merasa utuh. Namja itu masih di sana, dengan sabar menantinya kembali. Yejin mempercepat langkahnya. Langkah kaki itu kini berubah lebih cepat, dan akhirnya Yejin berlari menghampiri namja bermata kucing itu, Kim Kibum. Yejin terus berlari dan akhirnya menjatuhkan tubuhnya yang lelah dan basah itu dalam pelukan Kibum. Kibum tersenyum dan terus memeluk Yejin, berharap pelukannya bukan saja menghangatkan tubuh yeoja yang dicintainya itu, tapi juga menghangatkan hatinya.

Yejin berjinjit pelan dan memeluk leher Kibum dengan kedua tangannya yang dingin dan basah.
“Aku akan terus melangkah Kibum-ah, maukah kau menemaniku?” bisik Yejin di telinga Kibum.
Kibum tersenyum dan mengangguk. Perlahan Yejin menautkan bibirnya ke bibir Kibum. Keduanya saling melumat pelan, sebelum akhirnya mereka pergi menjauh dari pantai itu dan melanjutkan langkah bersama.
TAMAT

Iklan

Recovery :: Everything is clear?

“Beri aku waktu setidaknya tiga bulan untuk mencerna semuanya. Aku tidak akan lari dari kalian lagi.” Kata-kata yang baru saja ku ucapkan sambil mengantar kepergian Galih masih terngiang di telingaku. Bagaimana mungkin aku bisa mengucapkan janji yang aku sendiri entah sanggup menepatinya atau tidak?! Aku memang butuh waktu, tapi aku juga tidak yakin tiga bulan cukup membuatku berdamai dengan hatiku. Selama ini kupikir aku sudah mampu memaafkan mereka, mampu melupakan segalanya, ternyata aku salah. Bahkan hanya mendengar nama mereka sudah membuatku sakit, apalagi bertemu dengan mereka secara langsung seperti beberapa hari yang lalu.
Tiga jam sudah berlalu sejak kepulangan Galih. Ini sudah pukul sepuluh malam dan aku masih saja duduk sambil memeluk lututku di sofa ruang tamu. Tiba-tiba ponselku berdering, membuyarkan semua lamunanku. Aku beranjak perlahan ponsel yang kuletakkan di meja depan televisi. Ada panggilan dari nomor tak dikenal.
“Halo,”sapaku pelan.
“Ini benar nomornya Shasa?”jawab seseorang di seberang sana, laki-laki.
Aku terkesikap mendengar suara lelaki itu. Meskipun sudah bertahun-tahun tak pernah lagi mendengar suaranya, aku yakin itu pasti dia. Untuk apa dia meneleponku? Bukankah aku sudah bilang pada Galih bahwa aku butuh waktu untuk berpikir? Mengapa lelaki itu tak mau menunggu? Apa yang harus kukatakan?
“Iya, saya Shasa. Anda siapa?”jawabku. kutahan emosiku agar suaraku tidak bergetar.
“Aku Dimas Sha. Kamu masih ingat kan?”
“Dimas? Dimas siapa ya?”
Terdengar helaan nafas berat yang sarat beban dari seseorang di seberang sana. Aku bukannya tidak mengenali suara itu, hanya saja egoku tidak mengijinkan untuk mengakuinya. Aku sungguh merindukan suaranya. Apalagi setelah kedatangan Galih barusan, kerinduanku pada lelaki itu semakin menggila. Keheningan ini semakin menyiksaku. Aku benci keadaan hening seperti ini. Keadaan seperti ini hanya akan membuatku mengingat kembali semua kejadian menyakitkan itu. Kepingan-kepingan ingatan akan peristiwa itu kembali menari di otakku. Tanpa sadar air mata yang sedari tadi kuperintahkan untuk tetap berada di tempatnya, kini telah meluncur turun tanpa mampu kubendung. Aku menangis dalam isakan pelan sebelum akhirnya meraung dengan ponsel yang masih belum berpindah tempat dan masih tersambung dengan lelaki yang membuatku menangis itu. Aku jatuh terduduk memeluk lututku. Masih bisa kudengar suara gelisah dari seberang sana yang bertanya apakah aku baik-baik saja sebelum akhirnya ponselku jatuh terlepas dari genggamanku. Ingin aku berteriak aku tidak baik-baik saja. Tidak akan pernah baik-baik saja setelah aku kehilangan dirinya. Tangisku semakin menjadi. Aku telah tenggelam dalam duniaku sendiri, duniaku yang hanya dipenuhi luka dan kepahitan hidup, sehingga tak menyadari ada seseorang yang telah menerobos masuk ke dalam rumahku.
Sepasang tangan kekar merengkuhku. Aku masih terisak, sehingga tidak membalas pelukannya. Aroma tubuh dari seseorang yang memelukku ini sangat familiar, wangi yang sangat kurindukan. Tangan yang tadi merengkuh bahuku kini berpindah membelai pelan kepalaku dan berbisik dengan suara parau, “Sha, maaf. Maafin aku.”
Dia telah melihatku kacau seperti ini, apalagi yang bisa membuatku mampu berdiri dengan angkuh di depannya lagi seperti beberapa hari lalu? Aku masih menangis tanpa menghiraukan permintaan maaf dan pelukannya. Malam itu aku menangis sampai dadaku terasa sesak. Terakhir kali aku menangis seperti ini saat Dimas meninggalkanku di depan altar pernikahan kami dan sekarang aku menangis seperti ini karena kedatangannya yang tiba-tiba dan tidak bisa kuantisipasi.
Dimas membimbingku berdiri ketika dirasakannya tubuhku mulai lemas. Aku merindukan lelaki ini, sungguh. Tapi egoku melarangku untuk mengatakannya. Perlahan, isakanku mulai mereda dan lelaki itu, Dimas, masih memelukku. Seakan takut bahwa sedetik saja dia meninggalkanku, aku akan lari. Ya Tuhan, betapa aku merindukan saat-saat dia memelukku seperti ini.
Dimas perlahan mengangkat wajahku. Disejajarkannya wajahnya dengan wajahku. Dengan kedua tangannya dia merengkuh wajahku dan menghapus air mata yang masih menganak sungai. “Aku memang tidak tahu seberapa besar penderitaan dan luka yang kamu alami karena perbuatanku, tapi melihatmu seperti ini aku merasa bahwa kata maaf saja tak akan pernah cukup untuk menebusnya” Dimas berkata lirih. Matanya langsung menatap lembut kedua mataku yang masih dilapisi air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.
“Tolong jangan buat aku berharap lagi, Dim. Tolong..” sahutku dengan suara parau. Aku lelah. Aku sudah lelah menghadapinya. Meski tak kupungkiri bahwa hanya dia lelaki yang kucintai, tapi luka yang telah dia berikan membuatku sulit untuk percaya lagi kepadanya.
Dimas hanya terdiam. Tiba-tiba dia menempelkan dahinya dengan dahiku. Matanya terpejam, seakan mencoba untuk mencari tahu apa yang sedang kupikirkan. Sebelum aku sempat melawan, dia telah meraih salah satu tanganku dan menempelkannya di pipinya. Dapat kurasakan pipinya mulai basah oleh air matanya. Dengan suara yang bergetar dia berkata, “Maaf karena aku telah menyakitimu. Maaf karena aku mengabaikanmu begitu lama. Maaf karena cintamu padaku justru membuatmu terluka. Tapi aku tak bisa melepaskanmu begitu saja. Telah bermil-mil jarak yang kita lalui bersama, dan kuharap kamu mau kembali bersamaku melanjutkan perjalanan kita yang tertunda.”
“Aku..aku tidak yakin bisa menyanggupinya Dim.” Melihat kesungguhan lelaki ini, egoku goyah. Oh ayolah, sudah empat tahun aku membangun dinding kokoh agar tidak mudah jatuh, tapi mengapa melihat lelaki ini menangis di depanku aku langsung goyah? Kuakui, aku masih mencintainya, sangat mencintainya dan mengharapkan saat seperti ini akan datang, tetapi ini terlalu tiba-tiba.
“Aku tidak akan memaksamu Sha, aku juga tidak memintamu menjawab sekarang. Empat tahun bukan waktu yang singkat untuk merubah hati seseorang, tapi hatiku tidak pernah berubah.” Dimas menghentikan kata-katanya sesaat. Tanganku yang tadi dia letakkan dipipinya, sekarang dia tarik turun ke dadanya. “Di sini hanya ada dirimu, dulu, sekarang dan selamanya. Aku hanya mencintaimu Sha, hanya kamu.” Lanjut Dimas.
“Ini terlalu tiba-tiba Dim, berikan aku lebih banyak waktu untuk memilah semuanya dan bertanya pada hatiku. Sekarang kamu pulanglah dulu.” Sahutku lirih. Aku tidak yakin pada hatiku sendiri, bukan pada dirinya. Lagi-lagi dia merengkuhku dalam pelukannya dan kali ini aku membalas pelukannya. Kami berpelukan cukup lama. Sampai kami sama-sama merasa tenang. Dimas mengacak pelan puncak kepalaku sebelum dia pergi. Kebiasaannya setiap kali dia hendak pergi.
Aku masih termenung ditempatku dan Dimas berpelukan tadi. Mengapa aku dengan mudahnya membiarkan lelaki yang telah membuat hidupku selama empat tahun terakhir berjalan kacau? Apakah karena aku begitu mencintainya? Dia belum menjelaskan apapun mengenai hubungannya dengan Sherin, tapi aku sudah dengan mudahnya menerima pelukan darinya. Kepalaku tiba-tiba terasa berat memikirkan itu semua. Kulangkahkan kakiku ke kamar dan merebahkan diriku di atas ranjang sesampainya di kamarku. Dalam sekejap saja mataku sudah terpejam mengantarkanku masuk ke alam mimpi.
Dering alarm membangunkanku pagi ini. Dengan enggan kuraih ponselku dan mematikan alarm. Aku menggeliat perlahan sebelum akhirnya membuka mataku. Perlahan kejadian semalam kembali melintas. Kedatangan Galih yang begitu tiba-tiba, telepon dari Dimas, dan tentu saja klimaks segala kejadian kemarin, aku dan Dimas berpelukan dan menangis bersama. Aku merutuk dalam hati, harusnya tidak seperti ini. Harusnya aku marah, harusnya aku langsung mengusirnya, harusnya aku tidak membiarkannya melihatku dalam keadaan sekacau semalam. “Arghhh…apa yang harus kulakukan kalau sampai bertemu lagi dengannya?”gerutuku pelan sambil menjambak rambutku. Kuraih kembali ponselku yang tergeletak tak berdaya di samping bantalku. Aku cuti hanya sampai hari ini saja, besok aku sudah harus kembali bekerja. Siapa yang sebaiknya kuhubungi untuk menemaniku hari ini? Aku benar-benar tidak ingin sendirian hari ini atau aku hanya akan terus teringat kejadian semalam.
Sebuah panggilan masuk saat aku sedang memilih nama yang ada di phonebook-ku. Sebuah nomor tak dikenal. Siapa lagi kali ini?
“Halo selamat pagi.”sahutku.
“Selamat pagi. Mbak ini aku, Galih.”sahut seseorang di seberang sana. Kenapa lagi anak ini, batinku.
“Ada apa lagi Gal? Dimas, kamu kan yang memberitahunya nomor ponselku?”tanyaku menyelidik. Aku yakin dia sedang tergeragap mendengar pertanyaanku. Ada jeda cukup lama sebelum akhirnya dia menyahut “Itu..aku..aku memang yang memberitahunya mbak. Aku berpikir kalau mbak harus menyelesaikan masalah antara Mbak Shasa sama Mas Dimas sebelum kita berempat bertemu.”
Aku mendengus kesal mendengar jawabannya. ‘Menyelesaikan apanya, yang ada kami menangis bersama’ seruku dalam hati.
“Mbak, Sherin ingin bicara. Bolehkah?”tanya Galih memecah keheningan.
“Tentu saja, berikan ponselmu padanya. Banyak hal yang harus kami bicarakan.”
Terdengar samar suara ponsel yang berpindah tangan dan suara anak kecil di seberang sana. Aku tersenyum tipis membayangkan kebahagian keluarga kecil adikku satu-satunya itu. Ah, andai saja tidak ada kejadian menyakitkan di hari yang seharusnya menjadi hari pernikahanku waktu itu, aku pasti juga sudah memiliki seorang anak yang lucu. Aku menggeleng perlahan mengusir kecemburuanku pada Sherin.
“Mbak, aku merindukanmu..” Sherin memulai pembicaraan dengan suara agak bergetar. Dia memang mudah menangis sejak masih kecil. Aku mengerti betul hal itu dan aku paling tidak bisa mendengarnya menangis, karena nantinya aku pasti akan ikut menangis.
“Mbak juga kangen kamu Rin. Udah, kamu jangan nangis…Kamu masih di Madiun?”sahutku sambil menahan air mata agar tidak meluncur turun.
“Masih mbak. Aku memang menetap di sini sekarang.”
Aku menarik nafas lega setelah mengetahui dia sekarang tinggal di kota yang sama denganku. Bagaimanapun juga, aku hanya memiliki dia sebagai keluargaku. Hanya dia satu-satunya saudara yang kupunya. Haruskah aku terus membiarkan egoku menolak kehadirannya terus menerus? Aku rasa tidak. Apalagi setelah akhirnya aku menerima penjelasan dari sudut pandang Galih, suami Sherin. Aku yakin dia juga menderita dan kehilangan. Setelah orang tua kami meninggal, hanya aku yang menjadi sandarannya. Ternyata memaafkan itu bisa memberikan kelegaan.
“Kamu tinggal di mana? Mbak Shasa pengen liat anak kamu.” Sahutku.
“Perum Puri Asih, blok A nomor 5 mbak. Aku kangen banget sama mbak Shasa..”ujarnya.
“Ya udah, mbak siap-siap dulu ya. Daahh..” sahutku sambil mematikan sambungan telepon. Aku kemudian bergegas mandi. Kukenakan pakaian yang jadi ciri khasku. Jeans, kaos dan sepatu kets. Aku selalu menyukai sepatu kets, bahkan sampai sekarang. Kusambar tas yang ada di meja kerjaku, lalu bersiap ke garasi mengeluarkan motor kesayanganku.
“Perumahan Puri Asih, blok A nomor 5.” Kucocokan alamat yang kucatat disecarik kertas dengan nomor rumah yang ada di depanku saat ini. Gotcha. Ini dia. Kutekan bel yang ada di pagar depan. Tak sampai semenit aku melihat Sherin membuka pintu dan dengan senyumnya yang khas dia menyambutku.
Sherin memelukku begitu aku memasuki halaman rumahnya. Dia kemudian menggamit lenganku dan menarikku masuk ke dalam rumahnya. Gadis kecilku telah tumbuh menjadi wanita cantik, batinku. Galih menyambutku di ruang tamu bersama dengan putri kecil mereka, Davina. Melihat putri kecil mereka, aku langsung merentangkan kedua tanganku. Awalnya Davina agak ragu, tapi kemudian entah apa yang dibisikan Galih, gadis kecil itu kemudian berlari ke dalam pelukanku. Aku langsung menggendongnya dan mendiumi pipinya gemas. Sherin dan Galih berangkulan dan tersenyum melihatku menggendong anak mereka.
Setelah bermain-main dengan Davina sejenak, aku kembali pada tujuan awalku untuk membicarakan masalah yang terjadi empat tahun yang lalu. Hanya aku dan Sherin. Kami bicara dari hati ke hati mengenai semua yang telah terjadi.
“Kak Dimas bukan orang jahat mbak, kalau bukan karena kak Dimas, mungkin aku dan Galih nggak bisa seperti sekarang ini. Tolonglah mbak, maafkan dia.”kata Sherin.
Aku menghela nafas panjang dan berat. Aku sudah memaafkannya, tapi sulit untuk melupakan apa yang pernah terjadi karena semuanya terlalu menyakitkan. “Aku tau Rin, aku udah maafin Dimas. Tapi untuk saat ini melupakan itu yang masih jadi ganjalananya. Aku nggak yakin sudah bisa meupakan semuanya.” Aku buru-buru melanjutkan kalimatku ketika kulihat wajah Sherin berubah sedih, “Bukan berarti aku belum memaafkanmu. Hanya kamu satu-satunya saudara yang kumiliki akan sangat menggelikan dan bodoh kalau aku sampai membencimu seumur hidup.”. Sherin tersenyum dan menarikku dalam pelukannya. Dia berbisik pelan, “Apapun yang terjadi, ikatan darah ini tak akan pernah putus mbak. Seberapa lamapun aku harus menunggu, akan kulakukan asalkan nanti mbak Shasa bisa menerimaku dengan senyuman lagi.” Dari suaranya yang bergetar, aku tau dia menangis. Aku hanya diam karena aku sendiri juga sedang menangis. Oh, betapa aku merindukan saat-saat berbagi cerita bersamanya seperti ini. Dia melepaskan pelukannya dan kami tertawa mendapati bahwa kami sama-sama sedang menangis. Kuhapus air matanya yang masih mengalir pelan dengan kedua ibu jariku dan berkata, “Aku juga tahu kau ikut terluka Rin. Maaf sudah egois dan menyalahkanmu atas semuanya.maaf aku tidak bisa menjadi kakak yang baik, maaf Rin maaf.”
Sherin hanya menatapku dan tersenyum. Tangannya terulur untuk menghapus air mata yang juga masih mengalir melalui kedua sudut mataku. Dia berujar pelan dengan suara parau “Aku juga minta maaf karena sudah membuat mbak Shasa terluka. Sudah membuat mbak Shasa menderita, sudah menjadi beban dan malah menyakiti mbak Shasa dengan perbuatanku. Aku minta maaf mbak.” Kami kemudian berpelukan lagi. Andaikan dari awal dia bisa berterus terang, andaikan dari awal aku tahu bahwa ini semuanya terjadi karena Dimas yang ingin membantu Sherin, aku tentu tak akan menanggung penderitaan dan luka selama bertahun-tahun. Tapi untuk apa semuanya disesali sekarang? Toh semuanya sudah jelas dan kembali kepada posisinya masing-masing. Dan di luar sana masih ada seorang lelaki yang menungguku untuk kembali padanya. Untuk menyelesaikan perjalanan kami yang sempat tertunda. Aku tersenyum dan menghapus air mataku. Baiklah, ternyata berbagi cerita bersama Sherin seperti ini memang bisa memberikan kelegaan dan mengubah orientasi pemikiranku mengenai lelaki itu, Dimas. Kali ini aku akan membiarkannya merengkuhku sekali lagi dan memulai perjalan baru dengannya.