In The Bus

Writer : Bluerhey a.k.a Ria Ratna
Cast : Lee Jinki, Song Yejin
Genre : Romance (cheesy love story)
Lenght : Oneshoot

Laki-laki itu berdiri gugup ketika bus yang ditunggunya selama hampir tiga puluh menit itu akhirnya datang. dengan langkah-langkah tergesa segera dia naik ketika pintu bus terbuka. Dilihatnya di sudut kiri kursi penumpang paling belakang. Gadis itu sudah ada di sana, duduk sendiri memandang keluar jendela. Gadis itu yang telah mencuri hatinya pada pertemuan pertama mereka dua tahun lalu, di atas bus ini.
Laki-laki itu masih berdiri terkesima menatap gadis itu. Bagaimana bisa seorang gadis terlihat begitu menawan hanya dengan mengenakan seragam sekolah?
Gadis itu mendongak, matanya menyipit ketika dia melihat ke arah laki-laki yang kini tengah menatapnya. Setelah yakin bahwa dia mengenal orang itu, dia tersenyum dan melambaikan tangannya mengajak laki-laki itu duduk di sampingnya. Laki-laki itu kemudian duduk di samping sang gadis. Jujur saja, dia sangat gugup dan tak berani menatap wajah gadis itu.
“Mau permen?” gadis itu menawarkan beberapa bungkus permen kepada laki-laki di sampingnya itu. Laki-laki itu hanya mengangguk dan mengambil sebungkus permen dari telapak tangan si gadis.
“Bagaimana sekolahmu? Pasti berat sudah masuk kelas XII?” Gadis itu kembali bertanya.
“Ah, tidak juga. Hanya saja jam mainmu jadi berkurang untuk mengikuti pelajaran tambahan.” Lelaki itu menjawab dengan sedikit kikuk.
“Oh iya, sunbaenim, aku kemarin melihatmu di toko buku, tapi belum sempat aku memanggilmu, kamu sudah pergi bersama teman-temanmu. Padahal sepuluh menit setelah kamu keluar, toko buku itu memberi diskon besar-besaran.”
“Oh? Berarti kami sedang tidak beruntung.” Jawab lelaki itu dengan senyum kikuk. Gadis itu hanya terkekeh mendengar jawaban lelaki yang duduk di sampingnya itu.
Mereka diam, tenggelam dalam dunianya masing-masing. Gadis itu memejamkan mata menikmati alunan lagu dari mp3 playernya sedangkan si lelaki diam menatap wajah gadis itu. Tiba-tiba gadis itu membuka matanya. Buru-buru lelaki itu mengalihkan tatapannya dari wajah gadis yang duduk disampingnya. Gadis itu bertanya melihat keanehan lelaki itu.
“Jinki sunbaenim, ada apa? Ada sesuatu yang salah?”
Lelaki itu suka ketika mendengar si gadis memanggil namanya. “Oh? Tidak ada.”
“Kenapa jawabanmu selalu pendek-pendek sekali?” gadis itu bertanya lagi. Lelaki itu, Lee Jinki, menatapnya bingung.
“Ah, sudah lupakan.” Sahut gadis itu kemudian.
Sepuluh menit terakhir dalam perjalanan mereka menuju sekolah dihabiskan dalam diam. Sampai akhirnya ketika bus berhenti di halte dekat sekolah mereka, mereka pun turun beriringan. Gadis itu kemudian berjalan mendahului Jinki di depan. Jinki tampak ragu tapi kemudian dikumpulkannya keberaniannya. “Aku seorang namja.” Katanya pada diri sendiri. Dia kemudian menyusul langkah gadis itu. Diraihnya pergelangan tangan gadis itu sehingga membuatnya berhenti berjalan karena terkejut.
Lelaki itu tersenyum manis menatap gadis di hadapannya yang tengah menatapnya dengan pandangan bertanya.
“Song Yejin, aku menyukaimu. Jadilah kekasihku.”
Gadis itu tersenyum kikuk. Senyum itu perlahan berubah menjadi semakin manis dengan pendar-pendar hangat dari kedua matanya. Hanya melalui senyum itu, Jinki tahu jawaban apa yang diberikan gadis itu. Ternyata keraguannya tidak beralasan, gadis itu juga menyukainya. Song Yejin juga menyukai Lee Jinki.

Fin.

Iklan

ALARM CLOCK

Writer : Bluerhey a.k.a Ria Ratna
Genre : Romance
Cast : Nania, Dani, Tata
Lenght : Oneshoot (1727 words)
Summary : Awalnya ini semua taruhan, tapi semakin aku mengenalmu, hatiku ikut berubah dan akhirnya aku sadar bahwa aku telah jatuh cinta padamu.

Tidak, bukan begitu…
Tolong jangan pergi…
Kumohon jangan membenciku…
Jangan….
Nania terjaga dari tidurnya. Mimpinya sungguh membuatnya tersiksa malam ini. Keringat membanjiri bukan hanya wajah cantiknya yang kini berubah pucat, tapi juga seluruh tubuhnya. Gadis itu memejamkan matanya sambil menyeka keringatnya yang bercucuran. Mimpi itu terasa sangat nyata baginya. Semuanya memang harus segera berakhir bagi hubungannya dengan Dani. Tak ada lagi yang bisa dipertahankan, dari awal hubungan ini memang salah. Menyadari akan hal itu, Nania tak mampu membendung air matanya. Pikirannya kembali menerawang ketika dia meminta Dani menjadi pacarnya. Awalnya ini hanya taruhan, siapa yang bisa menjadi pacar Dani akan mendapat uang sebanyak satu setengah juta rupiah. Nilai itu lumayan fantastis untuk sekedar taruhan anak SMA. Dan Nania berhasil memenangkan taruhan itu, Dani langsung mengiyakan ajakannya berkencan saat itu. Nania kembali terisak pelan, ternyata waktu tiga bulan telah membuatnya benar-benar jatuh cinta pada lelaki yang usianya hampir satu tahun lebih muda darinya itu. Banyak hal dan kenangan yang telah mereka lalui bersama selama tiga bulan terakhir ini, sanggupkah dia tiba-tiba kehilangan semuanya? Sanggupkah dia kehilangan lelaki yang mulai dicintainya itu? Sanggupkah dia mengubur semua kenangan bersama lelaki itu?
Nania akhirnya kembali tertidur setelah lelah menangis. Wajahnya pucat dan air matanya terus mengalir meski matanya telah terpejam, ternyata rasa bersalahnya membuat pikiran gadis itu tertekan. Tapi dia tak punya pilihan lain, dia harus berterus terang pada Dani, agar semuanya bisa kembali berjalan sebagaimana mestinya seperti semula. Ketika jam weker di samping tempat tidur Nania menjerit mencoba membangunkan penghuni kamar tersebut, Nania buru-buru menekan tombol off dan segera melompat dari tempat tidurnya untuk bersiap ke sekolah. Hari ini adalah batas akhir untuknya bisa bersama dengan Dani. Setelah Nania mengatakan semuanya, dia yakin Dani tak akan mau lagi bersamanya, bahkan mungkin membencinya. Membayangkan kenyataan seperti itu saja sudah membuatnya terluka, bagaimana jika dia harus menghadapinya seorang diri? Sanggupkah dia?
“’Aku hanya menjadikanmu sebagai taruhan, daripada semakin menyakitkan kalau kita terus bersama, ayo kita putus’. Nania, kamu bisa mengatakan itu.” Nania menatap dirinya di cermin sambil mencoba merangkai kata yang tepat untuk mengakhiri hubungannya dengan Dani. Berkali-kali dia meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan tetap baik-baik saja, tapi hal itu justru membuatnya semakin takut menghadapi kenyataan yang akan diterimanya nanti. Dengan langkah gontai Nania berjalan meninggalkan kamarnya dan mengendarai motornya dari rumah menuju ke sekolah.
Seharian di sekolah membuat Nania merasa gelisah. Dia takut akan bertemu tiba-tiba dengan Dani, dia masih belum menyiapkan hatinya untuk benar-benar mengucapkan kata putus. Ternyata lelaki itu benar-benar telah menjerat hatinya, membuatnya jatuh dalam pesonanya dan tanpa disadarinya dia telah jatuh cinta pada lelaki itu. Untung saja hari ini pelajaran olahraga selama dua jam tidak dipotong oleh jam istirahat pertama, jadi dia bisa menghindari Dani, tapi tak ada jaminan nanti istirahat kedua dia bisa menghindar lagi.
“Ni, lu nggak ke kantin? Biasa juga elu paling semangat lari ke kantin tiap istirahat.” Tanya Tata, teman sebangkunya.
“Males ah Ta, gue masih kenyang. Kalau lu ntar ketemu Dani, bilang aja lu nggak tau gue dimana ya. Oke Ta?” Nania menyahut dengan tidak bersemangat. Dia merasa tenaganya menghilang tiba-tiba, bahkan kepalanya terasa semakin berat dan pandangannya mulai kabur. Setelah dilihatnya Tata mengangguk, Nania kemudian bangkit dari kursinya. Dengan langkah berat dia berusaha menuju UKS yang letaknya hanya lima ruang kelas dari kelasnya itu.
“Mau ke mana lu?” Tata menoleh ketika di dengarnya suara langkah dan nafas berat Nania di belakangnya. Mata Tata kemudian membulat seketika ketika didapatinya sahabatnya itu pingsan tiba-tiba.
“Ni, bangun Ni.” Tata panik dan menepuk-nepuk pipi Nania sementara beberapa siswa lain kemudian mengerumuni Tata yang sedang berusaha membangunkan Nania. Akhirnya dengan dibantu beberapa siswa laki-laki Tata membawa Nania ke UKS. Entah mendengar dari siapa, Dani tiba-tiba sudah berada di UKS ketika Tata dan petugas kesehatan selesai memberikan pertolongan pertama. Melihat kedatangan Dani, Tata dan petugas kesehatan yang juga siswa kelas XII itu meninggalkan UKS. Sebelum pergi, Tata sempat menepuk bahu Dani dan menitipkan sahabatnya itu.
Tata bukannya tidak tahu, tapi dia memilih untuk tidak mencampuri urusan pribadi sahabatnya. “Gue pikir lu bakalan langsung mutusin Dani setelah dapet duit itu. Ternyata lu masih betah jalan sama dia. Jangan bilang kalau lu jatuh cinta sama itu bocah?” tanya Tata beberapa hari yang lalu. Nania hanya tersenyum simpul dan mengangguk. Tata mendesah melihat jawaban Nania. “Sebelum dia tahu dari orang lain, lebih baik kalau dia tahu dari lu sendiri soal taruhan itu Ni. Dari awal hubungan kalian itu salah, kalau sampai dia tahu dari orang lain, dia akan lebih terluka.”
“Gue bingung Ta. Takutnya kalau gue bilang, ntar dia malah ngejauhin gue. Gue mulai sayang gitu sama Dani.” Nania tak berani menatap wajah sahabatnya ketika mengatakan hal itu.
“Justru karena sayang makanya lu harus jujur sama dia. Elu mau ngebohongin dia selamanya? Enggak kan?” Tata menyahut tajam. Sejak awal Tata tidak setuju Nania mengikuti taruhan konyol itu. Hati bukan sesuatu yang bisa dipertaruhkan dan diukur dalam jumlah rupiah. Maka dari itu ketika Nania tak juga memberitahu kenyataan yang sebenarnya pada Dani, gadis itu marah dan tentu saja kecewa.
“Gue tau Ta, tapi nggak segampang itu. Lu nggak bakalan ngerti gimana rasanya Ta. Posisi gue sekarang tuh bener-bener nggak enak.” Nania masih mengelak.
“Terus mau sampai kapan lu diem? Sampai ada orang lain yang ngasih tau dia duluan? Iya?” kembali Tata menusuk Nania dengan pertanyaan tajamnya.
Nania hanya diam dan mengeluh dalam hati. Jika saja bukan sahabatnya, tentu gadis itu sudah mencak-mencak ditanyai seperti itu. Ingin sekali gadis itu mengatakan bahwa dia juga tidak ingin terus menerus membohongi Dani, tapi tidak mudah baginya untuk bisa mengatakan yang sebenarnya terlebih kini hatinya sudah mulai berubah warna bagi Dani.
Dani perlahan masuk ke ruang perawatan UKS, dihampirinya Nania yang tampak tertidur. Laki-laki itu mengeluh pelan dalam hati, “Kamu mikirin apa sih Na, sampai jadi seperti ini?”. Dengan hati-hati Dani duduk di pinggiran tempat tidur dan menggenggam tangan Nania. Dani sebenarnya tahu dari awal jika Nania hanya menjadikannya sebagai taruhan, tapi dia diam saja. Dia rela melakukan apa saja asalkan bisa bersama dengan gadis itu. Gadis yang diam-diam disukainya sejak pertama kali melihatnya di hari pertama pindah ke sekolah ini. Laki-laki itu tertegun ketika dilihatnya air mata mengalir pelan dari sudut mata Nania yag terpejam.
Nania masih terpejam, matanya bergerak gelisah dan sesekali dia menggumam. Dia tahu ada seseorang yang tengah menggengam tangannya, tapi matanya entah kenapa tidakmau terbuka.
“Eughh…Tata…” Panggil Nania pelan sambil menggoyangkan tangannya yang sedang digenggam Dani. Laki-laki itu diam, tangannya yang bebas kini menyeka air mata Nania yang masih terus luruh.
“Tata…” gumam gadis itu lagi. Dani mengusap punggung tangan Nania yang digenggamnya dengan ibu jari. Jemarinya yang tadi menghapus air mata gadis itu kini berganti membelai pipi gadisnya perlahan.
“Ini aku Na, Dani.”
Nania masih belum bereaksi, sekali lagi Dani membisikan namanya ditelinga gadis itu, “Aku Dani, Na.”
Perlahan mata gadis itu terbuka, Dani menyambut tatapan Nania dengan senyumnya yang selalu membuat gadis itu salah tingkah.
“Kamu, Dan. Ngapain di sini?” suara Nania terdengar parau.
Dani tidak menjawab, dia hanya mengangsurkan segelas teh hangat yang tersedia di meja kecil di sebelah tempat tidur. Nania berusaha bangkit, tapi gagal karena tubuhnya terlalu lemah. Akhirnya Dani membantunya untuk duduk dan kemudian mengangsurkan teh hangat untuk Nania.
“Kamu bandel sih, aku udah berapa kali bilang kalau kamu nggak boleh telat makan? Gini nih yang aku takutin.” Dani mengomel pelan sambil memijit tangan kanan Nania. “Kalau udah gini, kamu sendiri kan yang rugi?” lanjut Dani. Nania diam, dia tak bisa membantah omelan Dani karena memang benar apa yang dikatakan laki-laki itu. Sejak tadi malam memang belum ada makanan apapun yang masuk ke perutnya. Nafsu makannya hilang seketika tatkala ingat bahwa hari ini semua akan berakhir. Nania mengeluh pelan dalam hati, ‘Tolong jangan terlalu perhatian sama aku Dan, karena aku akan semakin berat melepasmu.’
“Lain kali jangan bikin aku khawatir lagi ya?” Dani tersenyum sambil mengacak pelan rambut Nania sementara gadis itu semakin merutuki jantungnya yang kembali berdetak melebihi kecepatan normalnya.
Suasana kembali hening, keduanya sama-sama diam tenggelam dalam alam pikiran masing-masing. Sesekali Dani menggoyangkan tangan Nania yang tengah digenggamnya. Tangan gadis itu begitu dingin dan kuku-kuku jarinya yang biasanya berwarna merah muda alami itu kini terlihat pucat.
“Dan…” “Na…” ucap keduanya bersamaan.
“Kamu duluan.” Lagi-lagi bersamaan.
“Kalau gitu aku duluan aja.” Sahut Nania. Gadis itu memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Kemudian ditatapnya lelaki yang masih menggenggam tangannya itu tepat di manik mata.
“Mungkin nanti setelah kamu denger apa yang aku omongin, kamu bakalan benci sama aku. Tapi aku harus ngomong sekarang Dan.” Nania diam sejenak untuk kembali mengatur emosinya sebelum melanjutkan kalimatnya. “Sebelum orang lain yang ngasih tahu, aku pengen jadi orang pertama yang bilang ini sama kamu. Maaf, dari awal aku nggak jujur mengenai hubungan ini. Awalnya aku ngedeketin kamu cuma buat menangin taruhan, dan yah, aku menang karena kamu mau jadi pacarku waktu aku nembak kamu. Awalnya aku memang nggak punya perasaan apapun sama kamu, tapi makin sering aku jalan sama kamu, semakin aku kenal sama kamu, hatiku ikut berubah. Perlahan-lahan, aku mulai sayang sama kamu. Sampai akhirnya aku sadar kalau aku sudah benar-benar jatuh cinta sama kamu.” Nania kembali diam dan menghela napasnya berat. Tangan kirinya kiri menghapus air mata yang kembali mengalir pelan dari kedua matanya. Dani masih diam, dia tak tahu harus berkata apa. Dia sama sekali tak pernah menyangka bahwa Nania akan mengatakan semuanya segamblang ini.
“Tapi aku sadar bahwa aku nggak boleh egois. Kamu berhak tahu kenyataan yang membuat kita akhirnya bersama. Aku sebenarnya nggak ingin semuanya berakhir secepat ini, tapi aku juga tidak memiliki alasan untuk tetap menahan kamu di sisiku setelah kamu mengetahui semuanya. Meskipun berat, aku siap untuk melepasmu.”
Nania kemudian berusaha menarik tangannya dari genggaman Dani, tapi laki-laki itu malah semakin erat menggenggam tangannya.
“Bodoh. Aku nerima kamu karena dari awal aku suka sama kamu. Aku juga tahu kalau awalnya kamu cuma ngejadiin aku taruhan, tapi aku diem aja soalnya aku nggak mau kehilangan kamu Na. Aku tulus sayang sama kamu. Udah, jangan nangis lagi.” Dani kemudian menghapus air mata Nania yang masih mengalir pelan.
“Jadi?” tanya Nania dengan suara serak dan sengau.
“Jadi apanya?” Dani balik bertanya.
“Kita gimana?”
“Gimana apanya? Kita ya gini aja. Jalanin apa yang ada sekarang, jangan mikir yang aneh-aneh lagi.” Sahut Dani.
Mereka saling berpandangan dan kemudian tersenyum. Nania merasa lega, ketakutannya ternyata tidak menjadi kenyataan. Dani akan tetap ada di sisinya, berjalan bersamanya sampai entah kapan.
“Dan…” panggil Nania pelan sambil menggoyangkan tangannya yang digenggam oleh Dani.
“Hmm?” Laki-laki itu kemudian menjawab dengan gumaman.
“Aku lapar.”

Fin

Marry Me

Semilir angin siang itu kembali menghadirkan kenangan yang telah Mia kubur dalam-dalam bertahun-tahun yang lalu. Kenangan yang membuatnya terluka sekaligus tersenyum mengingatnya. Jika saja, yah jika saja tidak ada kecelakaan itu tentu saja Mia kini sudah hidup bahagia bersama dengan Aria. Jika saja lelaki itu tidak ngotot untuk tetap menjemputnya dari kampus, mungkin akan lain akhir dari kisah mereka. Jika saja Aria tidak mencintainya, mungkin kini dia masih hidup dan Mia masih bisa melihat lelaki itu tersenyum. Kata “Jika saja” terus bergulir dalam pikiran Mia semenjak Aria pergi meninggalkannya enam tahun silam. Kata-kata itu terus saja membuatnya mengutuki dirinya sendiri meski orang-orang berkata bahwa kecelakaan itu takdir yang tak bisa ditolak. Dan sejak enam tahun lalu, kenyataan ini harus diterimanya. Aria Ganesha, lelaki yang telah berjalan bersamanya selama tiga tahun lamanya itu, meninggal dunia.

“Mia, dipanggil bos tuh.” Femy menepuk bahu Mia, membuyarkan lamunan gadis itu.
“Bos? Dia ikutan survey lapangan? Tumben.” Sahut Mia menutupi keterkejutannya.
“Dia bilang ingin melihat langsung lokasi yang akan digunakan untuk konser ini, apalagi setelah tahu bahwa kamu yang jadi head-project. Tambah semangat pak bos itu.” Anita yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya kini ikut buka suara.
“Jadi, dia nunggu di mana?” tanya Mia singkat. Gadis itu enggan menanggapi colotehan teman-tamannya tentang kedekatannya dengan bos mereka. Femy yang mengerti betul apa yang kini tengah dipikirkan Mia segeran menunjuk sebuah tempat di mana bos mereka menunggu. Mia kemudian berjalan ke lokasi yang ditunjuk Femy setelah menyerahkan draft yang berisi apa saja yang belum lengkap untuk konser minggu depan.
Mia sebenarnya enggan menemui bosnya itu. Gadis itu tahu benar apa yang akan diucapkan oleh bosnya. Dia pasti akan menanyakan perihal Aria, apalagi memangnya?
“Bapak mencari saya?” tanya Mia lugas. Lelaki di depan Mia itu hanya tersenyum dan memintanya duduk. Mia menuruti perintah lelaki itu dan dengan formal dia kembali bertanya, “Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
Lelaki itu tergelak. Mia mengernyitkan dahinya bingung. “Di sini cuma ada lu sama gue, Mi. Nggak usah formal banget gitulah.” kata lelaki itu di sela tawanya. Mia hanya tersenyum jengah menanggapi perkataan lelaki itu. Lelaki itu kemudian diam, berusaha meredam tawanya.
“Di tempat ini sembilan tahun yang lalu. Jangan dikira gue nggak tahu. Gue tahu banget. Sepuluh tahun Mi, sepuluh tahun kita sahabatan.” ucap lelaki itu emosional. Mia hanya menghela napasnya dalam diam. Dia tahu betul bahwa lelaki di depannya itu sedang berusaha membawa Mia keluar dari bayang-bayang Aria. Dan Mia sangat bersyukur karena lelaki itu masih terus ada di sisinya bahkan ketika Mia jelas-jelas telah memintanya pergi.
“Udah sepuluh tahun ya? Berarti tahun ini kita udah dua puluh sembilan dong? Bentar lagi tiga puluh. Kok lu ga kawin-kawin sih?” Mia berusaha mengalihkan arah pembicaraan.
“Gimana gue bisa kawin kalau cewek yang mau gue ajakin kawin masih diam dalam bayangan masa lalunya.” kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa sempat dipikirkan lebih jauh oleh lelaki itu, Demian Hanjaya.
Mia membelalakan matanya terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan Demian. Ini bukan kali pertama Demian mengatakan bahwa dia menginginkan Mia menjadi istrinya, tiga tahun lalu dia sudah mengatakannya dan penolakanlah yang dia terima. Kali ini kata-kata itu kembali terlontar dari mulutnya, bukan hanya Mia yang terkejut tapi Demian sendiri juga kaget dengan apa yang baru diucapkannya.
“Eh, sorry. Maksud gue bukan itu. Gue…gue…” Demian tergagap tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Mia tergelak mendapati Demian tergagap dan kini melihat Mia tengah tertawa mau tak mau Demian juga ikut tertawa.
“Oke, aku tahu maksud kamu.” kata Mia setelah tawanya reda. “Aku nggak akan memakai kata ganti ‘gue-elu’ lagi karena kita akan membicarakan masalah yang cukup serius.” Lanjut Mia. Demian hanya mengangguk dan dengan gugup meraih kopinya di meja. “Uhm, gimana ya ngomongnya? Soal Aria, kematian Aria enam tahun lalu memang pukulan telak buatku. Seminggu sebelum kita wisuda dan dia…dia meninggal dalam perjalanannya untuk menjemputku. Itu benar-benar mengganggu pikiranku dan membuatku kacau. Yah, kurasa kamu sudah tahu soal itu. Lalu tentang lamaranmu tiga tahun lalu. Maaf, aku menolakmu dengan kasar waktu itu. Saat itu aku masih terlalu kalut karena yah, kenangan bersama Aria yang nggak bisa dengan mudah dilupakan dan kamu orang yang selama ini menopangku saat aku benar-benar terpuruk tiba-tiba mengatakan itu. Memintaku menikah denganmu dengan alasan agar lebih mudah melupakan Aria. Masuk akal memang, tapi aku nggak setega itu menjadikamu pelarian. Aku kira tiga tahun sudah cukup bagimu untuk menemukan penggantiku, tapi ternyata kamu masih menungguku. Aku bersyukur sekali memiliki sahabat seperti dirimu. Aku bersyukur kamu masih mau menungguku. Aku bersyukur kamu masih mau berdiri di sisiku meski aku telah memintamu pergi. Tapi maaf, aku nggak bisa…”
Demian mendongak mendengar kalimat terakhir Mia dan seketika menyahut, “Aku ngerti, aku nggak akan memaksamu untuk menerimaku Mi.”
“Jangan dipotong dulu, aku belum selesai.” Mia kemudian melanjutkan kalimatnya yang tadi terputus, “Aku nggak bisa menolakmu lagi. Aku sudah melihat betapa kamu telah banyak berkorban untukku, mana mungkin aku bisa mengabaikanmu lagi? Bagiku Aria kini seperti angin. Aku bisa merasakan kembali hadirnya dia dalam kenangan, tapi aku tak bisa menyentuhnya. Tapi kamu beda. Kamu seperti hujan, yang nggak hanya bisa kurasakan kehadirannya tapi juga bisa kusentuh dengan nyata. Kamu seperti hujan yang menghidupkan lagi tunas-tunas yang mati setelah kepergian Aria.”
Demian kini mulai tersenyum mendengar ucapan Mia. Dia mengangkat sebelah alisnya dan bertanya, “Jadi?”
Mia tersenyum dan melanjutkan perkataannya, “Bagaimana mungkin aku bisa menolak lelaki yang sudah berkorban banyak untukku? Bagaimana bisa aku menolak lelaki yang telah membuatku kembali merasa hidup? Bagaimana bisa aku menolak lelaki yang telah membuatku kembali utuh?”
Kini Demian tergelak, nyata sekali bahwa dia merasa bahagia. “Lalu apa yang kamu ingin kita lakukan?” tanya lelaki itu.
“Demian Hanjaya, ayo kita menikah.”