Hey 24!

‘This is my December. This is my time of the year!’

Otanjoubi Omedetou!

Otanjoubi Omedetou!

Tahun ini 13 Desember bertepatan dengan hari Jumat. Hari Jumat keramat, sayangnya bukan Jumat Kliwon. Seperti yang sudah-sudah,kali ini 13 Desember bahkan terasa lebih hambar. No friends, no sisters, just me all alone. Sedih sih, tapi aku bisa apa?
‘Age is just number, being young is forever.’ I do agree with that, tapi bukankah kita harus bersikap sesuai dengan umur agar tidak disangka mengidap mental disorder? Oh well, I become a hypocrite. Seringkali aku mengatakan ‘Hey, grow up! Kita bukan anak kecil lagi, jangan kekanakan gitulah.’ kepada beberapa teman yang terkadang masih bersikap kekanakan, tapi aku sendiri masih saja melakukan apa yang disebut orang hal kekanak-kanakan. Pathethic, Yes I am!
Tahun ini umurku 24. Ketika orang lain yang memasuki umur 24 mulai merencanakan pernikahan atau bahkan sudah menikah, aku masih belum beranjak dari duniaku. Dunia yang berhenti tumbuh secara mental di usia 16 tahun. Immature, childish dan labil secara emosional. Dan konyolnya aku nyaman berada di dunia yang tak pernah maju ini. 2013 berlalu dengan penuh kesia-siaan, akankah 2014 aku masih saja seperti ini?

Oh well, Happy birthday to me. 24th just come once in a life, be happy!

Happy 24th!

Happy 24th!

Sepenggal Cerita #2

‘Adit!’ seru Rena sambil berjalan, setengah berlari, menghampiri lelaki yang sedang duduk ditemani laptopnya di salah satu sudut kafetaria kampus.
Lelaki yang bernama Adit itu kemudian mengalihkan tatapannya sejenak ke arah suara yang memanggilnya. Dia kemudian melambaikan tangan meminta Rena untuk bergegas.
‘Maaf telat. Kamu udah lama ya nunggunya?’ tanya Rena setengah berbisik setelah duduk di hadapan Adit.
‘Enggak kok, aku juga baru nyampe. Aku tau banget kamu tuh punya masalah sama yang namanya On-Time.’ Sahut Adit sembari menyodorkan gelas berisi es teh miliknya yang tentu saja langsung diterima Rena dengan senang hati. Dalam sekejap, es teh yang berada di gelas berpindah lebih dari setengahnya ke dalam perut gadis itu.
‘Gelasnya bocor ya Ren?’ ujar Adit dengan nada menyindir. Rena yang memang sudah kebal dengan sindiran sahabatnya hanya terkekeh. Wajah Rena tiba-tiba berubah serius membuat Adit mengernyitkan dahinya bingung.
‘Kamu kenapa sih? Aneh banget tiba-tiba pasang muka serius begitu.’ Adit menyentil pelan dahi Rena. Gadis itu mengaduh dan mengusap dahinya sambil menggerutu bahwa kebiasaan Adit ini bisa membuatnya semakin bodoh.
‘Ada apaan tiba-tiba ngajakin ketemu?’ tanya Adit setelah menghabiskan sisa es teh di gelasnya sebelum kembali diminum Rena. Semburat merah muda tiba-tiba muncul di wajah Rena, merasa wajahnya panas, gadis itu kemudian menangkupkan kedua telapak tangannya ke pipi. Selama bersahabat dengan gadis itu lebih dari tiga tahun, baru kali ini dilihatnya Rena tersipu dan itu benar-benar membuatnya jadi salah tingkah.
‘Yuda ngajakin aku kencan kemarin.’ Ucap Rena lirih. Mendengar nama Yuda disebut membuat ekspresi wajah Adit berubah kaku.
‘Kencan? Sama Yuda? Serius?’ tanya Adit beruntun. Rena hanya mengangguk tanpa melihat wajah Adit. Gadis itu hanya terus menunduk sambil memegangi pipinya yang masih terasa panas. Adit tahu betul beberapa bulan belakangan Rena memang sedang dekat dengan Yuda, salah satu anggota senat mahasiswa yang berada satu divisi dengannya, tapi dia tidak pernah mengira hubungan mereka akan sampai sejauh ini.
‘Kamu pacaran sama Yuda.’ Kata Adit pelan namun tegas. Ya, itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan dan lagi-lagi hanya ditanggapi dengan anggukan dan wajah tersipu oleh Rena. Hati lelaki itu mencelos, bukan ini yang dia ingin tahu saat ini. Bukan ini yang dia inginkan terjadi saat ini.
‘Eh iya, kamu bilang mau ngasih tau aku sesuatu. Ngasih tau apaan sih?’ tanya Rena yang teringat pembicaraan mereka semalam. Adit langsung kikuk dan tergagap menjawab pertanyaan Rena.
‘Oh itu…itu…lupa ah Ren. Besok kalau udah ingat aku SMS kamu aja.’
Rena mengerucutkan bibirnya kesal dan kemudian beranjak dari kursinya.
‘Udah kan berarti gak jadi cerita? Kalau gitu aku pergi dulu. Yuda udah nungguin di ruang senat. See you…’ ujar Rena sebelum berlalu dan meninggalkan Adit yang masih termangu di tempatnya duduk saat ini.
‘Aku selama ini suka sama kamu Ren, tapi kenapa kamu gak bisa melihatnya?’ ucap Adit lirih dan kemudian tersenyum kecut sebelum akhirnya dia berkemas dan pergi meninggalkan kafetaria.

-Aku selalu ada bersamamu, selalu ada didekatmu, tapi mengapa kamu tidak bisa melihat bahwa aku mencintaimu?-

Sepenggal Cerita #1

Dengan mencintaimu aku belajar ikhlas. Ikhlas menerima kenyataan bahwa pada akhirnya bukan aku yang kamu pilih untuk berdiri di sisimu.

‘Aku akan menikah, Di.’ ucap Yoga pelan sambil menatap Diandra yang masih asik mengaduk kopinya. Sontak gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap lelaki yang duduk di hadapannya. Terang saja dia terkejut. Topik ini memang dihindarinya beberapa waktu belakangan.
‘Menikah? Kapan?’ sahut Diandra.
Yoga tak mampu menyembunyikan senyumnya melihat keterkejutan di wajah sahabatnya itu.
‘Bulan depan, tanggal 4. Aku dan Wulan sudah sepakat memilih tanggal itu.’ jawab Yoga. Lelaki itu kemudian menyesap kopinya sementara Diandra masih sibuk mencerna kata demi kata yang baru saja didengarnya.
‘Oo..Oh? Selamat kalau begitu.’ ucap Diandra sambil mengulurkan tangan kanannya. Dipaksanya bibirnya untuk tersenyum sementara hatinya teriris. Oh, ayolah. Siapa yang tidak akan patah hati saat mendengar orang yang diam-diam kamu cintai sekian lama pada akhirnya memilih untuk bersama orang lain?
‘Thank you Di. Kamu memang sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Kalau bukan karena kamu, mungkin tidak akan pernah ada pernikahan ini.’ sahut Yoga menyambut uluran tangan Diandra.
Gadis itu masih tersenyum menanggapi semua cerita sahabatnya mengenai persiapan pernikahannya. Dia menikmati setiap menit yang dihabiskannya bersama Yoga meskipun pada akhirnya dia harus memendam rasa sakitnya dalam-dalam.
‘Aku suka melihatmu tersenyum, Ga. Karena dengan melihat senyumanmu, aku merasa bahagia meskipun bukan aku alasanmu untuk tersenyum.’

BABE…

Key - Babe

Author : Blue Rhey
Main Cast : Key, Key’s wife
Length : Ficlet
Genre : Romance
Rating : PG-16
Summary : Kau mencintaiku?
A/N : Otakku sedikit nakal waktu nulis ep-ep abal-abal ini. Ngebayangin muka Key yang jahil dan tatapan matanya yang tajam tapi mempesona itu bikin otak mikir yang ‘iya-iya’. Hehehe… So, here we goes. Enjoy…

Malam itu Key tidak dapat memicingkan matanya barang sekejap. Hatinya gelisah, tubuhnya bergerak ke kanan dan ke kiri. Sementara di sebelahnya terbaring sang istri yang sudah mulai terlelap. Key kemudian membalik tubuhnya menghadap perempuan yang terbaring lelap di sampingnya. Ditelusurinya wajah sang istri dengan perlahan, takut gerakan tangannya akan membangunkannya dari mimpi. Wajah yang mungil, bulu mata yang lentik, alis bulan sabit yang melengkung sempurna, hidung mancung, dan juga bibir mungil dan tipis yang semerah cherry. Key tak pernah bosan, tak akan pernah bosan memandangi wajah istrinya itu. Dengan gerakan perlahan dia selipkan rambut yang terurai menutup wajah isrtinya itu kebelakang telinga.

“You are beautiful as usual babe…” bisik Key lirih sambil membelai pipi istrinya perlahan.

“Sampai kapan kau mau memandangiku seperti itu. Ini sudah larut malam, kau tidurlah.” perempuan itu masih terpejam, tapi dia tahu betul apa yang saat ini sedang dilakukan oleh suaminya. “Aku tahu aku cantik, tapi kan kau masih bisa memandangiku lagi besok pagi, besoknya lagi, dan besoknya lagi dan seterusnya. Sekarang kau istirahatlah, besok pagi kan kau ada jadwal bersama SHINee.” lanjutnya sambil memiringkan badannya menghadap Key dan kemudian membuka matanya perlahan. Inilah yang membuat Key begitu tergila-gila pada istrinya itu. Bulu mata lentik itu akan terlihat sempurna ketika sang pemilik membuka matanya perlahan dan memperlihatkan bola matanya yang indah berwarna cokelat dan teduh.

Jantung Key selalu berdetak kencang ketika melihat wajah istrinya. Ini bukan malam pertama, kedua ataupun malam ke sepuluh. Ini sudah malam ke tiga ratus mereka habiskan bersama, tetapi getaran itu bukannya semakin padam malah semakin kuat dirasakan oleh Key setiap kali melihat wajah istrinya dari jarak sedekat ini. Tidur di ranjang yang sama, di bawah selimut yang sama dengan jarak kurang dari tiga puluh senti. Bagaimanapun juga dia tetap lelaki normal yang jantungnya tetap berdebar dua kali lebih cepat ketika melihat istrinya hanya mengenakan baju tidur tipis yang dengan jelas menggambarkan lekuk tubuhnya yang indah.

“Aku takut jika aku tidur malam ini, besok pagi ketika aku bangun ternyata ini semua hanya mimpi. Aku takut jika nanti aku bangun, kau tidak ada di sampingku.” Bisik Key pelan. Istrinya hanya tersenyum tanpa membalas pernyataan Key. Lelaki itu kemudian menatap mata sang istri dalam. Mata kucingnya berusaha mencari jawaban dari pertanyaanya yang masih dia pendam dalam hati. Sementara itu kini sang istri bingung mengapa suaminya bertingkah aneh malam itu.

“Kau mencintaiku?” Key mengutarakan pertanyaan yang sejak tadi berkecamuk di hatinya.

“Tentu saja. Kalau tidak, untuk apa aku mau menikah denganmu.” Dijawabnya pertanyaan Key singkat.

Key kemudian diam. Dia mengulurkan tangannya membelai pipi perempuan di depannya itu. Dia bertanya sekali lagi,

“Kau sungguh mencintaiku?”

Perempuan itu terlihat sedikit kesal dengan pertanyaan berulang dari suaminya. “Iya, aku mencintaimu. Kau ini kenapa sih?”

“Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu apakah kau sungguh mencintaiku.” Key menjawab pertanyaan istrinya sambil membelai lembut rambutnya. Dia mendengus kesal dan kemudian berbalik dan memunggungi suaminya. Melihat reaksi istrinya, Key lalu merapatkan tubuhnya pada perempuan di depannya itu dan kemudian memeluknya dari belakang. Dia sandarkan dagunya di bahu istrinya. Key kembali bertanya untuk ketiga kalinya.

“Kau sungguh mencintaiku?”

Kekesalan perempuan itu memuncak. Suaminya tahu betul bahwa dia sangat mencintainya, kenapa harus dipertanyakan lagi? Dia berdecak kesal dan membalikkan tubuhnya menghadap Key.

“Iya, aku mencintaimu. Sangat. Kau puas? Sekali lagi kau menanyakan hal ini, akan kutendang kau keluar.” jawabnya ketus dan menatap mata suaminya tajam. Key tersenyum, dia tahu betul apa yang akan diucapkan istrinya itu.

“Kau sebaiknya tidur sekarang. Aku sudah sangat mengantuk untuk meladeni pertanyaan konyolmu yang lain.” Perempuan itu melanjutkan kata-katanya ketika dilihatnya senyum di wajah suaminya berubah menjadi senyuman jahil. Ini pertanda buruk baginya. Senyuman itu mengandung berbagai makna yang sulit ditebak, makanya dia memilih untuk buru-buru memejamkan matanya. Key tertawa pelan nyaris tak terdengar sambil menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Sejurus kemudian tawanya terhenti dan dia memandang istrinya dengan tatapan datar.

Mendengar tidak ada lagi suara mencurigakan dari suaminya, dia kemudian membuka matanya perlahan. Dia terkejut ketika mendapati Key menatapnya tanpa ekspresi. Diapun bertanya, “Ya! Kau kenapa lagi?”

Masih dengan ekspresi yang sama, Key kemudian berujar, “Aku ingin mempunyai anak laki-laki yang wajahnya mirip denganku.”

“Kau… apa maumu sekarang?” dia kembali bertanya. Key mengabaikan pertanyaan istrinya. Sebagai gantinya dia menarik tubuh sang istri mendekat.

Perempuan itu terkejut dengan perubahan tiba-tiba yang terjadi pada suaminya. “Ya! Ya! Ya! Kau mau ap…” belum sempat istrinya menuntaskan kalimatnya, Key sudah membungkam bibir istrinya itu dengan sebuah ciuman yang penuh gairah.

Tamat.

Ganti Harddisk, Kehilangan Inspirasi Menulis dan Jerawat yang Merajalela

Gak pernah terbayangkan hal seperti ini akan terjadi. Selama aku memiliki Zeezee sebagai laptopku, dia selalu baik hati dan ramah. Tak pernah dia menyusahkanku dan yah aku sayang banget sama Zeezee. Sampai hari itu tiba. Akhir bulan April lalu, tepatnya tanggal 19, tiba-tiba dia sakit. Gejala awalnya sih sudah mulai terasa sejak tanggal 16 Desember tahun lalu, tapi untungnya dia beroperasi normal lagi sampai akhir bulan April mungkin dia sudah tidak mampu lagi menahan rasa sakitnya dan kolaps. Kira-kira hari Minggu tanggal 21 April kubawa laptop kesayanganku ke dokter dan malemnya langsung dapet kabar kalau dia harus ganti harddisk. Zeezeeku yang cantik dan nggak pernah rewel itu harus merasakan dinginnya ruang bedah dan berbagai peralatan yang mempreteli tubuhnya. Sebenernya sih nggak masalah kalo udah bikin back up data semua yang ada di harddisk lama, lah ini masalahnya semua film, drama seri, music video dan mp3 serta semua data yang aku punya dari tahun 2011 belum sama sekali di back up. Mati gak tuh hampir sekitar 300GB dataku ilang bersamaan dengan digantinya harddisk dengan yang baru. Sedih sih awalnya, tapi ya udah namanya juga halangan. Sekarang Zeezee udah pake harddisk baru dan semuga kali ini nggak akan bermasalah lagi.
Memikirkan sakitnya Zeezee ternyata juga berpengaruh pada mood menulisku yang sekarang entah kenapa menguap gitu aja. semenjak memasuki bulan Mei belum ada satu judulpun yang terlintas untuk dikembangkan menjadi sebuah tulisan. Ngeselin sih emang, tapi kalau dipaksa di depan laptop lama-lama juga percuma, tetep aja nggak bisa nulis. mungkin saking betenya sampai mempengaruhi hormon juga dan imbasnya sekarang jerawat merajalela di seluruh pipi kanan dan kiri…ouch. Ngeselin.
Dan yang bikin tambah ngeselin lagi ternyata jerawat ini salah satu pencetusnya adalah makanan-makanan kesukaanku. Kacang, makanan olahan susu, makanan manis dan telur. Semuanya aku suka dan nggak mungkin dihindari. Nggak adil banget aku yang mukanya udah pas-pasan masih dikasih jerawat segudang!! Aku mau protes, aku mau marah tapi sama siapa? Ya udah sih akhirnya pasrah aja…dan usaha buat ngilangin jerawat.

LOST

Poster Lost
Writer : Bluerhey
Main Cast : Lee Taemin, Choi Jinri
Lenght : Oneshot
Rating : G
Summary : Lelaki itu semakin mendingin dan perempuan itu menangis ketika tak seorangpun melihat kepadanya.
A/N : I’m back with new abal-abal fanfiction. Kali ini bakal bikin karakter Taemin agak dingin. Well, aku bingung sama endingnya yang kacau balau #cries. So please enjoy the story.

Kedua orang itu hanya saling menatap tanpa mengatakan apapun kepada satu sama lain. Mereka bahkan terlihat saling menghindari tatapan satu sama lain. Keduanya terlihat seperti orang asing, bahkan mungkin lebih asing daripada orang asing. Laki-laki itu kini semakin dingin, dan perempuan itu hanya bisa menangis ketika tak ada yang melihat. Ini bahkan terasa lebih canggung dibandingkan ketika mereka pertama kali bertemu bertahun-tahun yang lalu.

Semuanya terasa begitu cepat berubah tanpa mampu mereka cegah. Bahkan duduk di ruang yang sama kini terasa sangat menyesakkan. Lelaki itu kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menjauh. Perempuan itu ingin mencegahnya pergi, tapi rasanya terlalu canggung untuk kembali berbicara dengannya sehingga dia hanya terus menunduk dan memeluk dirinya sendiri. Lelaki itu berhenti sejenak, membalik badannya untuk melihat kembali perempuan yang masih menunduk dalam itu. Dulu dia akan langsung memeluk perempuan itu dan memberinya kecupan selamat malam, tapi kini rasanya semua terlalu canggung untuk dilakukan dan akhirnya dia memilih untuk melangkah pergi.

Lelaki itu benar-benar pergi. Meskipun awalnya ragu, toh akhirnya dia benar-benar menutup pintu itu di balik punggungnya. Perempuan itu merosot dari sofa dan duduk di lantai memeluk lututnya. Dia kini benar-benar merasa sendirian. Entah sejak kapan matanya mulai basah, air matanya kembali mengalir pelan. Bahkan setelah lelaki itu meninggalkannya, aroma tubuhnya, sentuhannya dan sosoknya yang tengah tersenyum hangat masih begitu lekat dalam ingatannya. Semuanya masih terasa begitu nyata bagi perempuan itu, segala yang mereka lakukan di tempat ini, bahkan saat pertama kali mereka bertemu masih terasa begitu nyata baginya.

Kopi itu sudah mulai dingin ketika dia meminumnya, sama seperti hatinya yang telah mendingin. Perempuan itu masih betah duduk sambil memeluk lututnya, pikirannya menerawang jauh kembali pada masa-masa ketika rasa yang mereka miliki masih hangat. Kilasan-kilasan setiap kejadian yang mereka alami di rumah ini kembali berputar di depan matanya. Waktu seakan berjalan mundur bagi perempuan itu, karena semua yang terlihat di depannya hanya kilasan masa lalu. Saat pertama kali mereka memasuki rumah ini untuk memulai sebuah keluarga. Saat mereka memasak makanan pertama mereka di rumah ini dan segala hal yang telah mereka lalui bersama sebelum semuanya perlahan berubah menjadi semakin dingin tanpa bisa dia cegah.

Perempuan itu kembali menyeka air matanya. Bayangan lelaki itu sedikitpun tak mau beranjak dari angannya. Dia bahkan masih bisa melihat jelas semua kenangan itu. Ketika lelaki itu mengambilkan panci yang terletak di atas rak yang tak sanggup dia jangkau. Ketika lelaki itu membantunya mengangkat pinggan panas berisi sup dan ketika lelaki itu memeluknya dari belakang saat dia sedang mencuci piring. Semua itu kini hanya menyisakan luka di hatinya ketika mengingat.

Perempuan itu kini menengadahkan kepalanya mencoba untuk menghentikan laju air matanya, tapi sia-sia. Air matanya kembali mengalir deras tatkala pandangannya terpaku pada sofa di belakangnya. Dulu lelaki itu memeluknya di sana ketika mereka menonton film horor bersama, dulu lelaki itu memeluknya ketika dia menangis saat mereka bersama menonton film roman yang berakhir sedih, dulu mereka begitu hangat, kenapa sekarang semuanya berubah dingin? Bahkan saat mereka tidur di ranjang yang sama pun, rasanya sangat asing satu sama lain. Perlahan perempuan itu meraba sofa dibelakangnya dengan sebelah tangan, mencoba mengingat perasaan hangat yang dulu sempat dia rasakan. Dia kembali tergugu. Kini dia benar-benar merasa sendirian. Kini dia benar-benar merasa sepi.

Entah salah siapa semuanya kini menjadi semakin dingin, entah karena apa semuanya terasa asing dan canggung. Bahkan hanya untuk saling menyapa saja rasanya sudah terlalu canggung meskipun mereka telah bersama bertahun-tahun lamanya. Perempuan itu kembali menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut dan memejamkan matanya. Dia lelah, tapi rasanya sulit untuk melepas lelaki itu. Semua kenangan itu terlalu berarti untuk dia lepas begitu saja meskipun kini semuanya hanya membawa luka.

Hampir tengah malam ketika lelaki itu kembali. Entahlah, dia hanya merasa harus kembali ke rumah itu meski kini tak lagi ada kehangatan yang di dapatinya di sana. Perlahan dia membuka pintu dan kemudian dia menghela napasnya berat setelah memasuki rumah itu lagi yang beberapa jam lalu baru saja dia tinggalkan. Tubuhnya membeku ketika dilihatnya perempuan itu duduk di lantai sambil memeluk kedua lututnya. Ingin rasanya dia merengkuh perempuan itu dan merasakan kembali kehangatannya, tapi semua kini terasa jauh. Dia berjalan pelan mendekati perempuan itu dan hendak membangunkannya, tapi tangannya berhenti dan menggantung di udara. Ragu, ditariknya kembali tangannya dan berbalik menjauh. Langkahnya terhenti ketika suara yang begitu dia rindukan kembali terdengar. Tapi suara itu terdengar berbeda, ada getaran kesedihan di sana.

Perempuan itu tahu lelaki itu telah kembali tapi matanya terlalu lelah untuk kembali terbuka. Dan ketika lelaki itu berjalan mendekat, dia bisa merasakan kerinduan yang sama seperti yang dia miliki pada lelaki itu. Tapi hatinya mencelos ketika lelaki itu kembali berjalan menjauh. Perempuan itu akhirnya mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya.
“Apakah semuanya akan berakhir seperti ini?”

Lelaki itu masih diam. Dia masih merekam semua yang baru saja didengarnya baik-baik dalam ingatannya, agar nanti ketika dia merindukan suara itu dia masih ingat seperti apa kedengarannya.
“Oppa, sampai kapan kita akan seperti ini?” Perempuan itu menegakan kepalanya dan kemudian bangkit berdiri.
Lelaki itu tidak menjawab. Dia kemudian membalikan badannya menghadap permpuan itu dan memasang ekspresi dinginnya. Sungguh melihat perempuan itu membuatnya ingin berlari dan memeluknya.

Perempuan itu masih berdiri membelakangi lelaki yang kini tengah menatapnya. Setelah memejamkan matanya sejenak dan menghela napasnya berat, dia berbalik dan mendapati lelaki itu menatapnya dalam.
“Apakah aku sudah tidak memiliki arti apapun lagi bagimu?” perempuan itu kembali bertanya.
Lelaki itu menghindari tatapan perempuan di hadapannya. Perempuan itu kemudian menunduk menahan air matanya agar tidak kembali turun.

“Jinri-ya~ ” lelaki itu kembali mengucapkan namanya untuk pertama kali semenjak hubungan mereka mendingin.

“Jinri-ya…” Lagi, lelaki itu memanggil namanya. Perempuan itu kemudian mendongak, menatap wajah lelaki yang begitu lekat dalam ingatannya. Wajah itu masih sama, wajah itu masih mempesona, hanya saja bias hangat di kedua matanya mulai padam.

“Oppa, kita akhiri saja.” Perempuan itu, Choi Jinri, kembali berucap. Lelaki itu diam mematung, terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan perempuan itu. Sungguh, meskipun dia juga menyadari hubungan ini sudah terlalu hambar tapi dia masih tidak ingin berpisah darinya.

“Aku tidak bisa mengakhirinya begitu saja, Jinri-ya.” Lelaki itu menjawab sambil menatap perempuan di hadapannya lekat.

“Oppa! Kita bahkan sekarang lebih asing daripada dua orang yang tidak saling mengenal! Apalagi yang bisa dipertahankan?” suara Jinri meninggi. Gagal, gagal sudah upayanya untuk tidak menangis di hadapan Lee Taemin.

Taemin terbelalak melihat air mata Jinri yang mengalir perlahan. Wajah perempuan itu terlalu banyak memancarkan gurat kesedihan. Karena dirinya kah? Tanpa dia sadari tangannya telah bergerak untuk menghapus air mata Jinri, tapi lagi-lagi hanya berhenti menggantung di udara.

“Aku lelah hidup seperti ini. Rumah ini terasa semakin dingin.” Jinri kembali berucap sambil menyeka air matanya.

“Tolong jangan seperti ini Jinri-ya~” taemin memberanikan diri menghapus air mata Jinri dengan ibu jarinya. Dia berjalan maju memperpendek jarak di antara keduanya. Tangan kanannya merengkuh wajah Jinri, sementara tangan kirinya berusaha menarik perempuan itu mendekat.

“Aku juga tidak tahu mengapa semuanya jadi seperti ini, tapi kumohon jangan pernah katakan bahwa kamu ingin mengakhiri semuanya.” Taemin berbisik dengan suara parau menahan tangisnya sendiri. Entah sudah berapa lama mereka tidak berbicara sebanyak ini. Terakhir kali hanya pertengkaran demi pertengkaran yang mereka alami sebelum akhirnya semuanya menjadi semakin dingin.

Perempuan itu terisak pelan, dia juga tidak ingin berpisah tapi dia sudah benar-benar lelah hidup bagaikan orang asing bagi suaminya sendiri. Akan lebih baik jika mereka mengakhirinya sekarang, sebelum semuanya jadi semakin parah dan semakin menggoreskan luka bagi keduanya.

“Aku tidak ingin semuanya berakhir ketika kita masih bersikap seperti orang asing begini. Setidaknya kita harus kembali mencoba.” Taemin kembali berjalan mendekat, menghapus setiap jarak yang terentang. Mencoba untuk merasakan lagi kehadiran satu sama lain, mencoba untuk menggali lagi rasa yang dulu menyatukan mereka.

“Tolong jangan katakan bahwa kamu ingin mengakhirinya sementara kita belum mencoba untuk membangun semuanya lagi dari awal.” Ucap Taemin pelan saat dia sudah berhasil meniadakan jarak dengan Jinri dan merengkuh perempuan itu dalam pelukannya secara nyata.

Ragu Jinri membalas pelukan itu. Mekipun rasanya tak sehangat dulu, tapi dia masih bisa merasakan bahwa lelaki itu masih memiliki rasa yang sama dengannya.

“Aku hilang arah tanpamu Jinri-ya, kumohon jangan pernah pergi.” Taemin mengeratkan pelukannya. Jinri tersenyum sesaat. Perasaan hangat itu perlahan mulai kembali.

“Maaf, aku terlalu mengabaikanmu dan membuat semuanya menjadi dingin.” Lelaki itu kembali berbisik pelan.

“Oppa, bisakah kita memulainya dari awal lagi?” jinri berbisik dengan suara sengaunya.

“Kita akan memulai semuanya dari awal lagi. Kita akan memperbaiki semuanya bersama. Kamu mau percaya padaku untuk kedua kalinya?” Taemin membelai perlahan rambut Jinri yang terurai panjang dan kemudian mencium puncak kepala perempuan itu. Perempuan itu hanya menggumam, masih sulit baginya untuk percaya bahwa kini gunung es yang selama beberapa waktu ini mengungkung mereka kini dengan mudahnya mencair. Enggan rasanya perempuan itu melepaskan pelukan ini. Dia takut ketika nanti pelukan ini benar-benar terlepas, Taemin akan kembali dingin dan bersikap layaknya orang asing baginya.

Taemin melepaskan pelukannya dan kemudian merengkuh wajah Jinri dengan kedua tangannya. Dihapusnya sisa-sisa air mata Jinri dengan ibu jarinya. Lelaki itu tersenyun dan kemudian menempelkan keningnya pada kening Jinri. Jinri meraba pelan tangan Taemin yang merengkuh kedua pipinya. Hangat. Tangan itu masih terasa hangat, membuat wajahnya merona.

“Jinri-ya, kita akan membuat rumah ini kembali terasa hangat. Kita akan kembali menghidupkan api yang hampir padam ini bersama. Eo?” Taemin kembali bertanya dan didapatinya Jinri kini tersenyum. Wajah yang tadi penuh dengan gurat kesedihan kini mulai berpendar dengan binar hangat di matanya. Dengan penuh keyakinan perempuan itu memeluk lelaki di hadapannya, membuat lelaki itu sedikit terhuyung mundur ke belakang dan tertawa.

Meskipun rasa itu sempat pudar, kini apa yang mereka rasakan telah kembali utuh. Bukan hanya kembali seperti semula, tapi lebih kuat dari yang sebelumnya. Karena badai itu membuat keduanya yakin, berjalan sendiri di tengah pusaran badai hanya akan membuatmu tersesat dan hilang arah. Meskipun semuanya sempat terlihat mustahil untuk kembali disatukan, selama belum dicoba kita tak akan pernah tahu bagaimana hasil akhirnya.

Fin

Oke ini endingnya kacau banget. Nggak ngerti gimana mau bikin ini cerita finish, akhirnya malah jadi aneh gini #cries.
Thanks to Nicole and Lee Jong Suk for gimme inspiration to write this ficion. Lee Jong Suk Jjang!!!