STUCK

AU|ROMANCE|PG-13|LEE JINKI|KIM JUNGHEE|KIM GWIBOON|759w|
Dia mengingatkanku pada Junghee.

Kuraih ponsel ogah-ogahan, ada pesan masuk yang aku yakin pasti dari teman magang yang juga merupakan teman sepanjang masa yang kumiliki.
From : Lee Joon
Yo man! Jangan lupa lusa jam 2 siang.

“Oh crap!” umpatku pelan sambil menutupi mata dengan salah satu lengan. Aku hampir saja melupakan janji dengan Joon. Magang di salah satu biro iklan ternama benar-benar menguras energiku akhir-akhir ini sehingga jadi sedikit pelupa. Bahkan setelah tadi saat makan siang Joon sudah mengingatkanku pun aku masih dengan mudahnya lupa.
Double date. Aku tahu betul sahabatku itu tidak tahan melihatku selalu terlihat kesepian apalagi saat akhir minggu. Aku sudah terlalu terbiasa melakukan segala hal sendiri termasuk nonton di bioskop, tapi Joon tidak mau mengerti. Mungkin saja karena beberapa tahun belakangan aku selalu bangun dengan lingkaran hitam bak panda disekitar mataku yang dinilainya sudah kelewat batas. Salahkan gadis sialan itu, kenapa dia tiba-tiba saja raib bak ditelan bumi. Entah sudah berapa kali Joon mengajak tapi selalu kutolak. Kali ini aku tak tega menolak karena Joon memintaku dengan wajah memelas. Bahkan setelah aku berkata “Ayolah Joon, jangan tunjukkan wajah seperti itu. Aku tidak akan menciummu meski kau memaksa!” ekspresi wajah Joon tetap tidak berubah. Akhirnya aku mengalah.
“Oke, kali ini saja.” Ucapku final yang disambut dengan senyum super lebar Joon.
Di sinilah aku sekarang setelah dengan berat hati merelakan tidur siang yang berharga di hari Minggu, duduk seperti satpam pribadi Joon dan Hyuna. Gadis yang diceritakan Hyuna belum juga datang dan aku sudah mulai bosan. Mataku hampir terpejam ketika tiba-tiba terdengar langkah tergesa dari belakang.
“Maaf terlambat, aku harus mengantar pesanan ke tempat pelanggan tadi.” Katanya begitu dia duduk di hadapanku. Aku hanya tersenyum sopan sambil mengamati gadis di depanku seksama. Wajahnya terlihat manis dengan rona merah muda di pipinya. Bibir mungil nan tipis yang dipulas dengan warna peach menambah kesegaran yang terpancar darinya. Belum lagi aroma manis vanila yang menguar darinya. Tanpa sadar aku kembali teringat pada sosok yang selalu mengganggu ketentraman malamku beberapa tahun belakangan. Gadis yang tanpa sepatah katapun pergi begitu saja dari hidupku, Kim Junghee.
Namanya Gwiboon, Kim Gwiboon. Seorang mahasiswa fashion design tingkat akhir, satu tingkat di atas Hyuna, yang sedang mulai merintis bisnis fashion kecil-kecilan bersama beberapa temannya. Orangnya menarik, sama seperti Junghee. Sense of fashion-nya juga bagus, tentu saja dia kan mahasiswa fashion design. Sayangnya kehadirannya justru membuatku semakin teringat akan sosok Junghee yang entah kenapa sangat mirip dengan Gwiboon.
Mereka asyik mengobrol bertiga membicarakan banyak hal, sementara aku hanya tersenyum dan menanggapi ala kadarnya. Bukan karena tidak suka pada Gwiboon, tapi semakin melihatnya, semakin mendengar suaranya dia semakin tampak seperti Kim Junghee. Oh kutuklah aku semaumu, tapi semua yang ada padanya membuatku teringat pada Kim Junghee.
“Jinki-ssi, apa yang sedang menarik perhatianmu akhir-akhir ini?” dia tiba-tiba bertanya padaku.
“Musikal, aku suka menonton pertunjukan musikal.” Kujawab sekenanya. Hal terakhir yang kulakukan bersama Junghee, menonton musikal. Dia tersenyum kecil sambil menyelipkan sejumput rambut ikal kemerahannya ke belakang telinga. Ada 3 piercing di telinga kiri dan 2 di kanan. Milik Junghee juga sama, oh crap!
“Aku juga. Oh iya, musikal Zorro sudah mulai lagi sejak minggu lalu. Kau sudah menontonnya? Aku suka sekali Zorro.” Katanya antusias. Zorro, pahlawan bertopeng yang ahli memainkan pedang. Idola Junghee sejak sekolah menengah yang membuatnya mati-matian ingin tampil seperti Catherine Zeta Jones, versi pendek tentu saja lantaran tingginya tak lebih dari 160 cm. Tanpa sadar aku sudah menggumamkan kata belum sebagai jawaban. Kau adalah lelaki jahat, Lee Jinki. Bagaimana bisa kau memikirkan Kim Junghee sementara di hadapanmu ada Kim Gwiboon, gadis nyaris sempurna yang mencoba segala cara untuk bisa lebih mengenalmu?
Hampir satu jam berlalu dan sepertinya aku sudah terlalu kenyang dengan segala kenangan yang melintas begitu saja setiap kali menatap Gwiboon. Maafkan lelaki brengsek ini, Gwiboon-ssi.
Tidak sengaja aku menatap keluar kafe. Di seberang kafe ada toko roti langgananku dan Junghee sejak SD dan aku menangkap sosoknya tengah memasuki toko. Mungkin aku sedang berhalusinasi, tapi jelas itu adalah Kim Junghee. Tubuh mungil yang dibalut dress selutut warna pastel lembut dan cardigan putih serta flat shoes dengan warna senada. Rambut ikal hitamnya tergerai menutup sebagian punggung. Aku yakin itu Junghee meskipun hanya melihatnya dari belakang. Itu pakaian yang sama dengan yang dikenakannya saat terakhir kali kami bertemu tiga tahun lalu sebelum akhirnya dia menghilang.
Aku segera berdiri dan menggumamkan kata maaf dan permisi lalu berlari ke toko roti seberang. Kuabaikan teriakan Joon dan Hyuna yang mencoba menghentikanku. Maafkan aku Joon, aku tahu kau pasti marah tapi simpan saja umpatanmu untukku nanti. Saat ini aku harus memastikan kalau itu benar-benar Kim Junghee agar aku bisa kembali tidur nyenyak nanti malam.

FIN

If One Day

379 w | Hurt | Comfort | Romance | Shoujo-ai |

“Kalau kamu memang tidak yakin, seharusnya dari awal kamu tidak usah datang.” Kata Rei datar dan tenang. Terlalu tenang malah. Ini membuat Maya was-was. Rei tidak pernah setenang ini. Dia selalu ekspresif dan meledak-ledak. Setidaknya seperti itulah sosok Rei yang dikenalnya sejak awal mereka menjadi teman sekamar di asrama sekolah menengah atas empat tahun lalu.
“Bukan seperti itu maksudku. Rei.” Sahut Maya dengan suara bergetar. “Aku…aku hanya tidak ingin membuatmu terluka karena sikapku. Aku masih belum yakin apakah ini benar-benar jalan yang ingin aku tempuh.” Lanjutnya mencoba menjelaskan. Air mata gadis cantik itu nyaris luruh, tapi ditahannya.
Rei sadar sepenuhnya saat mereka memulai hubungan ini bahwa cepat atau lambat Maya akan menyerah. Dia tahu betul Maya tidak secuek dirinya. Akan sulit bagi Maya untuk tinggal di sisinya sementara gadis itu masih memikirkan “Apa kata orang.”.
“Aku tidak akan memaksamu, May. Ini kehidupanmu, kamu yang harus menentukan sendiri jalan yang mau kamu tempuh. Kalau kamu memang mau pergi, pergilah.” Rei tersenyum mencoba menyembunyikan pahit yang dia rasakan. “Aku tidak akan menahanmu lebih lama lagi. Jika aku menahanmu lebih lama, bukan hanya kamu tapi aku juga akan terluka. Aku tidak ingin membebanimu.” Lanjutnya. Maya hanya menunduk, menghindari kontak mata dengan gadis di hadapannya. Seseorang yang telah menemaninya melewati masa-masa sulit selama ini. “Maaf…” ujarnya lirih.
“Kamu tidak perlu minta maaf, ini bukan kesalahanmu.” Kata Rei lembut. Dia menghela napas sebelum akhirnya mengangsurkan sebuah kotak kepada Maya yang masih menyembunyikan wajah di balik geraian rambutnya. “Ini kado terakhir dariku. Selamat ulang tahun May.” Katanya sebelum beranjak dari tempatnya duduk. Sepeninggal Rei, Maya mengambil kotak kado itu dan membukanya. Air matanya luruh seketika saat dilihatnya sneakers limited edition yang sudah diincarnya selama beberapa minggu ini. Diambilnya kartu ucapan yang ada di atas sepatu itu,

Selamat ulang tahun yang ke-21, May.
Mungkin saat ini kamu masih ragu dan takut, tapi aku akan tetap menunggumu. Ada jalan berbeda yang akan kita tempuh nantinya kalau kamu memutuskan untuk tetap bersamaku. Aku ingin kamu memiliki keberanian untuk berlari kepadaku dan jika kamu berjalan, jangan menundukkan kepalamu untuk menghindari tatapan orang lain. Kamu tak perlu mendengarkan apa yang mereka katakan. Aku ingin suatu hari kamu berani melihat pandangan orang lain dan mengatakan bahwa kita jatuh cinta. Suatu hari nanti saat kamu cukup berani, kita akan terbang bersama.
Rei

The Taste Of Betrayed

People will never truly understand something until it happens to them. Yeah, that’s true. Now I know the taste of betrayed is. You give everything that you have, trust them like you trust yourself and boom! That people suddenly left you alone and take all the advantages. Without say sorry or thanks, that people go away… Sigh, I don’t know what to say…it’s hurt me so much. It’s hurt my pride!
I never imagine it before that you’ll be betraying me, stabbing me from the back. I tell you everything that I know, I help you a lot, but you stabbing me from the back, you traitor! You didn’t even say thanks or anything but suddenly you left without a word.
We’re going through the hardship together. You said before that we’re gonna walking together till the finish line, but after you got everything from me, you left me. You betrayer, traitor, back stabber! I don’t know why I still believe in you. I trust you but why you betraying me so easily?? Why??