Sepenggal Cerita #3

Drabble (488 words) | AU | Romance | Fluff | OC CAST : Kim Jonghyun & Choi Reina

Reina duduk sambil mengetuk-ngetukan jari ke meja. Sudah hampir satu jam dia menunggu di sudut remang kafe favoritnya dan orang yang ditunggunya belum juga datang. Iya memang salahnya datang satu jam lebih awal padahal dia tahu benar lelaki itu tidak pernah datang tepat waktu. Cangkir kopi di hadapannya sudah hampir kosong dan dia terlalu malu untuk minta diisi ulang lantaran tadi sudah tiga kali memintanya. Entah kenapa hari ini dia begitu gugup. Tidak biasanya begini. Oh ayolah, ini bukan pertama kalinya dia berkencan. Lelaki yang ditunggunya juga bukan baru-baru ini dikenalnya, mereka sudah berkencan lebih dari dua tahun. Gadis itu menggigiti kukunya, kebiasaan buruknya selalu muncul di saat seperti ini. “Ini menggelikan.” keluhnya pelan. Dengan hati-hati dibukanya tas di pangkuan. Benda mungil itu masih diam dengan manisnya di dalam membuat Reina semakin gugup melihatnya. “Hey Rei!” Panggilan yang sangat familiar itu langsung membuat wajah Reina terasa panas. “Sialan.” rutuk Reina dalam hati. Biasanya dia tidak pernah seperti ini, gara-gara benda mungil itu dia jadi super gugup. “Ini baru jam enam lewat lima puluh lima menit, aku belum telat kan?” ujar lelaki itu setelah duduk tepat di hadapan Reina. Gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban. Jonghyun, nama lelaki itu, menatap lekat gadisnya sebelum memanggil pelayan dan memesan strawberry smoothies sementara Reina memesan mango juice. “Sudah habis berapa cangkir?” tanya Jonghyun sambil menunjuk cangkir kopi yang sudah kembali diisi. “Jangan terlalu banyak minum kopi, kasihan lambungmu.” lanjut lelaki itu yang kemudian menyambar cangkir kopi Reina dan meminumnya. Si gadis mendengus kesal. “Aku kemarin iseng mampir di kafe baru dekat tempat kerjamu, tempatnya asik. Kapan-kapan makan di sana yuk.” “Hemm, oke.” sahut Reina singkat tanpa menatap Jonghyun. Alis Jonghyun terangkat sebelah. Reina tampak sedikit berbeda hari ini, jadi lebih pendiam dan entah kenapa selalu menghindar saat bertemu mata dengannya. “Kamu kenapa sih?” tanyanya kemudian. Reina menatapnya bingung. Belum sempat menjawab, konsentrasinya terganggu dengan datangnya pelayan kafe yang mengantarkan pesanan mereka. Reina menghela nafas untuk menghilangkan gugupnya. “Itu…emm…” terbata Reina mencoba memberi penjelasan. “Kamu jangan ketawa ya, aku lagi ingin serius.” ujarnya lirih. Jonghyun mengangguk dengan kening berkerut, tumben sekali Reina tidak cerewet. Lagi-lagi gadis itu menghela nafas. “Aku mungkin gadis yang ceroboh, kekanakan, dan egois. Tapi aku sedang berproses untuk jadi orang yang lebih baik.” kata Reina tanpa jeda. Jonghyun hanya mengangguk menanggapi dan sesekali menyeruput smoothies-nya. “Dalam proses ini, aku butuh orang yang bisa mendampingi dan menuntunku.” lanjutnya sambil mengeluarkan benda mungil dari tasnya yang sedari tadi membuatnya gugup. Jonghyun terbelalak melihat benda yang disodorkan Reina padanya. Dia semakin terpana melihat sepasang cincin black titanium di dalam kotak mungil itu. “Kim Jonghyun, maukah kamu jadi pendamping hidup Choi Reina yang ceroboh, kekanakan dan egois ini?” akhirnya terucap juga. Wajah Reina merah bukan kepalang, tapi tetap ditegakkannya kepala untuk menatap lelaki di depannya. Senyum Jonghyun terkembang kemudian diacaknya puncak kepala Reina penuh sayang. Reina tahu, ini artinya “Ya.” lamarannya diterima. Dia kemudian tersenyum lebar. “Gadis nakal! Siapa yang mengajarimu melamar laki-laki seperti ini?”