Cerpen Baru (?)

“Aku suka hujan.” Kata Yejin memecah kesunyian.
“Hah? Apa?” sahut lelaki yang duduk disebelah Yejin.
“Aku suka hujan. Aku suka hawa dingin yang dihantarkan air hujan.” ulang Yejin sambil menatap wajah lelaki di sampingnya itu dengan tersenyum.
“Tapi aku tidak suka hujan. Hujan membuat semuanya menjadi muram, suram dan dingin. Musim panas kurasa lebih baik.” lelaki itu kemudian beranjak dari duduknya dan kemudian berdiri di belakang Yejin. “Tapi karena kau menyukai hujan, aku juga akan berusaha menyukainya untukmu.” bisik lelaki itu tepat di telinga Yejin sambil memeluk gadis itu erat.

Jeng jeng jeng…. Ini potongan cerita terbaru yang belum berjudul. Rencananya sih mau aku selesein liburan Natal ini. Lagi-lagi aku akan pakai nama Yejin, nama favoritku…hehehe

23 Yeah Yeah

What day is it? It’s December 13, my birthday! Kyaaaa…..
Thisday finally I’m going be 23 years old. For another girls maybe 23 years old is old enough to married, but for me this is the beginning for my new adventure. Many things will be my resolution for my 23. First, graduate from the hell university, second, find a great job and the rest is secret…ahahaha

In this 23rd birthday, I would say thanks to my Friend Milan, Dian and Menick who gave me a surprise…aw, I’m so touched guys. I never expected a surprise like that. You are the best guys…

my birthday present

my birthday present

Happy birthday to me….

blow the candles

blow the candles

Mila in Blue – Part 1 –

Mila masih diam belum beranjak sedikitpun dari tempatnya duduk sejak satu jam yang lalu. Dia tengah meyakinkan hatinya untuk mengakhiri segalanya dengan kekasihnya. Gadis itu terlalu lelah menghadapi keegoisan dari lelaki yang telah dua tahun lebih berjalan di sisinya. Semuanya telah Mila lakukan sesuai dengan keinginan lelaki itu, tapi ternyata itu tidak cukup. Lelaki itu masih menginginkan hal lain yang tak sanggup Mila berikan untuk saat ini.
Perselingkuhan lelaki itu dengan beberapa wanita selama beberapa bulan belakangan ini masih bisa dia terima, tapi ketika Mila dengan mata kepalanya sendiri memergoki kekasihnya itu sedang melakukan apa yang orang sebut dengan ‘bercinta’ dengan sekretarisnya, Mila sudah tidak bisa mentolelirnya lagi. Cukup sudah batas kesabaran Mila terhadap lelaki itu diuji. Dan hari ini dia sudah memutuskan untuk mengakhirinya.

Di sebuah kafe tempat biasanya mereka makan bersama, Mila memutuskan untuk melepaskan diri dari lelaki itu.

“Aku mau kita mengakhiri semuanya Dit. Sudah tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan dari hubungan ini.” Ucap Mila lugas setelah lelaki itu datang.

“Tunggu dulu, kamu tidak bisa seenaknya memutuskan seperti itu. Kita masih bisa memperbaikinya Mil. Aku yakin semuanya masih bisa berjalan seperti dulu lagi.” Lelaki itu, Radit, mencoba meraih tangan Mila. Gadis itu segera menepis tangan lelaki itu. Sedikitpun dia tak sudi disentuh lagi oleh lelaki yang telah melukai hatinya serta menginjak harga dirinya sebagai perempuan.

“Berjalan seperti dulu lagi? Mudah sekali kamu mengatakannya? Kamu pikir aku ini apa? Batu? Aku masih punya perasaan Dit. Kamu pikir tidak sakit rasanya melihat kekasihmu bercinta dengan wanita lain?” Mila menatap lelaki itu sengit. Mudah sekali lelaki itu untuk mengucapkan kata-kata seperti itu.

“Aku melakukan itu karena terpaksa Mil. Aku ini lelaki, aku butuh untuk menyalurkan hasrat Mil, dan kamu selalu menolak untuk melakukannya denganku. Jangan salahkan aku bila akhirnya aku melakukannya dengan orang lain.” Kali ini Radit menjawab dengan sedikit emosi. Baginya sex merupakan kebutuhan primer, dia tak bisa hidup tanpa hal itu. Dan ketika dia mulai berkencan dengan Mila, dia baru tahu bahwa ternyata prinsip hidup gadis itu bertolak belakang dengannya.

“Jadi kamu menyalahkanku karena tidak mau mengikuti kemauanmu itu? Aku tidak percaya ini… ” Mila menatap Radit dengan pandangan yang merendahkan. Cukup, dia tak punya lagi alasan untuk terus bersama dengan lelaki yang selalu merasa bahwa dirinya benar. Cukup segala pengorbanannya untuk bisa bersanding dengan lelaki itu, kini keputusannya sudah bulat untuk mengakhiri segala yang pernah ada di antara mereka berdua.

“I have no idea kenapa aku bisa tahan bersama denganmu selama dua tahun ini. Aku sudah tidak punya alasan lagi untuk terus bersamamu Dit. Jadi, mulai saat ini kita jalan sendiri-sendiri saja. Selamat tinggal.” Mila beranjak dari tempatnya duduk sambil menganggsurkan sebuah kotak yang berisi kalung pemberian Radit untuk merayakan aniversary mereka yang pertama setahun yang lalu.

Radit hanya diam masih sibuk mencerna apa yang baru saja Mila katakan. Kemudian dengan geram dia melemparkan kotak itu ke arah Mila yang sudah berjalan beberapa meter darinya. Tapi untung bagi Mila, kotak itu tak sampai mengenai dirinya. Dengan geram Radit kemudian berlari dan menarik pergelangan tangan Mila kasar.

“Kamu pikir kamu siapa seenaknya saja mengambil keputusan seperti itu? Aku sudah menyia-nyiakan hidupku selama dua tahun hanya untuk berhubungan dengan wanita kolot dan kuno sepertimu dan sekarang kamu mau pergi begitu saja setelah membuatku terlihat bodoh?” Radit meluapkan emosinya dengan berteriak di depan wajah Mila. Dia sepertinya lupa bahwa sekarang mereka sedang berada di tempat umum. Meskipun Mila yakin tak ada yang mengerti apa yang mereka bicarakan, karena mereka di Busan dan mereka berdua menggunakan bahasa Indonesia.

Mila masih diam, akal sehatnya masih bekerja dengan sangat baik untuk mencegahnya melakukan hal memalukan seperti yang kini sedang dilakukan Radit.

“Kenapa kamu diam? Kamu tidak menyangkal apa yang kukatakan? Hanya aku lelaki yang sanggup bersamamu Mil. Aku jamin di luar sana tak ada lelaki yang bisa tahan menghadapi sikapmu seperti halnya aku.” Kini diwajah Radit terukir senyum kemenangan. Dia masih belum menyadari kondisinya saat ini. Semua orang di dalam kafe itu kini telah melihat ke arah mereka berdua yang berdiri tepat di depan pintu masuk.

Mila yang merasa risih dengan tatapan pengunjung kafe, kini berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Radit.

“Kamu lihat, kamu sedang mempermalukan dirimu sendiri di tempat umum. Aku diam karena tidak ingin membuatmu semakin terlihat memalukan. Bukan aku yang mempermalukan dirimu, tapi kamu sendiri.” Bisik Mila tajam setelah berhasil lepas dari Radit. Gadis itu kemudian langsung berbalik dan keluar dari kafe. Radit yang sudah terlanjur kalap kini mengejar Mila keluar.

“Wanita jalang, lihat saja nanti kamu akan mengemis untuk bisa kembali kepadaku. Dan saat kamu memintaku untuk kembali aku akan menolakmu. Kamu dengar itu? Lihat saja kamu tak akan mendapatkan lelaki yang sanggup menghadapimu seperti aku. Hanya aku lelaki yang sanggup bertahan bersamamu.” Radit berteriak kalap melihat Mila terus berjalan tanpa mengindahkan perkataannya. “BRENGSEK.” Teriak Radit frustasi ketika Mila tak sedikitpun menoleh kepadanya. Dia tak pedulikan orang-orang yang memandanginya dengan tatapan aneh.

Sementara itu Mila sudah berjalan menjauh. Dia sengaja tidak menoleh ataupun berhenti karena dia sedang menangis. Dia tidak ingin lelaki itu merasa menang melihat wajahnya dipenuhi air mata. Dengan tergesa gadis itu berjalan. Tidak dia perhatikan jalanan di depannya, wajahnya terus menunduk dan tangannya menghapus air mata yang terus mengalir perlahan.

Seakan langit benar-benar sedang mengujinya, dia menyeberang jalan tanpa melihat apakah masih ada kendaraan atau tidak. Beruntung baginya ketika kakinya hendak melangkah lebih jauh, sepasang tangan menariknya tepat sebelum sebuah bus yang tengah melaju kencang itu menyambarnya. Mila masih memejamkan matanya, di tak sadar bahwa tubuhnya sedang menindih seseorang yang baru saja menyelamatkan nyawanya. Gadis itu terlonjak kaget saat seseorang menepuk bahunya dan bertanya,

“Kau baik-baik saja?”

Menyadari bahwa dirinya masih berada di atas orang yang menyelamatkannya, Mila kemudian bangkit berdiri dan menggumam bahwa dia baik-baik saja. Mila kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu orang itu berdiri.

“Maaf…” ucap Mila lirih. Hanya kata itu yang terlintas dipikiran Mila. Wajahnya masih tertunduk dan sesekali tangannya mengusap pelan kedua pipinya.

“Kau yakin kau baik-baik saja?” tanya orang itu lagi. Dia tidak yakin gadis yang baru saja di tolongnya itu dalam kondisi yang baik-baik saja, apalagi ketika matanya tak sengaja melihat gadis itu berkali-kali menyeka air matanya.

“Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menyelamatkanku.” Sahut Mila lirih sambil menahan getaran suaranya. Gadis itu kemudian membungkukkan badan dan berbalik pergi. Dia kembali berlari tergesa. Pulang, kata itulah yang berputar di otaknya kini. Secepatnya dia ingin berada di apartemennya untuk menumpahkan segala kegelisahan yang berkecamuk di hatinya.

Apartemennya berjarak lima blok dari tempat itu. Dengan sekejap saja dia sudah berada di dalam lift yang akan membawanya ke lantai lima tempat dimana apartemennya berada. Air mata terus saja membanjiri wajahnya. Dia tidak menangis karena sedih kehilangan lelaki yang telah menjadi pusat kehidupannya selama dua tahun terakhir ini, tetapi dia menangisi kebodohannya karena telah begitu mempercayai lelaki brengsek seperti Radit. Lelaki itu memang tampan, pintar dan kaya, tetapi semua itu tak ada artinya karena perangainya buruk.

Sesampainya Mila di dalam apartemen, gadis itu langsung mengepak semua barang-barang Radit yang masih tertinggal, tak lupa semua barang pemberian lelaki itu juga dia masukkan dalam kardus untuk dikirimkan kembali kepada pemiliknya. Gadis itu sungguh tak ingin ada jejak-jejak peninggalan Radit tersisa dalam kehidupannya. Sungguh tak sudi lagi jika harus berhubungan dengan lelaki semacam Radit. Selesai mengepak semua barang, gadis itu kembali menangis sampai tertidur.

Seminggu sudah berlalu sejak Mila memutuskan untuk melanjutkan hidupnya tanpa Radit. Mila berusaha dengan sungguh untuk melenyapkan lelaki itu dari kehidupannya. Semua barang yang berhubungan dengan Radit telah dibuangnya dan semua barang milik Radit sudah dia kirimkan. Tak ada lagi yang tersisa dari lelaki itu selain rasa sakit dan lunturnya kepercayaan Mila kepada makhluk bernama laki-laki. Dan selama seminggu penuh Radit terus menerornya, meminta Mila untuk kembali dan lagi-lagi mengatakan bahwa hanya dialah satu-satunya lelaki yang mampu menghadapi keegoisan Mila. Cukup sudah batas kesabaran Mila. Jika selama seminggu ke depan Radit masih saja bersikukuh menterornya, Mila akan kembali ke Seoul. Kembali ke kehidupan yang sudah dua tahun ini dia abaikan demi lelaki yang ternyata tidak menghargai setiap pengorbanannya.

Benar saja, seminggu berikutnya Radit masih terus melakukan aksi teror. Dan yang paling parah semalam ketika lelaki itu nekat menerobos apartemen Mila dan hampir melukainya jika saja petugas keamanan tidak segera datang. Kejadian itu tentu saja membuat mentalnya menciut untuk terus melawan lelaki itu. Akhirnya Mila yang sudah membulatkan tekadnya pindah sementara ke Seoul. Malam itu juga setelah mengemas beberapa barang penting dan menghubungi temannya yang ada di Seoul, Mila berangkat ke Seoul menggunakan KTX. Ke apartemen Yoon Hyemi, sahabatnya, itulah tujuannya sementara ini untuk menghilang dari Radit.

Tiga jam perjalanan yang dibutuhkan dari Busan menuju Seoul. Selama tiga jam itu tak sedetikpun mata gadis itu terpejam. Dia masih ketakutan kalau-kalau nanti tiba-tiba Radit kembali mengikutinya. Setibanya di Seoul Station, Hyemi sudah menunggunya dan langsung berlari dan memeluk Mila. Terlihat jelas di matanya kecemasan dan kekhawatirannya akan kondisi sahabatnya itu. Tidak ada kata yang terucap dari keduanya hanya tatapan mata dan eksprisi wajah sudah cukup bagi keduanya untuk saling memahami. Mila berjalan cepat mengimbangi langkah-langkah lebar Hyemi sambil menggenggam erat tangan sahabatnya itu.

“Kau serius pindah ke Seoul?” ucap Hyemi saat Mila mengutarakan keinginannya itu keesokan harinya. Mila hanya mengangguk sambil menatap Hyemi. Melihat kondisi Mila yang masih tampak kacau Hyemi hanya bisa memeluknya sambil perlahan mengusap punggung sahabatnya itu.

“Tidak apa-apa. Semuanya sudah berlalu. Dia tak akan bisa menyakitimu lagi. Kau bisa bertahan tanpa lelaki itu Mila. Kau bisa. Pasti bisa.” Hyemi kembali membisikkan kata-kata penguatan bagi sahabatnya itu. Mila hanya menunduk dan kembali menyeka air matanya yang mulai membanjiri wajahnya.

“Aku tidak tahu lagi bagaimana harus memberitahu Radit bahwa aku lelah dengan semua terornya, Hyemi. Aku sungguh ingin benar-benar lepas dari lelaki brengsek itu. Sudah cukup aku disakiti olehnya.” Kata Mila disela-sela tangisnya.

“Iya, aku tahu. Sekarang kamu tenangkan dirimu dulu. Untuk sementara tinggallah di sini bersamaku. Bagaimanapun juga kau berhak untuk hidup bahagia, dengan atau tanpa Radit. Dan kau sudah membuat pilihan yang tepat untuk lepas dari lelaki itu.”

Yoon Hyemi adalah salah satu sahabat Mila ketika pertama kali dia tiba di Korea sepuluh tahun yang lalu. Anindya Camelia atau yang biasa disapa Mila adalah siswa pertukaran pelajar dari salah satu SMA swasta terbaik di Jakarta yang mengikuti program pertukaran pelajar selama setahun dan kemudian mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di sebuah Universitas di Korea. Semenjak berpacaran dengan Radit, Mila memutuskan untuk pindah ke Busan mengikuti Radit dan meninggalkan apartemen yang sudah ditempatinya bersama dengan Hyemi sejak mereka kuliah. Dan di sinilah Mila sekarang, kembali ke apartemen yang dulu dia tinggalkan demi lelaki yang ternyata dengan mudahnya mengkhianatinya.

“Kalau kau kembali ke Seoul, bagaimana dengan klienmu? Bukankah kau sedang menangani beberapa proyek?” Hyemi sejenak mengalihkan perhatiannya dari televisi dan menanyai Mila yang masih bergelung dibawah selimutnya.

“Aku bisa mengerjakannya di sini. Lagi pula pekerjaan sebagai web designer ini kan tidak mengharuskanku berada di kantor terus menerus. Cukup ketika hendak mempresentasikan design saja.” Mila menjawab sambil terus berguling dibalik selimut.

“Kenapa kau tidak keluar saja dan membuat usahamu sendiri? Kang Dong Joon sedang mencari partner untuk membentuk usaha di bidang web design dan game online kau bisa bergabung dengannya kalau kau mau.” Ucap Hyemi sambil mengangsurkan sebuah kartu nama.

Mila menerima kartu nama itu dengan dahi berkerut. Nama Kang Dong Joon begitu familiar di telinganya. “Kang Dong Joon?” tanya Mila.

“Iya, Dong Joon. Teman sekelas kita waktu di tingkat 12. Yang selalu memakai jaket warna merah itu. Kau lupa?”

“Oh. Kang Dong Joon. Yang sempat kau kencani selama sebulan itu kan? Aku ingat sekarang. Ahahaha… Kau berkencan lagi dengannya?” kali ini Mila mulai merangkak turun, bersemangat mendengar ucapan Hyemi. Mendengar pertanyaan Mila kontan saja Hyemi lagsung mengelak. Tetapi ekspresi wajahnya menunjukkan kalau memang ada sesuatu antara dia dan Dong Joon.
“Sudahlah, kalau kau memang belum bisa bercerita tidak apa-apa.” Mila akhirnya menyerah ketika dilihatnya Hyemi masih enggan bercerita. Keduanya masih diam di tempat masing-masing tanpa suara, hanya terdengar suara dari televisi yang sedang menayangkan berita pagi yang menemani kesunyan mereka. Jengah karena suasana berubah hening, Hyemi kemudian buka suara menawarkan sandwich untuk sarapan yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Mila. Setelah Hyemi berlalu meninggalkannya sendirian di dalam kamar, Mila memasang earphone di kedua telinganya dan menyalakan mp3 playernya. Sebuah lagu lembut milik Sabrina mengalun pelan membuatnya sedikit lebih tenang. Dua minggu belakangan ini pikirannya sedang sangat kalut. Bukan hanya karena Radit, tetapi juga karena pekerjaannya yang sudah mendekati deadline. Sungguh, konsentrasinya buyar setelah Radit terus menerus menerornya. Tak ada satupun pekerjaan yang bisa dia lakukan dengan benar, dan puncaknya semalam dia benar-benar berada dalam kondisi ketakutan yang amat sangat nyata. Radit tiba-tiba menyerangnya dan mengancam akan membunuhnya jika dia tidak mau kembali kepada lelaki psikopat itu. Mengingat semua kejadian itu membuat Mila tiba-tiba merasa lelah. Perlahan matanya kembali terpejam ditemani merdunya suara Sabrina diiringi dengan petikan gitarnya yang manis.

Samar terdengar panggilan dari arah dapur, tetapi Mila sudah terlalu lelah untuk sekedar menjawab. Mendapati tak ada jawaban dari sahabatnya, Hyemi kemudian menghampiri Mila.
“Mil, kamu mau sandwich tuna atau ayam?” tanya Hyemi tepat ketika dia berhenti di depan kamar yang dipakai Mila. Mendengar tak ada jawaban, gadis itu kemudian membuka pintu sambil kembali bertanya, “Bagaimana? Ayam atau…” Hyemi tidak melanjutkan pertanyaanya ketika didapatinya Mila tengah tertidur dalam posisi yang sangat-sangat tidak nyaman menurutnya. Gadis itu tertidur di karpet sambil bersandar pada ranjang dengan posisi yang sama ketika ditinggalkan oleh Hyemi tadi. Hyemi kemudian mendesah pelan dan kemudian tangannya dengan cekatan menyelimuti tubuh Mila. Terpaksa dia tidak mengangkat Mila ke ranjang karena tenaga yang dia miliki tak akan cukup untuk mengangkat tubuh sahabatnya itu.

“Tidurlah yang nyenyak. Kamu butuh banyak istirahat. Pasti berat menghadapi semuanya seorang diri. Sekarang ada aku, kamu bisa membaginya denganku kalau kamu lelah menanggungnya sendiri.” Hyemi berbisik pelan sambil membelai pelan rambut Mila sebelum akhirnya dia kembali berkutat di dapur.

To be continue