LOST

Poster Lost
Writer : Bluerhey
Main Cast : Lee Taemin, Choi Jinri
Lenght : Oneshot
Rating : G
Summary : Lelaki itu semakin mendingin dan perempuan itu menangis ketika tak seorangpun melihat kepadanya.
A/N : I’m back with new abal-abal fanfiction. Kali ini bakal bikin karakter Taemin agak dingin. Well, aku bingung sama endingnya yang kacau balau #cries. So please enjoy the story.

Kedua orang itu hanya saling menatap tanpa mengatakan apapun kepada satu sama lain. Mereka bahkan terlihat saling menghindari tatapan satu sama lain. Keduanya terlihat seperti orang asing, bahkan mungkin lebih asing daripada orang asing. Laki-laki itu kini semakin dingin, dan perempuan itu hanya bisa menangis ketika tak ada yang melihat. Ini bahkan terasa lebih canggung dibandingkan ketika mereka pertama kali bertemu bertahun-tahun yang lalu.

Semuanya terasa begitu cepat berubah tanpa mampu mereka cegah. Bahkan duduk di ruang yang sama kini terasa sangat menyesakkan. Lelaki itu kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menjauh. Perempuan itu ingin mencegahnya pergi, tapi rasanya terlalu canggung untuk kembali berbicara dengannya sehingga dia hanya terus menunduk dan memeluk dirinya sendiri. Lelaki itu berhenti sejenak, membalik badannya untuk melihat kembali perempuan yang masih menunduk dalam itu. Dulu dia akan langsung memeluk perempuan itu dan memberinya kecupan selamat malam, tapi kini rasanya semua terlalu canggung untuk dilakukan dan akhirnya dia memilih untuk melangkah pergi.

Lelaki itu benar-benar pergi. Meskipun awalnya ragu, toh akhirnya dia benar-benar menutup pintu itu di balik punggungnya. Perempuan itu merosot dari sofa dan duduk di lantai memeluk lututnya. Dia kini benar-benar merasa sendirian. Entah sejak kapan matanya mulai basah, air matanya kembali mengalir pelan. Bahkan setelah lelaki itu meninggalkannya, aroma tubuhnya, sentuhannya dan sosoknya yang tengah tersenyum hangat masih begitu lekat dalam ingatannya. Semuanya masih terasa begitu nyata bagi perempuan itu, segala yang mereka lakukan di tempat ini, bahkan saat pertama kali mereka bertemu masih terasa begitu nyata baginya.

Kopi itu sudah mulai dingin ketika dia meminumnya, sama seperti hatinya yang telah mendingin. Perempuan itu masih betah duduk sambil memeluk lututnya, pikirannya menerawang jauh kembali pada masa-masa ketika rasa yang mereka miliki masih hangat. Kilasan-kilasan setiap kejadian yang mereka alami di rumah ini kembali berputar di depan matanya. Waktu seakan berjalan mundur bagi perempuan itu, karena semua yang terlihat di depannya hanya kilasan masa lalu. Saat pertama kali mereka memasuki rumah ini untuk memulai sebuah keluarga. Saat mereka memasak makanan pertama mereka di rumah ini dan segala hal yang telah mereka lalui bersama sebelum semuanya perlahan berubah menjadi semakin dingin tanpa bisa dia cegah.

Perempuan itu kembali menyeka air matanya. Bayangan lelaki itu sedikitpun tak mau beranjak dari angannya. Dia bahkan masih bisa melihat jelas semua kenangan itu. Ketika lelaki itu mengambilkan panci yang terletak di atas rak yang tak sanggup dia jangkau. Ketika lelaki itu membantunya mengangkat pinggan panas berisi sup dan ketika lelaki itu memeluknya dari belakang saat dia sedang mencuci piring. Semua itu kini hanya menyisakan luka di hatinya ketika mengingat.

Perempuan itu kini menengadahkan kepalanya mencoba untuk menghentikan laju air matanya, tapi sia-sia. Air matanya kembali mengalir deras tatkala pandangannya terpaku pada sofa di belakangnya. Dulu lelaki itu memeluknya di sana ketika mereka menonton film horor bersama, dulu lelaki itu memeluknya ketika dia menangis saat mereka bersama menonton film roman yang berakhir sedih, dulu mereka begitu hangat, kenapa sekarang semuanya berubah dingin? Bahkan saat mereka tidur di ranjang yang sama pun, rasanya sangat asing satu sama lain. Perlahan perempuan itu meraba sofa dibelakangnya dengan sebelah tangan, mencoba mengingat perasaan hangat yang dulu sempat dia rasakan. Dia kembali tergugu. Kini dia benar-benar merasa sendirian. Kini dia benar-benar merasa sepi.

Entah salah siapa semuanya kini menjadi semakin dingin, entah karena apa semuanya terasa asing dan canggung. Bahkan hanya untuk saling menyapa saja rasanya sudah terlalu canggung meskipun mereka telah bersama bertahun-tahun lamanya. Perempuan itu kembali menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut dan memejamkan matanya. Dia lelah, tapi rasanya sulit untuk melepas lelaki itu. Semua kenangan itu terlalu berarti untuk dia lepas begitu saja meskipun kini semuanya hanya membawa luka.

Hampir tengah malam ketika lelaki itu kembali. Entahlah, dia hanya merasa harus kembali ke rumah itu meski kini tak lagi ada kehangatan yang di dapatinya di sana. Perlahan dia membuka pintu dan kemudian dia menghela napasnya berat setelah memasuki rumah itu lagi yang beberapa jam lalu baru saja dia tinggalkan. Tubuhnya membeku ketika dilihatnya perempuan itu duduk di lantai sambil memeluk kedua lututnya. Ingin rasanya dia merengkuh perempuan itu dan merasakan kembali kehangatannya, tapi semua kini terasa jauh. Dia berjalan pelan mendekati perempuan itu dan hendak membangunkannya, tapi tangannya berhenti dan menggantung di udara. Ragu, ditariknya kembali tangannya dan berbalik menjauh. Langkahnya terhenti ketika suara yang begitu dia rindukan kembali terdengar. Tapi suara itu terdengar berbeda, ada getaran kesedihan di sana.

Perempuan itu tahu lelaki itu telah kembali tapi matanya terlalu lelah untuk kembali terbuka. Dan ketika lelaki itu berjalan mendekat, dia bisa merasakan kerinduan yang sama seperti yang dia miliki pada lelaki itu. Tapi hatinya mencelos ketika lelaki itu kembali berjalan menjauh. Perempuan itu akhirnya mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya.
“Apakah semuanya akan berakhir seperti ini?”

Lelaki itu masih diam. Dia masih merekam semua yang baru saja didengarnya baik-baik dalam ingatannya, agar nanti ketika dia merindukan suara itu dia masih ingat seperti apa kedengarannya.
“Oppa, sampai kapan kita akan seperti ini?” Perempuan itu menegakan kepalanya dan kemudian bangkit berdiri.
Lelaki itu tidak menjawab. Dia kemudian membalikan badannya menghadap permpuan itu dan memasang ekspresi dinginnya. Sungguh melihat perempuan itu membuatnya ingin berlari dan memeluknya.

Perempuan itu masih berdiri membelakangi lelaki yang kini tengah menatapnya. Setelah memejamkan matanya sejenak dan menghela napasnya berat, dia berbalik dan mendapati lelaki itu menatapnya dalam.
“Apakah aku sudah tidak memiliki arti apapun lagi bagimu?” perempuan itu kembali bertanya.
Lelaki itu menghindari tatapan perempuan di hadapannya. Perempuan itu kemudian menunduk menahan air matanya agar tidak kembali turun.

“Jinri-ya~ ” lelaki itu kembali mengucapkan namanya untuk pertama kali semenjak hubungan mereka mendingin.

“Jinri-ya…” Lagi, lelaki itu memanggil namanya. Perempuan itu kemudian mendongak, menatap wajah lelaki yang begitu lekat dalam ingatannya. Wajah itu masih sama, wajah itu masih mempesona, hanya saja bias hangat di kedua matanya mulai padam.

“Oppa, kita akhiri saja.” Perempuan itu, Choi Jinri, kembali berucap. Lelaki itu diam mematung, terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan perempuan itu. Sungguh, meskipun dia juga menyadari hubungan ini sudah terlalu hambar tapi dia masih tidak ingin berpisah darinya.

“Aku tidak bisa mengakhirinya begitu saja, Jinri-ya.” Lelaki itu menjawab sambil menatap perempuan di hadapannya lekat.

“Oppa! Kita bahkan sekarang lebih asing daripada dua orang yang tidak saling mengenal! Apalagi yang bisa dipertahankan?” suara Jinri meninggi. Gagal, gagal sudah upayanya untuk tidak menangis di hadapan Lee Taemin.

Taemin terbelalak melihat air mata Jinri yang mengalir perlahan. Wajah perempuan itu terlalu banyak memancarkan gurat kesedihan. Karena dirinya kah? Tanpa dia sadari tangannya telah bergerak untuk menghapus air mata Jinri, tapi lagi-lagi hanya berhenti menggantung di udara.

“Aku lelah hidup seperti ini. Rumah ini terasa semakin dingin.” Jinri kembali berucap sambil menyeka air matanya.

“Tolong jangan seperti ini Jinri-ya~” taemin memberanikan diri menghapus air mata Jinri dengan ibu jarinya. Dia berjalan maju memperpendek jarak di antara keduanya. Tangan kanannya merengkuh wajah Jinri, sementara tangan kirinya berusaha menarik perempuan itu mendekat.

“Aku juga tidak tahu mengapa semuanya jadi seperti ini, tapi kumohon jangan pernah katakan bahwa kamu ingin mengakhiri semuanya.” Taemin berbisik dengan suara parau menahan tangisnya sendiri. Entah sudah berapa lama mereka tidak berbicara sebanyak ini. Terakhir kali hanya pertengkaran demi pertengkaran yang mereka alami sebelum akhirnya semuanya menjadi semakin dingin.

Perempuan itu terisak pelan, dia juga tidak ingin berpisah tapi dia sudah benar-benar lelah hidup bagaikan orang asing bagi suaminya sendiri. Akan lebih baik jika mereka mengakhirinya sekarang, sebelum semuanya jadi semakin parah dan semakin menggoreskan luka bagi keduanya.

“Aku tidak ingin semuanya berakhir ketika kita masih bersikap seperti orang asing begini. Setidaknya kita harus kembali mencoba.” Taemin kembali berjalan mendekat, menghapus setiap jarak yang terentang. Mencoba untuk merasakan lagi kehadiran satu sama lain, mencoba untuk menggali lagi rasa yang dulu menyatukan mereka.

“Tolong jangan katakan bahwa kamu ingin mengakhirinya sementara kita belum mencoba untuk membangun semuanya lagi dari awal.” Ucap Taemin pelan saat dia sudah berhasil meniadakan jarak dengan Jinri dan merengkuh perempuan itu dalam pelukannya secara nyata.

Ragu Jinri membalas pelukan itu. Mekipun rasanya tak sehangat dulu, tapi dia masih bisa merasakan bahwa lelaki itu masih memiliki rasa yang sama dengannya.

“Aku hilang arah tanpamu Jinri-ya, kumohon jangan pernah pergi.” Taemin mengeratkan pelukannya. Jinri tersenyum sesaat. Perasaan hangat itu perlahan mulai kembali.

“Maaf, aku terlalu mengabaikanmu dan membuat semuanya menjadi dingin.” Lelaki itu kembali berbisik pelan.

“Oppa, bisakah kita memulainya dari awal lagi?” jinri berbisik dengan suara sengaunya.

“Kita akan memulai semuanya dari awal lagi. Kita akan memperbaiki semuanya bersama. Kamu mau percaya padaku untuk kedua kalinya?” Taemin membelai perlahan rambut Jinri yang terurai panjang dan kemudian mencium puncak kepala perempuan itu. Perempuan itu hanya menggumam, masih sulit baginya untuk percaya bahwa kini gunung es yang selama beberapa waktu ini mengungkung mereka kini dengan mudahnya mencair. Enggan rasanya perempuan itu melepaskan pelukan ini. Dia takut ketika nanti pelukan ini benar-benar terlepas, Taemin akan kembali dingin dan bersikap layaknya orang asing baginya.

Taemin melepaskan pelukannya dan kemudian merengkuh wajah Jinri dengan kedua tangannya. Dihapusnya sisa-sisa air mata Jinri dengan ibu jarinya. Lelaki itu tersenyun dan kemudian menempelkan keningnya pada kening Jinri. Jinri meraba pelan tangan Taemin yang merengkuh kedua pipinya. Hangat. Tangan itu masih terasa hangat, membuat wajahnya merona.

“Jinri-ya, kita akan membuat rumah ini kembali terasa hangat. Kita akan kembali menghidupkan api yang hampir padam ini bersama. Eo?” Taemin kembali bertanya dan didapatinya Jinri kini tersenyum. Wajah yang tadi penuh dengan gurat kesedihan kini mulai berpendar dengan binar hangat di matanya. Dengan penuh keyakinan perempuan itu memeluk lelaki di hadapannya, membuat lelaki itu sedikit terhuyung mundur ke belakang dan tertawa.

Meskipun rasa itu sempat pudar, kini apa yang mereka rasakan telah kembali utuh. Bukan hanya kembali seperti semula, tapi lebih kuat dari yang sebelumnya. Karena badai itu membuat keduanya yakin, berjalan sendiri di tengah pusaran badai hanya akan membuatmu tersesat dan hilang arah. Meskipun semuanya sempat terlihat mustahil untuk kembali disatukan, selama belum dicoba kita tak akan pernah tahu bagaimana hasil akhirnya.

Fin

Oke ini endingnya kacau banget. Nggak ngerti gimana mau bikin ini cerita finish, akhirnya malah jadi aneh gini #cries.
Thanks to Nicole and Lee Jong Suk for gimme inspiration to write this ficion. Lee Jong Suk Jjang!!!

Iklan

Yes, I Am Like This.

Aku kembali memikirkan hal ini. Sudah sekian lama sejak terakhir kali aku memikirkan hal ini. Bertahun lalu ketika aku masih belasan, pikiran seperti ini selalu datang. Sekarang hal itu kembali menghantuiku. Haruskah aku menurutinya kali ini?
Tahun ini usiaku dua puluh empat tahun. Memikirkan hal seperti ini membuatku entahlah, jengah? Aku benci menjadi tua, aku tak suka kehidupan orang dewasa. Dulu saat aku masih di sekolah menengah, aku pernah memcoba melakukan ini. Silet, cutter, bahkan menghantamkan kepalaku sendiri ke tembok sudah kulakukan tapi semuanya hanya berakhir dengan rasa sakit dan tangisan. Aku sudah lelah untuk bertahan. Aku sudah cukup lelah untuk membiarkan orang tuaku terus berkorban tanpa ada perubahan. Aku ingin mengakhiri semuanya, tapi apakah aku cukup tangguh kali ini untuk mengakhiri semuanya? Apakah aku cukup mempunyai keberanian untuk berhenti?
Kalian mungkin menanggapku menyedihkan dan konyol, tapi sungguh. Aku hanya ingin mati. Tidak tahukah kalian betapa besarnya keinginanku untuk mengakhiri semua ini?
Seharusnya jika aku ingin benar-benar berhenti, aku hanya butuh untuk mengakhiri semuanya sekarang. Tapi kadang selalu muncul pertanyaan seperti ini. Apakah mati itu menyakitkan? Apakah mati itu menakutkan? Apakah nanti ketika aku mati ada seseorang yang kehilangan? Seberapa besarkah kenangan yang akan kutinggalkan bagi orang lain? Apakah aku bahkan akan diingat? Mengapa aku tiba-tiba merasa takut?
Semua hal terus saja menari di otakku, bagaimana aku harus mengakhirinya? Aku benar-benar bodoh. Aku tahu itu. Jika nanti aku benar-benar mengakhirinya, apakah kalian semua akan merasa kehilangan?