Ega’s Heart

Ega terduduk lesu di ranjangnya. Hari ini benar-benar melelahkan, bukan saja untuk tubuhnya tetapi juga untuk hati dan pikirannya. Jika saja dia tak menjadi pemeran utama di teater sekolah untuk pementasan peringatan dies natalis sekolahnya yang ke 50, dia pasti akan lebih memilih membolos latihan dan langsung pulang. Tetapi kenyataannya, dialah yang terpilih. Awalnya Ega senang bisa mendapatkan peran utama, tetapi ketika merasakan sendiri bahwa menjadi pemeran utama itu tidak mudah, rasanya lebih baik dia tetap dalam tugasnya sebagai anggota tim make up.
Seakan ingin menambahi bebannya, tadi siang ulangan Fisika dan Matematikanya kacau. Setelah kertas jawaban dikumpulkan, barulah dia ingat semua rumus yang digunakannya terbalik-balik dan tidak urut. Sial baginya, guru matematikanya itu tidak pernah memberikan ulangan remidial sedangkan guru fisika itu lebih cenderung memberi nilai sesuai mood. Setelah mood-nya kacau gara-gara ulangan yang tidak berjalan dengan baik, sepulang sekolah dia harus latihan dialog untuk pementasan teater. Latihan hari ini juga tak berjalan lancar lantaran banyak sekali intonasi dan pemenggalan kalimat yang tidak tepat dia ucapkan. Bukan hanya sekali dua kali, tetapi berkali-kali. Hal itu tentu saja membuat Pak Dodi, pelatih teater sekolah, memarahinya. Pementasan tinggal dua bulan lagi, tetapi dialog saja masih belum benar pengucapannya.
Kesialan Ega ternyata tak hanya berhenti sampai di situ. Setelah lelah menghadapi ulangan dan latihan dialog yang kacau, dia harus menghadapi satu hal lagi yang menguras emosinya. Selepas latihan teater sore itu, dia hendak pulang ke rumah. Belum juga sampai gerbang sekolah, dia sudah mendapati pemandangan yang menyesakkan. Galang, mantan pacarnya, sedang menjemput Tyas. Iya, Ega tahu betul, itu bukan urusannya lagi, mengingat Ega yang sudah dengan seenaknya memutuskan hubungannya dengan Galang tanpa alasan. Tetapi tetap saja rasanya sakit melihat seseorang yang masih sangat kau sukai kini berpacaran dengan temanmu sendiri. Tyas bukannya tidak tahu bahwa Ega masih menyukai Galang, tapi Tyas juga tak bisa menolak karena dulu dia juga menyukai Galang. Melihat dengan mesranya Tyas memeluk pinggang Galang dan pergi berboncengan seperti itu membuatnya iri. Dulu Galang tak pernah sekalipun menjemputnya seperti itu, tetapi dengan Tyas semuanya berbeda. Itu yang membuatnya semakin terluka. Hal itu pula yang membuatnya dulu mengakhiri hubungannya dengan Galang. Galang terlihat tidak bahagia ketika bersamanya dan itu membuat Ega merasa bersalah hingga akhirnya memutuskan hubungannya dengan Galang. Tetapi ternyata membunuh rasa cinta itu tidak mudah, apalagi Galang merupakan pacar pertamanya. Meskipun kebersamaan yang dijalani tak lebih dari empat bulan, tetap saja rasa yang sudah terlanjur tumbuh itu sulit untuk dimatikan. Dan beginilah Ega sekarang, hanya bisa mengamati dari jauh dan terluka.
Ega menghembuskan nafasnya kasar. Dia mengacak poninya dan kemudian merapikannya lagi, kebiasaannya ketika sedang kesal. Dia merebahkan badannya begitu saja di atas ranjang, tanpa melepas sepatu, apalagi mengganti seragam. Dia pejamkan matanya sejenak, mencoba mengatur mood-nya yang berantakan.
“Aku tak boleh begini. Bisa gila aku kalau seperti ini terus.” Kata Ega pada dirinya sendiri. Dia kemudian bangkit dan mengganti seragamnya dengan kaus oblong dan celana pendek. Dinyalakannya komputer dan dia putar sebuah lagu, Simple Plan – Crazy. Iya Ega sedang merasa benar-benar gila hari ini. Bahkan melebihi kegilaannya waktu dia putus dari Galang. Sewaktu putus dari Galang, rasanya tidak sesakit melihat Galang sekarang yang bersama dengan Tyas. Dengan suara yang melengking dia mengikuti alunan lagu itu.
“IS EVERYBODY GOING CRAZY… IS ANYBODY GONNA SAVE ME… CAN ANYBODY TELL ME WHAT’S GOING ON, TELL ME WHAT’S GOING ON IF YOU OPEN YOUR EYES YOU’LL SEE THAT SOMETHING IS WRONG… ” belum sempat Ega merampungkan teriakannya mengikuti lagu Simple Plan, ponselnya bergetar pelan di sebelah mouse komputernya. Ayu calling.
“Iya Yu, ada apa?” sahut Ega sesaat setelah mengecilkan volume speaker komputernya.
“Aku sama Mila udah di depan pager. Dari tadi mencetin bel ga dibukain. Kamu di dalem kan? Suara cemprengmu kedengeran sampe luar tahu!” Ayu menjawab ketus.
“Iya sorry, aku bukain bentaran.” Ega kemudian bergegas menuju pagar depan rumahnya. Kedua sahabatnya telah menunggu dengan muka masam. Sementara Ega hanya tersenyum garing sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Sorry, lagi konser tadi.” Ega meminta maaf atas kelakuannya kepada Ayu dan Mila.
Mila hanya diam sementara Ayu sudah siap mengomel lagi. Tapi belum sempat Ayu mengeluarkan kata-katanya Mila buru-buru mengisyaratkan Ayu untuk diam setelah melihat Ega yang sepertinya sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja.
“Kenapa sepi banget? Mama, papa, mbak Dena belum pulang?” Mila bertanya setelah merebahkan dirinya di kasur Ega tanpa permisi dan dijawab dengan sebuah anggukan oleh Ega. Sementara Ayu sedang mengobrak-abrik isi kulkas mencari sesuatu yang bisa di makan. Tapi percuma hanya ada sayuran dan buah di dalamnya. Diambilnya tiga buah apel dan sebotol air putih dari dalam kulkas dan dibawanya ke kamar Ega. Sesampainya di dalam kamar, dilemparnya apel satu untuk Ega yang sedang sibuk mengutak-atik laporan praktikum Kimia dan satu lagi untuk Mila yang masih rebahan di kasur Ega sambil bermain dengan Ivana, boneka beruang Ega.
“Woy, sepi banget woy. Itu komputer nyala tapi dianggurin. Puter lagu kek Ga.” Suara Ayu memecah keheningan.
“Puter aja sono. Gak liat apa ini laporan Kimiaku belum selesai. Padahal lusa dikumpulin.” Ega menyahut tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari kertas-kertas di depannya. Tangannya sibuk menulis hasil praktikum elektrolit kemarin siang.
“Alah, biasa juga kamu nyontek punya Steven.” Mila menyahut dari atas kasur sambil memeluk boneka yang lain lagi. Mulutnya kini sibuk mengunyah apel dan tangannya yang satu sibuk memainkan bulu-bulu halus boneka sapi Ega.
“Iya tuh sok-sokan bikin laporan. Cih, padahal pengalihan aja tuh sebenernya. Jangan dikira kami gak tau ya Ga. Kamu lagi bete gara-gara liat Galang sama Tyas tadi.” Ayu menimpali kata-kata Mila sambil menoyor Ega dari belakang. Ega menghentikan aktivitasnya menulis dan memberikan tatapan maut andalannya pada Ayu dan Mila.
“Ini gak ada hubungannya sama Galang. Aku dan dia sudah berakhir hampir tiga bulan yang lalu.” Ega menjawab ketus.
“Itu kan menurutmu. Galang bahkan belum mengiyakan permintaan putusmu waktu itu.” Ayu mem-pause musik yang menyala dan kemudian turun dari kursinya dan duduk di atas karpet bersama Ega. Mila kemudian ikut merangkak turun. Di sisihkannya kertas-kertas yang berisi laporan kimia itu dari tangan Ega, takut jika Ega atau Ayu emosi akan membahayakan nasib laporan yang sudah susah payah disusun itu.
“Kenapa sih bawa-bawa nama Galang lagi? Semuanya sudah berakhir. Toh sekarang Galang juga pacaran sama Tyas. Mereka cocok. Sama-sama populer. Berbeda denganku.” Ega menyahut lirih. Ditahannya air mata yang sudah mendesak ingin keluar, tapi sia-sia.
Melihat Ega mulai menangis, Ayu dan Mila mendekat dan memeluk Ega. Mila mengusap pelan punggung Ega dan berbisik pelan, “Ini bukan masalah populer atau tidak populer Ga. Ini masalah hati yang harus diselesaikan agar jangan ada penyesalan lagi. Kami tahu sekali kamu tidak baik-baik saja setelah melepaskan Galang, begitu juga dengannya.”
Ega tersentak mendengar ucapan Mila. Dia kemudian mencari pembenaran dari Ayu. Tapi nihil, tak ada apapun yan bisa dia baca di mata Ayu yang rumit. Ayu kemudian angkat suara, “Galang beberapa kali mendatangi kami setelah kalian putus. Dia begitu terluka kalau kamu mau tahu. Dia ingin tahu apa sebenarnya alasanmu melepaskannya. Bukankah kamu mengejarnya habis-habisan selama hampir setahun? Mengapa setelah mendapatkannya, kamu melepasnya begitu saja?”
Ega masih menangis dengan isakan pelan sementara Mila kini hanya bisa merangkulnya. Mereka telah berjanji, apapun yang terjadi akan selalu terbuka. Akan menangis bersama jika ada yang terluka. Dan kini mereka sedang melakukannya. Ega terluka, menangis, tapi dia tak cukup punya keberanian untuk mau terbuka mengenai hatinya yang masih menyukai Galang.
“Karena aku merasa dia terpaksa bersamaku. Aku merasa dia tidak bahagia bersamaku. Kalian tidak lihat, dia bahkan tak pernah menatapku langsung ketika bicara. Dia bahkan tak pernah sekalipun mengajakku kencan. Makan berdua pun tak pernah. Bahkan pernah sebulan dia hanya bertemu sekali denganku. Aku merasa bahwa dia sebenarnya hanya kasihan padaku dan menerimaku menjadi pacarnya.” Ega mulai mengeluarkan unek-unek yang dipendamnya beberapa bulan ini. Jujur, Ega tertekan. Masalahnya dengan Galang, ditambah lagi dengan berpisahnya dia dengan kedua sahabatnya lantaran perbedaan jurusan dan juga ditambah dengan terpilihnya dia sebagai pemeran utama pada pementasan teater untuk memperingati HUT sekolah yang ke 50. Semuanya begitu membuatnya lelah. Dan hari ini dia merasa sudah tak sanggup lagi menanggungnya seorang diri. Dihadapan dua orang yang sangat dekat dengannya dia mulai mencurahkan apa yang dirasakannya beberapa bulan ini.
Tidak ada rasa canggung ataupun malu ketika dia mulai bercerita. Semuanya dikatakan tanpa ditutupi satupun. Bersama Ayu dan Mila, Ega merasa aman dan nyaman karena hanya mereka berdua yang benar-benar mengerti apa yang sebenarnya terjadi antara Ega dan Galang.
“Aku tahu mungkin melepas Galang adalah hal terbodoh yang pernah aku lakuin. Tapi jika aku tetap mempertahankannya, dia akan semakin terluka, begitu juga denganku. Aku gak mau egois dan menyakitinya lebih dalam. Dia berhak bahagia bersama orang lain yang lebih pantas, dan itu bukan aku.” Ega kembali terisak.
Ayu hanya memandang Ega tanpa suara sementara Mila mulai membelai hangat punggung Ega untuk menenangkan sahabatnya itu. Semuanya terdiam, hening. Mungkin memang keheningan yang dibutuhkan saat ini. Mungkin dalam diam, Ega bisa kembali tegar. Tapi keheningan itu tak bertahan lama. Ayu mulai jengah. Dia merasa agak kesal karena Ega yang dengan mudahnya menarik kesimpulan mengenai perasaan Galang tanpa pernah bertanya pada lelaki itu.
“Trus sekarang apa? Kamu terluka sendirian melihat Galang bersama Tyas, begitu? Kamu salah kalau berpikiran seperti itu. Asal kamu tahu, Galang lebih menderita daripada yang kamu bayangkan Ga!” dengan setengah membentak Ayu berkata kepada Ega. Bukan hanya Ega, tapi Mila juga tersentak kaget mendengar cara Ayu menyampaikan pendapatnya. Tak biasanya Ayu berkata seperti itu, apalagi kepada mereka berdua. Melihat tatapan kaget kedua sahabatnya, Ayu mencelos, dia merasa bersalah telah berkata sekeras itu.
“Sorry, aku gak maksud berkata sekeras itu. Aku hanya merasa kalau kamu terlalu bodoh Ga. Kamu menarik kesimpulan begitu saja tanpa tahu hal yang sebenarnya. Galang gak pernah sedikitpun menginginkan Tyas. Dia hanya ingin tahu apakah kamu masih menyukainya atau memang benar-benar sudah melupakannya. Itu saja. Galang sendiri yang mengatakan itu padaku seminggu yang lalu.”
Ega menunduk menggigit bibir bawahnya, mencoba mencerna apa yang dikatakan Ayu. Dengan lembut Mila berkata berusaha meyakinkan Ega.
“Iya Ga, Galang itu sayang sama kamu. Dia hanya terlalu gugup ketika bersamamu, makanya dia seperti itu. Dia sendiri yang bilang. Dia bahkan hampir menangis ketika mengatakannya padaku. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa waktu itu, makanya dia diam saja.”
“Aku bingung. Aku gak tau harus gimana menghadapi Galang. Dia selalu bersikap dingin, jadi kupikir selama ini dia hanya terpaksa. Sikapnya pada Tyas terlihat sangat berbeda, makanya aku merasa memang sebaiknya aku melupakannya, tapi gak semudah itu melupakannya.” Hampir histeris Ega mengungkapkan apa yang dia rasakan.
Melihat Ega sepertinya memang tertekan, Mila dan Ayu kemudian diam dan memeluk Ega. Berharap pelukan yang mereka berikan dapat menenangkan sahabatnya itu. Setelah Ega kembali tenang, Ayu kembali angkat suara.
“Sekarang, apa yang akan kamu lakukan? Tetap melupakan Galang, atau mecari tahu apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Tyas?”
“Aku gak tahu Yu. Aku masih bingung dengan ini semua.” Ega hanya menunduk tak berani menatap Ayu. Mila kemudian mendesah pelan.
“Ya udah, kamu tenangin pikiran kamu dulu. Masalah hati harus diselesaikan dengan kepala dingin. Percuma kalau kamu terburu-buru, keputusan yang kamu ambil nantinya malah akan jadi bumerang buatmu sendiri.” Mila memberikan wejangannya dengan halus. Selama ini memang hanya Mila yang bisa berpikiran jernih ketika Ayu dan Ega sedang berselisih, Mila pula yang selalu menjadi penengah ketika kedua sahabatnya yang sama-sama keras kepala itu bertengkar.
Ega menunduk, dihapusnya air mata yang masih mengalir pelan. “Aku belum bisa memutuskannya sekarang, aku akan memikirkannya lagi sebelum menghubungi Galang lagi. Tapi sungguh, aku masih menginginkannya saat ini.“ Ega berbisik pelan.
“Apapun keputusan kamu, kita pasti akan selalu mendukungmu Ga. Kami akan selalu ada dibelakngmu memberimu dukungan.”
“Iya Ga. Kami gak akan pernah ninggalin kamu.”
Ega tersenyum sambil menghapus sisa-sisa air matanya. “Makasih ya, kalian memang yang terbaik.” Kemudian mereka bertiga berpelukan sambil tertawa bersama.
Keesokan harinya, perasaan Ega sudah mulai membaik. Meski belum bersemangat sepenuhnya, dia tetap harus ke sekolah. Hari ini ada pelajaran bahasa Inggris, pelajaran favoritnya. Dengan bersenandung pelan, dia mempersiapkan segala keperluannya hari itu. Kebetulan sekali hari ini tak ada latihan untuk pementasan, tak ada ulangan harian, jadi dia bisa pulang cepat dan kembali memikirkan apa yang akan dilakukannya untuk memulai kembali komunikasinya dengan Galang.
Pukul 07.15 tepat Ega memasuki kelasnya. Bertepatan dengan bunyi bel tanda dimulainya kegiatan belajar mengajar untuk hari Rabu yang cerah ini, Ega berjalan menuju singgasananya di deretan kursi belakang bersama dengan beberapa siswa laki-laki. Iya, Ega dan teman sebangkunya, Santy, lebih memilih duduk dibarisan belakang karena ada beberapa alasan. Yang pertama lebih mudah mendapat contekan karena duduk persis di depan Steven yang notabene salah satu siswa terpandai di kelas XI IPA 3. Kedua, jika ada pembagian kerja kelompok untuk praktikum, bisa langsung merekrut Steven karena posisi duduk yang berdekatan. Ketiga, jauh dari meja guru, jadi kalau mau SMS-an atau sekedar ngemil saat jam pelajaran tidak akan ketahuan. Keempat, hampir mirip alasan ketiga, kalau mengantuk dan tertidur di jam pelajaran, biasanya tidak akan dengan mudah ketahuan guru. Dengan mempertimbangkan alasan tersebut, Ega dan Santy yang sudah duduk sebangku sejak kelas X memutuskan untuk duduk di deretan keempat dari depan alias deretan ke dua dari belakng alias persis di depan bangku Steven dan Andre.
“Tumben kamu dateng pas bel. Biasa juga setengah jam sebelum bel udah nangkring di kantin duluan.” Sapa Steven pagi itu.
“Lagi pengen dateng siangan. Lagian kan gak ada PR juga, ngapain dateng pagi-pagi.” Kilah Ega.
“Abis nangis tuh, keliatan matanya agak bengkak. Nah ya, ketauan nangisin Galang lagi.” Santy menimpali dari tempatnya duduk sambil menyalin catatan Biologi milik Steven.
“Makanya, kalo masih sayang, jangan diputusin.” Giliran Andre sekarang yang berkomentar.
“Haahh… capek aku dengerin kalian. Udah diem, bentar lagi Pak Sam masuk.” Ega menutup kedua telinganya dan langsung duduk di kursinya. Pelajaran pertama hari ini, Matematika bersama Pak Sam. Setelah matematika, dilanjutkan dengan Kewarganegaraan dan Bahasa Inggris dan dua jam terakhir Biologi. Semuanya bukan pelajaran yang terlalu disukainya, kecuali bahasa Inggris.
Akhirnya dua jam pelajaran matematika yang membosankan itu berakhir. Hasil ulangannya sudah dibagi, sesuai dugaan, nilainya tak lebih dari 60. Nilai terendah sepanjang sejarah nilai ulangannya sejak SD. Meski sedikit kesal, tapi dia tak bisa protes. Ega menyadari betul bahwa ini kesalahannya. Belum sampai lima menit Pak Sam meninggalkan kelasnya, ponsel Ega bergetar. Dirogohnya saku rok abu-abunya, dikeluarkannya ponsel Sony Ericsson T707 yang sudah menemaninya selama hampir dua tahun terakhir. Sebuah pesan masuk dari Tyas.
From : Tyas_IPA 2
Istirahat nanti bisa kan aku ngomong sama kamu bentar. Aku tunggu di perpus deket rak buku IPS.
Ega mendesah pelan. Sebenarnya dia malas bertemu dengan Tyas, tapi ada sesuatu yang ingin dia tanyakan pada model majalah remaja populer itu. Apalagi kalu bukan mengenai hubungannya dengan Galang. Akhirnya walau terpaksa Ega membalas pesan Tyas.
To: Tyas_IPA 2
Oke.
Hanya sebatas itu. Tanpa basa-basi. Akhirnya iastirahat pertama tiba. Biasanya Ega akan langsung lari ke kantin atau sekedar nongkrong di kelas IPS 2, kelas Ayu dan Mila. Tapi kali ini dia tidak ke sana. Dilangkahkannya kaki menuju perpustakaan yang letaknya di lantai 1, sementara kelasnya ada di lantai 2. Disusurinya lorong yang tercipta karena susunan rak buku. Di sudut ruangan, tepat di sebelah kanan rak buku IPS, Tyas menunggunya. Tempat itu sepi memang, mengingat anak IPS jarang sekali mengunjungi perpustakaan.
“Hey,” Ega menyapa Tyas lebih dulu karena dilihatnya Tyas tenggelam dalam kesibukannya membaca buku, “Udah lama?” lanjut Ega. Tyas menggeleng pelan kemudian berujar “Ayo duduk. Ada yang harus aku kasih tahu ke kamu Ga.”
Ega kemudian duduk di kursi yang ada di depan Tyas. Keduanya terdiam, tidak ada satupun yang mulai bersuara. Sampai akhrinya Tyas mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya.
“Ini surat yang ditulis Galang. Buat aku sebenarnya, tapi kamu kayanya juga harus tahu isinya. Kamu baca ya sekarang.” Tyas mengangsurkan sebuah kertas yang terlipat rapi. Ragu Ega menerima kertas itu. Awalnya dia hendak menolak, tapi Tyas memaksanya menerimanya. Dibacanya perlahan isi surat itu. Itu memang tulisan tangan Galang. Ega hapal betul tulisan Galang yang tidak terlalu bagus itu.
To : Tyas Ananda
From : Galang Grandana.
Hai Yas. Aku bingung kalo harus ngomong langsung sama kamu, jadi aku tulis surat aja ya. Kamu tau kan aku diputusin gitu aja sama Ega minggu lalu? Yah, aku sih gak anggep serius itu, soalnya kan aku belum bilang iya waktu itu, jadi sebelum aku bilang putus juga artinya aku masih pacaran sama Ega. Mungkin kamu anggap aku konyol, tapi aku emang sayang banget sama Ega. Karena itu aku mau minta tolong sama kamu. Kamu mau ya kita pura-pura pacaran di depan Ega, aku ingin tau sebenarnya dia masih sayang juga gak sih sama aku. Cuma kamu Yas yang bisa bantuin aku. Aku gak mungkin minta Ayu atau Mila, apalagi Lia. Cuma kamu yang bisa Yas, karena kamu yang selama ini selalu ngasih info tentang Ega tanpa dilebihkan atau dikurangi. Aku mohon Yas, bantu aku.
Regards,
Galang
“Kamu udah ngerti kan sekarang seperti apa hubunganku dan Galang? Tidak ada yang namanya aku pacaran sama Galang atau Galang suka sama aku. Yang ada aku pura-pura pacaran sama Galang untuk ngetes kamu. Kamu masih suka juga atau enggak sama Galang. Galang Cuma suka sama kamu Ga.” Kata Tyas setelah dilihatnya Ega selesai membaca surat Galang. Ega menatap Tyas tidak percaya. Jadi selama ini dia hanya dibodohi? Dia sudah cemburu dan hampir stress hanya karena hal seperti ini? Ega hanya diam, bingung mau berkata apa.
“Kalau dia emang sayang sama aku, kenapa gak bilang. Kenapa harus kaya gini Yas?” Ega kemudian buka suara. Terlihat selapis air bening di kedua matanya. “Aku gak ngerti kenapa dia harus milih jalan seperti ini yang membuatku salah paham. Membuatku sedikit kesal dan membencimu. Maaf Yas.” Ega melanjutkan kata-katanya sambil menghapus air matanya yang mulai luruh. Melihat Ega yang mulai menangis, Tyas berpindah posisi duduk ke samping Ega dan memeluk temannya itu.
“Udah, jangan nangis. Bentar lagi bel masuk loh. Udah ya. Hah, harusnya Galang sendiri yang cerita ke kamu, tapi aku udah nggak tahan liat kamu semakin kacau setelah memutuskan Galang secara sepihak, begitu juga dengan Galang. Aku juga udah nggak tahan dengan tatapan sinis dari Mila dan Ayu. Terlebih Lia sekarang juga mulai menghindariku gara-gara ini. Jadi aku terpaksa bongkar semuanya sekarang.” Bisik Tyas sambil memeluk Ega.
Ega yang menyadari bahwa ternyata Tyas selama ini ternyata hanya berusaha menolong Galang dan dirinya, kemudian tersenyum tulus dan meminta maaf atas tindakan bodohnya yang sempat iri kepada Tyas. Keduanya kemudian meninggalkan perpustakaan dan kembali ke kelas masing masing setelah bel tanda jam istirahat berakhir.
Setelah mendapat penjelasan dari Tyas, Ega tak bisa fokus mengikuti pelajaran selanjutnya. Dia terus memikirkan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Galang. Apakah Galang memang sebegitu kehilangan dirinya? Benarkah apa yang ditulis Galang kepada Tyas? Semua pertanyaan itu terus berkecamuk di pikirannya sehingga dia melamun di dalam kelas. Beberapa kali Bu Asti memberikan teguran kepada Ega, tapi tetap saja Ega tidak bisa kembali fokus. Samapi puncaknya ketika pelajaran Bahasa Inggris, Miss Ida memanggilnya berkali-kali tapi tak diindahkan oleh Ega yang asyik dengan lamunannya. Akhirnya karena kesal Miss Ida kemudian menyuruh Ega meninggalkan kelasnya.
“Anastasia Riga Puspita. If you can’t focus on my class, you better get out from my class!”
Ega tentu saja kaget bukan kepalang mendengar perintah Miss Ida. Belum pernah dia melihat Miss Ida semarah itu padanya.
“But miss, I promise I’ll focus this time.” Baru saja Ega menyampaikan pembelaannya, ponselnya berdering. Kontan saja itu membuat wajah Ega memerah karena malu. Miss Ida yang sudah cukup bersabar menghadapi kelakuan Ega siang itu bertambah murka.
“No more excuse Anastasia. You get out from my class! NOW!” Bentak Miss Ida.
Ega hanya menundukan wajahnya malu dan berjalan cepat keluar kelas. Sepanjang sejarah hidupnya, baru kali ini Ega dikeluarkan dari kelas. Di pelajaran favoritnya pula. Ega kemudian berjalan pelan melewati deretan kelas IPS. Kelasnya memang berbatasan dengan kelas IPS, dan di ujung lorong kelas IPS, terdapat tangga untuk turun ke lantai 1. Kesanalah tujuannya. Kantin lantai 1, karena tidak mungkin baginya ke kantin lantai 3, bisa dicegat dan dipermalukan oleh anak kelas XII nanti. Ponselnya kembali berdering ketika dia melewati depan kelas XI IPS 2. Buru-buru Ega berlari menuju kamar mandi siswa yang berada di antara kelas IPS 2 dan IPS 3. Dirogohnya saku rok abu-abu yang dia kenakan. Galang calling. Dibukanya flip ponselnya dan dia tekan tombol jawab.
“Hallo,” sapa Ega pelan.
“Hey, kamu pasti lagi di kelas ya? Suaranya kecil gitu.”
“Enggak. Ini lagi di toilet. Aku dikeluarin dari kelasnya Miss Ida.”
“Oh, guru bahasa Inggris itu ya? Kok bisa?”
“Ketahuan lagi bengong, makanya dikeluarin. Kok kamu tahu kalau miss Ida guru bahasa inggris? Tahu dari mana?”
“Tyas. Dari pada di toilet kan enakan di kantin Ga, sambil nungguin istrirahat, lumayan colong start. Hehehe…”
“Ini juga mau ke kantin, tapi kamu keburu telpon, makanya aku angkat telepon dari kamu dulu.”
“Yaudah kalo gitu lima menit lagi aku telepon kamu lagi. Kau buruan ke kantin. Tadi pagi gak sempet sarapan kan? Trus istirahat tadi juga gak ke kantin. Kamu pasti laper.
“Sok tahu kamu. Yaudah aku ke kantin dulu. Bye Galang.”
Kemudian ditutupnya flip ponselnya. Sejenak dia berpikir, dari mana Galang tahu kalau dia tadi tidak sempat ke kantin? Apakah dari Tyas? Ah, sudahlah. Tidak penting untuk dipikirkan. Ega kemudian beranjak dari kamar mandi, ketika dibukanya pintu, dia kaget bukan kepalang. Ayu dan Mila ternyata menguping dibalik pintu.
“Nah ya, ketahuan suka ngintipin orang di WC. Minggir, aku mau ke kantin.”
“Nggak ngintipin, Cuma nguping dikit. Abisnya penasaran.” Sahut Ayu. Mila hanya mengangguk mengiyakan ucapan Ayu.
“Aku gak bisa cerita sekarang. Aku ceritanya nanti aja sepulang sekolah.” Kata Ega setelah dilihatnya Ayu hendak buka suara menanyakan sesuatu. Ayu dan Mila terlihat kecewa dan kemudian mengekor Ega keluar dari kamar mandi.
“Kalian ngapain sih? Balik ke kelas gih. Aku mau ke kantin.” Ujar Ega setelah mendapati kedua sahabatnya masih setia mengekor di belakangnya. Kedua sahabatnya itu kemudian memasang wajah cemberut dan berbalik arah. Sebelumnya mereka berdua dengan kompak berkata, “Ega gak asik.” yang membuat Ega terkekeh pelan.
Hari itu ternyata semuanya kembali tak berjalan lancar. Setelah di usir dari kelas Bahasa Inggris, dia kembali menjadi sasaran omelan Bu Dian, guru Biologi, gara-gara kembali tidak bisa fokus. Yah itu memang murni kesalahannya. Kesalahannya akibat terlalu memikirkan Galang.
Seminggu setelah pengakuan Tyas, tak ada perubahan yang berarti dengan hubungan Ega dan Galang. Mereka masih sama saja seperti sebelumnya. Masih sering SMS-an, meski tak se intens dulu sebelum Ega memutuskan Galang sepihak. Ega kemudian memilih untuk berhenti mengharapkan Galang dan mencoba realistis. Mungkin memang Galang masih menyukainya, tapi tindakannya yang dengan seenaknya memutuskan Glang tanpa alasan mungkin saja sudah melukai harga diri lelaki itu. Seminggu ini juga Tyas tak lagi dijemput oleh Galang, hal itu pula yang semakin membuat Ega kembali membulatkan tekad bahwa memang dia harus bisa melepaskan Galang sepenuhnya mulai saat ini dan anggap saja dia tak pernah tahu bahwa antara Galang dan Tyas tak pernah ada hubungan seperti anggapannya. Memikirkan itu semua akhirnya membuat hati dan pikiran Ega lebih ringan dan terbuka.
Sudah hampir sebulan kini sejak terakhir kali Galang mengirimkan pesan singkatnya. Hanya untuk bertanya apakah Ega suka bunga mawar putih atau tidak. Tentu saja Ega suka. Mawar putih adalah bunga favoritnya. Setelah itu tak ada satupun pesan lagi dari Galang. Ega juga semakin tersita waktunya untuk latihan teater. Tiga minggu lagi pementasan dan dia sudah mulai berlatih adegan-adegan dalam drama yang dia mainkan nanti. Ceritanya simple, hanya tentang remaja dan sekolah. Hanya itu, tapi setting waktu yang berubah-ubah yang membuat Ega harus fokus dalam mengucapkan dialognya. Secara keseluruhan, Ega berhasil mengembalikan konsentrasinya setelah tak lagi memikirkan Galang untuk sementara waktu ini.
Rupanya Galang memang sengaja tak mengganggu Ega untuk sementara waktu karena dia tahu bahwa Ega sedang dalam misi penting untuk memainkan peran utama dalam pementasan teater sekolah. Galang tidak ingin kehadirannya malah akan mengusik konsentrasi Ega. Galang ingin agar Ega bisa menyelesaikan tuganya dengan baik, meskipun itu harus membuatnya sedikit tersiksa karena menahan rasa rindunya selama berminggu-minggu. Dia hanya bisa menatap Ega dari kejauhan dan menanyakan kabar gadisnya itu dari Ayu dan Mila. Hanya kepda mereka berdua. Terkadang juga kepada Tyas atau Lia. Selama itu pula dia mempersiapkan sesuatu untuk bisa mendapatkan gadisnya lagi. Kalau dulu Ega yang habis-habisan berusaha agar Galang mau menerimanya, kini Galang yang akan melakukan apa saja agar gadisnya itu mau kembali padanya.
Seminggu sebelum pementasan suasana sekolah begitu semrawut. Anak-anak bagian dekorasi mulai sibuk menyiapkan set panggung, bagian kostum juga mulai sibuk menyiapkan kostum dan segala properti yang dibutuhkan. Belum lagi persiapan lomba ini itu sebagai tambahan penyemarak ulang tahun sekolah. Semua persiapan dan kegaduhan ini membuat Ega tak memiliki waktu untuk sekedar memikirkan Galang. Dia terlalu sibuk menghapalkan dialognya, mengingat adegan-adegan yang harus dimainkannya dan ditambah lagi dia juga harus menghapal beberapa lagu karena ini pertunjukan musikal.
Ayu dan Mila juga tak kalah hebohnya dengan Ega. Mereka berdua masuk dalam jajaran panitia inti untuk perayaan ulang tahun sekolah kali ini. Dua minggu menjelang acara puncak, mereka bahkan harus rela pulang lebih larut untuk memantapkan rencana yang telah disusun. Dan seminggu ini sekolah terpaksa meliburkan kegiatan belajar mengajar agar tak mengganggu konsentrasi siswa ketika teman-teman yang lain sibuk berlomba di luar kelas.
Inilah hari yang benar-benar mendebarkan bagi Ega. Malam ini pukul tujuh malam tepat, pementasan drama musikal pertama yang akan diselenggarakan oleh SMA Nusa Bakti 21 untuk memperingati 50 tahun berdirinya sekolah ini. Ega merasa gugup sekali. Ini pertama kalinya dia ambil bagian dalam pertunjukan drama selama setahun terakhir dia aktif dalam klub teater di sekolahnya ini. Biasanya dia akan berdiri dibelakang layar, memoles wajah pemeran utama sebaik yang dia bisa dan tersenyum bangga ketika riasannya mendapat pujian, tetapi kali ini dia sendiri yang akan menghadapi penonton dan langsung dalam event sebesar ini. Bahkan dalam pementasan kali ini seluruh wali murid mendapat undangan, tak hanya itu, pementasan yang digelar di hall utama sekolah ini juga terbuka untuk umum. Ini yang membuat Ega semakin gelisah di back stage.
Setengah jam sebelum pementasan Ega asih mondar-mandir gelisah. Kostumnya sudah rapi terpasang, begitupula dengan make up. Semua sudah disiapkan dengan sempurna, tapi dia masih saja merasa gugup. Ini yang pertama buatnya, tentu saja sangat mendebarkan. Ayu dan Mila yang hanya bertugas sebagai usher saja merasa gugup, apalagi Ega yang menjadi pemeran utama.apalagi berdasarkan informasi yang beredar, pementasan teater ini merupakan yang terbesar yang pernah diselenggarakan oleh sekolah. Ketika Ega sedang menghapal dialognya sambil mondar-madir dibelakang panggung, Ayu dan Mila tiba-tiba menepuk pundaknya pelan.
“Kamu pasti bisa. Tunjukkan pada semua orang bahwa Anastasia Riga Puspita tak hanya bisa menjadi make up artist terbaik yang dimiliki sekolah, tapi juga bisa menjadi aktris terbaik. SEMANGAT EGA!!” kata Mila sambil mengepalkan kedua tangannya. Ayu juga melakukan gerakan yang sama. Melihat itu, Ega berbinar dan tersenyum.
“Kalian yang terbaik. Aku akan bersemangat!”
Pertunjukan itupun dimulai. Ega dan juga seluruh pemain dan kru mengerahkan segala kemampuan demi suksesnya pertunjukan ini. Dan tibalah penampilan solo dari Ega yang akan menyanyi dan memainkan piano sendiri. Ayu dan Mila bahkan rela berdiri di dekat panggung dan merekam menggunakan ponsel masing-masing. Orang tua Ega juga sedari tadi merekam pertunjukan dari awal menggunakan handy cam. Ega menyanyikan sebuah lagu koleksi Mandy More yang berjudul Only Hope. Semua mata terkesima kagum melihat permainan piano dan nyanyian Ega yang begitu lembut. Begitu Ega selesai menyanyikan bait terakhir, tiraipun ditutup. Semua penonton, kru dan panitia bertepuk tangan. Pertunjukan yang benar-benar luar biasa telah disuguhkan oleh sekumpulan siswa berbakat dari sekolah itu. Diakhir acara, tirai panggung kembali terbuka. Semua pemain, tim naskah, tim make up, tim kostum, tim dekorasi, tim lighting, dan semua pendukung pementasan siap berdiri di atas panggung dan memberikan penghormatan kepada semua yang hadir. Semua penonton yang memenuhi hall dengan kapasitas seribu orang itu riuh bertepuk tangan. Pertunjukan sukses. Betapa senangnya semua anggota klub teater hari itu. Pengorbanan mereka tidak sia-sia. Semua kerja keras mereka selama empat bulan ini terbayarkan dengan apresiasi yang melebihi ekspektasi mereka semua.
Setelah turun dari panggung, Ega langsung mendapat pelukan dari mama dan papanya. Setelah itu Ayu dan Mila memberikan sebuah buket bunga mawar putih yng cantik untuknya serta sebuah boneka beruang putih yang lucu untuk Ega. Ega pantas mendapatkannya setelah berjuang selama empat bulan terakhir ini. Sepeninggal Ayu dan Mila serta kedua orang tuanya, Ega bermaksud berganti pakaiannya dengan baju yang telah dia bawa dari rumah tadi sore. Belum sempat Ega menbuka ruang ganti, adasebuah tangan yang menariknya dari belakang. Betapa terkejutnya Ega ketika mengetahui bahwa orang tersebut ternyata Galang.
“Selamat ya Ga. That’s show really awesome.” Kata Galang sembari menyerahkan buket mawar putih untuk Ega.
“Thank you. Bunganya cantik banget. Kamu tadi nonton di sebelah mana? Kok aku gak liat sih?” sahut Ega.
“Aku ada deh, kamu gak perlu tahu aku nonton di sebelah mana. Yang penting kamu tahu kalau aku selalu support kamu Ga.” Galang terdiam menggantung kalimatnya sejenak terlihat ragu dan akhrinya dia berkata lirih yang lebih seperti bisikan, “Aku sayang kamu Ga.”
Ega yang tidak bisa dengan jelas mendengar kalimat terakhir Galang tentu saja terlihat bingung. Belum sempat dia bertanya, Galang sudah keburu balik badan dan pergi begitu saja.
Hari untuk bersenang-senang sudah lewat, hari Senin kembali datang dengan segudang kesibukan yang siap menghadang. Pagi itu Ega kembali bersiap untuk menghadapi pelajaran Matematika pukul setengah tujuh.
“Pagi dek, udah bangun? Tumben.” Sapa Dena kepada adiknya.
“Kan hari Senin. Mbak Dena nih mentang-mentang udah lulus dua tahun lalu trus lupa kalau hari Senin dan Selasa selalu masuk jam setengah tujuh.” Ega menyahut sambil mengerucutkan bibirnya.
“Hehe, ya maaf. Iya, tadi mama sama papa udah berangkat duluan, jadi ga sempet sarapan bareng. Maklumlah hari senin. Kamu ntar berangkatnya sama Mbak Dena aja ya? Atau mau bawa motor sendiri?” tanya Dena sambil menuang susu untuk adiknya itu. Diangsurkan gelas yang sudah terisi susu hangat itu kepada Ega dan langsung diteguk hingga hampir setengahnya.
“Aku bareng Mbak Dena aja. Jadi ntar pulangnya bisa barengan sama Ayu.” Jawab Ega setelah selesai minum. Ini sudah jam 06.00, jarak rumah dan sekolah sebenarnya bisa ditempuh dengan waktu lima belas menit asal tidak ada macet. Dena kemudian membereskan sisa-sisa sarapan di meja makan sebelum mengeluarkan motornya untuk mengantar adik kesayangannya itu.
Ega sudah duduk di teras depan menunggu kakaknya yang masih membereskan meja makan. Dirapikannya cardigan biru muda yang dikenakannya sambil merapikan poninya yang mulai panjang. Semua perlengkapan sekolah sudah rapi di dalam tas slempangnya yang juga berwarna biru muda sementara helm birunya juga sudah bertengger manis di meja. Sembari menunggu dia bermain games diponselnya dan bersenandung pelan. Tanpa dia sadari sebuah motor kini telah berhenti di depan pagar rumahnya. Itu Galang.
“Ega.” Seru Galang setelah mematikan mesin motornya. Ega yang sibuk dengan ponselnya mendongak dan terkejut melihat sosok Galang yang tengah berdiri di depan pagar rumahnya dengan kedua tangan terselip di saku celana seragamnya. “Oh damn. He look so gorgeous.” Batin Ega pelan. Ega kemudian membuka pagar depan sambil bertanya kepada Galang.
“Ada apa nih pagi-pagi kemari?”
“Jemput kamulah, apa lagi emangnya?” sahut Galang sambil berjalan mengekor Ega ketika pintu pagar telah dibuka.
“Jemput aku? Ngapain? Sekolah kita kan beda, udah gitu kamu mesti putar jalan juga kalau kemari dulu baru ke sekolah.”
“Yang penting aku jemput kamu, masalah puter jalan itu mah gampang. Kan sekolahku masuk jam tujuh lebih lima belas.”
“Jadi kamu mau nganterin aku dulu nih?” tanya Ega tak yakin.
Galang tersenyum dan mengangguk. Ega yang memang tak bisa berkata tidak jika sudah melihat senyum Galang hanya bisa menuruti permintaan Galang.
Dena yang penasaran mendengar adiknya sedang berbincang dengan seseorang akhirnya keluar.
“Oh, ada Galang.” Sapa Dena.
“Mbak, lama gak ketemu.” Galang menghampiri Dena dan mengulurkan tangan bersalaman.
“Mau jemput Ega? Kebetulan kalau gitu. Jadi aku gak perlu nganter bocah ini.”
“Iya mbak, Ega biar berangkat sama aku aja.” Sahut Galang singkat.
Ega kemudian langsung berpamitan dan mendorong punggung Galang setelah dilihatnya senyum jahil di wajah sang kakak.
“Aku berangkat mbak.” Seru Ega ketika sudah berada diboncengan Galang. Dena hanya tersenyum melihat adiknya yang salah tingkah.
“Hah… Remaja jaman sekarang.” Kata Dena sambil menggeleng pelan. Padahal dirinya juga masih remaja.
Ega diam tak bersuara selama perjalanan. Dia juga ragu dimana dia harus berpegangan, karena itu dia memilih untuk tidak berpegangan pada apapun. Galang masih melajukan motornya pelan di jalanan kompleks perumahan itu, tetapi ketika motornya keluar kompleks, dia dengan mendadak menambah kecepatan dan mengeram mendadak. Ega yang terkejut tanpa sadar memeluk pinggang Galang. Setelah dia sadar posisinya saat ini, dia langsung melepaskan pegangannya. Tetapi belum semua tangannya lepas dari pinggang Galang, Galang sudah lebih dulu menahan tangan kiri Ega agar tetap berada dipinggangnya.
“Aku bukan tukang ojek Ga. Kenapa sih kamu ga mau pegangan? Bahaya tahu.” Kata Galang sambil kembali melajukan motornya pelan. Ega hanya tertawa canggung mendengar perkataan Galang. Dia sendiri sebenarnya ingin memeluk Galang seperti sekarang ini, tapi dia ragu. Sebagian hatinya melarangnya, sebagian lagi berseru untuk memeluk laki-laki di depannya ini.
“Aku… aku bingung harus pegangan di mana.” Aku Ega jujur. Galang kemudian terkekeh geli mendengar jawaban Ega. Bohong kalau dia bilang bahwa dia tidak berdebar-debar saat tiba-tiba Ega memeluknya tadi. Bohong kalau dia bilang dia tidak gugup ketika menahan tangan Ega dan menggenggamnya sebentar.
“Ya udah, pegangan gini aja. Aku kan pacar kamu. Masa pegangan gitu aja risih.” Sahut Galang sembari menormalkan kembali debaran jantunganya. Ega hanya melongo bingung mau menjawab apa dan akhirnya memilih kembali diam.
Sekolah masih sedikit sepi ketika Ega sampai. Ega segera melompat turun dari boncengan Galang begitu motor Galang berhenti. Dilepaskannya helm dan dia mengucapkan terima kasih. Di luar dugaan Ega, Galang menawarkan akan menjemputnya sepulang sekolah nanti. Refleks, Ega langsung mengangguk menerima tawaran Galang. Kemudian sesaat sebelum Galang memutar arah, dia mengacak pelan poni gadisnya itu dengan sayang. Sementara itu Ega hanya tertegun dan jantungnya serasa jumpalitan tak karuan diperlakukan begitu manis oleh Galang.
Tak jauh dari tempat Galang dan Ega berdiri, Tyas dan Lia mengamati dalam diam. Tyas tersenyum samar dan bergumam, “Mission completed.”
“Apaan yang completed? Mission apa?” tanya Lia penasaran. “Jangan-jangan ini yang selama ini kamu sembunyiin dari aku?” lanjut Lia.
Tyas hanya tersenyum samar dan memilih diam. Biarkan Lia penasaran, yang penting semua misinya yang sudah dirancang bersama Galang berhasil. Galang sepertinya sudah bisa mendapatkan Ega lagi tanpa perlu bantuannya lebih lama. Artinya dia harus rela membiarkan lelaki yang dia sukai kembali pada mantan pacarnya. Aku pasti bisa dapat seseorang yang lain, kata Tyas dalam hati.
Hari ini berhubung euforia peringatan HUT sekolah masih benar-benar terasa, semuanya jadi berjalan begitu menyenangkan bagi sebagian besar siswa. Terlebih bagi Ega. Namanya langsung menjadi sumber pembicaraan oleh seluruh warga SMA Nusa Bakti 21. Tak hanya siswa, bahkan beberapa guru juga membicarakannya. Di satu sisi Ega merasa sangat senang. Disisi lain, Ega merasa bahwa itu semua akan jadi beban mental untuknya apabila tidak bisa menjaga sikapnya dengan baik.
Bel tanda berakhirnya pelajaran masih sekitar sepuluh menit, tetapi Ega sudah membereskan semua bukunya. Dia begitu gelisah mengingat apa yang dikatakan oleh Galang pagi tadi. Benarkah Galang akan menjemputnya? Dan akhirnya pelajaran hari ini selesai sudah. Ega bergegas meninggalkan kelasnya dan lari melesat menuju gerbang sekolah, berharap Galang ada di sana menunggunya. Jantung Ega semakin kencang berpacu ketika dilihatnya seorang lelaki dengan seragam yang berbeda dengan yang dia pakai tengah duduk di atas motornya sambil memainkan ponselnya. Galang benar-benar menepati apa yang diucapkannya tadi pagi.
“Kamu udah lama nunggu di sini?” tanya Ega saat sudah berada tepat di depan Galang. Galang hanya tersenyum dan menggeleng.
“Ayo naik, aku mau ngajakin kamu ke suatu tempat.” Ajak Galang.
Tanpa ragu, Ega langsung duduk di boncengan Galang setelah mengenakan helm-nya. Kali ini walaupun sedikit ragu, Ega berpegangan pada jaket yang dipakai Galang. Galang hanya terkekeh melihat kedua tangan Ega mencengkeram dua sisi jaketnya di bagian pinggang. Ingin Galang menarik tangan Ega seperti tadi pagi, tapi kali ini diurungkannya niat itu. Nanti setelah ini, dia baru akan melakukannya ketika Ega tak mau berpegangan saat dibonceng olehnya.
Galang melajukan motornya pelan. Sesekali dia bertanya basa-basi pada gadis yang tengah diboncengnya itu. Selebihnya dia memilih untuk diam mencoba menetralkan degup jantungnya yang mulai menggila. Perasaan seperti inilah yang selalu dia rasakan setiap kali Ega ada di dekatnya dan itu membuat lidahnya kelu. Membuatnya tak mampu menatap langsung pada manik mata Ega ketika berbicara dan membuat kesan yang kurang menyenangkan bagi Ega.
Di sebuah taman kota dengan danau buatan yang indah, Galang menghentikan motornya. Di tempat itu dulu mereka pertama kali bertemu selepas UAN waktu SMP. Kebetulan sekali saat itu Mila memang sedang ada janji dengan Cita, temannya semenjak masih di SD, untuk bertemu memberikan undangan reuni SD mereka. Saat itu Mila datang bersama Ayu dan Ega dan Cita datang sendirian. Awalnya Cita sendirian, tetapi kemudian Galang dan beberapa teman mereka datang juga ke taman itu dan akhirnya mata Galang menangkap sosok gadis yang membuatnya begitu berdebar di pertemuan pertama mereka itu. Dari awal, Galang duluan yang mulai menyukai Ega, walaupun pada akhirnya mereka jadian karena Ega yang sudah dengan ikhlas merendahkan dirinya sendiri untuk meminta Galang menjadi pacarnya. Galang tak pernah menyesali keputusan Ega yang meminta putus karena dia yakin suatu saat Ega akan kembali lagi.
Mereka berdua berjalan pelan melewati jalan setapak sembari menikmati udara sore dan Galang beberapa kali memotret Ega tanpa sepengetahuannya. Ragu, Galang menggenggam tangan Ega ketika mereka berjalan. Ega tentu saja kaget ketika tiba-tiba Galang menggenggam jemarinya. Bukan karena tak mau, tetapi tangan Ega selalu basah ketika sedang gugup seperti ini. Ega hanya diam, Galang juga diam. Hanya sesekali mereka saling lirik dan tersenyum. Sebuah senyuman saja sudah bisa menjelaskan apa yang sebenarnya mereka rasakan satu sama lain. Akhirnya mereka tiba di tempat mereka pertama kali bertemu. Tempat di mana pertama kali mata mereka saling sapa. Tempat di mana mereka pertama kali merasaka debaran tak wajar ketika tangan mereka bertemu sewaktu berjabat tangan berkenalan. Galang menghentikan langkahnya di tempat itu, begitu pula dengan Ega. Galang kemudian berdiri menghadap Ega. Sedikit ragu dia kemudian mengutarakan apa yang sebenarnya dia rasakan terhadap gadis di depannya itu.
“Aku sayang sama kamu Ga. Bahkan sejak awal kita bertemu. Jujur saja, aku rasa aku mulai menyukaimu saat kita bertemu pertama kali di sini hampir dua tahun lalu. Tapi karena aku terlalu gugup, aku hanya diam waktu itu. Sama seperti waktu kamu memintaku menjadi pacarmu. Aku hanya mengangguk karena aku terlalu senang. Tapi saat kamu tiba-tiba memutuskanku, aku bingung Ga. Aku gak tahu harus bagaimana, makanya aku diam dan tidak mengejarmu.”
Ega hanya diam, didengarkannya dengan seksama pengakuan Galang. Melihat tak ada respon dari Ega, Galang kembali mengutarakan apa yang selama ini dia rasakan.
“Aku tahu kamu terluka saat itu, tetapi aku juga sangat terluka. Terlebih kamu meninggalkanku tanpa alasan yang jelas. Sampai sekarang Ga, rasaku untukmu tak berubah meski kamu pernah membuatku terpuruk. Setelah aku meminta bantuan Tyas dan mendengar semua penjelasan dari Ayu dan Mila, semuanya jadi jelas untukku. Kamu masih menyukaiku. Aku benar kan?”
Ega tertunduk, wajahnya merona malu. “Apakah aku harus menjawabnya? Bukankah kamu sudah mengetahui yang sebenarnya?” tanya Ega lirih.
“Aku mau kamu mengatakannya Anastasia Riga Puspita.” Dengan tegas Galang mengatakan itu. Ega mengeluh pelan mendengar perkataan Galang.
“Iya, aku masih menyukaimu. Bahkan lebih dari apa yang bisa kamu bayangkan.” Sahut Ega lirih. Galang tersenyum mendengar jawaban Ega. Ternyata bukan hanya dia yang masih memiliki perasaan itu, tapi gadisnya juga. Kemudian dengan lembut Galang mengangkat dagu Ega agar gadis itu menatapnya. Dengan sepenuh rasa yang dia miliki, Galang kemudian berucap, “Kalau begitu, kita bisa memulai semuanya dari awal lagi kan? Kamu dan aku kembali lagi berjalan bersama. Ah iya, kan waktu itu aku belum bilang iya. Berarti kita belum putus ya.”
Lagi-lagi pipi Ega bersemu merah. Galang semakin gemas ingin menggoda gadisnya itu. Senyum jahil kini terpasang di wajah Galang membuat Ega salah tingkah dan memukul pelan dada Galang. Lelaki itu hanya terkekeh. “Bagaimana?” tanya Galang. “Kamu mau kan memulai semuanya dari awal lagi?” lanjut Galang.
“Kamu kan sudah tahu jawabannya, kenapa masih terus bertanya sih?” sahut Ega kesal. Kesal karena Galang terus saja membuatnya merasa malu dan canggung. “Aku mau kamu mengatakannya langsung Ga.” Ucap Galang lagi. Ega kemudian mendesah kesal, dia kemudian menjawab, “Iya, kita mulai semuanya dari awal lagi.”
Galang tersenyum lebar mendengar jawaban Ega. Ditariknya gadis itu pelan dalam pelukannya. Awalnya Ega terkejut, tetapi pelukan Galang terasa begitu menenangkan apalagi dia bisa mendengar detak jantung lelaki itu yang juga sama kacaunya dengan dirinya. Akhirnya tanpa ragu lagi, Ega membalas pelukan Galang. Semuanya telah jelas sekarang, perasaan yang mereka miliki tidak sia-sia. Segala rasa sakit hati dan luka yang sempat menganga itu akhirnya sirna setelah keduanya sama-sama terbuka.
Tak jauh dari tempat Ega dan Galang bersama, ada dua pasang mata yang sedari tadi menguntit. Kini kedua orang itu merasa lega, Ega telah menemukan lagi senyumnya yang sempat hilang beberapa bulan ini. Dengan hati yang terasa ringan kedua orang itu kemudian pergi meninggalkan Ega dan Galang yang masih tenggelam dalam dunia mereka berdua.

TAMAT

Iklan

Recovery :: A Happy Ending

Sudah hampir sebulan sejak terakhir kali aku bertemu dengan Dimas. Tak ada kabar apapun yang kuterima mengenai dirinya, bahkan Sherin juga berkata kalau Dimas sudah tidak pernah berkunjung lagi. Bohong kalau aku bilang bahwa aku tidak ingin bertemu dengannya lagi. Bohong kalau aku bilang bahwa sudah tidak mencintainya. Aku sangat mencintainya. Sungguh. Aku merindukan lelaki itu, sungguh. Tapi mengapa dia sama sekali tidak menghubungiku lagi? Apakah dia sudah berubah pikiran dan tidak lagi mau bertemu denganku? Semua pikiran-pikiran itu membuat konsentrasiku buyar. Tak ada satupun hal yang bisa kulakukan dengan benar. Sore ini sepulang kerja akhirnya kuputuskan untuk mampir sebentar ke rumah Sherin. Bertemu dengan Davina sejenak ternyata mampu membuat moodku membaik.
“Kamu coba telpon Mas Dimas duluan lah mbak. Siapa tahu dia sebenarnya sedang menunggumu untuk menghubunginya. Bukankah mbak sendiri yang memintanya untuk memberikan waktu untukmu berpikir?” kata Galih begitu aku menceritakan kegelisahanku. Aku menghembuskan nafas kesal. Aku ingin menghubunginya, tapi egoku melarangku, kataku dalam hati. Sherin mengangsurkan segelas teh hangat untukku. Kusesap sedikit dan kuletakkan kembali ke atas meja. “Entahlah, aku lelah memikirkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi.”sahutku tak bersemangat. Kurain Davina dari pangkuan ibunya dan kududukan dalam pangkuanku. Kukeluarkan sebuah lolipop besar dari tasku dan kuberikan padanya. Matanya berbinar dan dia tersenyum manis.
“Aku iri. Kenapa dia malah lebih mirip denganmu mbak?” Sherin berujar dengan nada cemburu. “Lihat, bahkan senyum kalian benar-benar mirip.” Lanjutnya. Aku dan Galih hanya terkekeh melihat kelakuan Sherin yang terkadang memang masih kekanakan. Dia menggerutu pelan dan mengerucutkan bibirnya melihatku tak menanggapi ucapanya. Aku berdiri dan menggendong Davina keluar rumah untuk bermain-main sejenak di halaman depan. Tiba-tiba anak itu meronta dari gendonganku.
“Om Dimas, Om Dimas..”seru Davina. Aku mengikuti arah yang di tunjuk oleh Davina. Dimas berdiri di sana, terpana melihatku. Aku lalu membiarkan keponakanku itu turun dan berlari menghambur ke dalam pelukan Dimas. Dimas hanya tersenyum dan menyambut Davina dengan pelukan dan kemudian menggendongnya. Aku masih diam tak bergerak diposisiku semula sementara Sherin dan Galih melongokan kepala mereka dari dalam ruang tamu untuk mengintip siapa yang datang. Betapa nasib ternyata masih berpihak padaku dan Dimas sehingga kami dipertemukan di tempat ini tanpa membuat janji sebelumnya. Sherin keluar dan mengajak Davina masuk bersamanya. Awalnya gadis kecil itu menolak dan berontak. Tapi Galih kemudian berseru dari dalam bahwa kartun kesukaannya sedang tayang di televisi sehingga akhirnya Davina bisa dibujuk untuk ikut ibunya.
Sepeninggal Sherin dan Davina, suasana menjadi sangat canggung. Dia berbicara basa-basi dengan menanyakan kabar dan sebagainya sebelum akhirnya dia kupersilahkan untuk duduk. Kami diam cukup lama, aku terlalu bingung bagaimana harus memulai semua pembicaraan dengannya. Apa yang sebaiknya kukatakan lebih dulu, bagaimana sebaiknya aku mengatakannya? Semua pertanyaan itu terus berputar dalam otakku sampai-sampai aku tidak mendengar Dimas memanggilku. Dia menepuk bahuku pelan dan membuatku terlonjak karena terkejut.
“Kamu melamun? Ada apa?” tanya Dimas kemudian ketika aku sudah kembali dari lamunanku.
“Tidak ada. Hanya saja rasanya canggung harus bertemu lagi denganmu.” Jawabku singkat. Hanya kata-kata itu yang melintas di kepalaku, dan memang itulah kenyataanya sekarang. Dimas hanya tersenyum dan mengacak pelan rambutku.
“Hentikan kebiasaanmu itu. Bukankah aku sudah berkali-kali memperingatkanmu? Kita bukan sepasang remaja lagi. Berhentilah bersikap seperti anak-anak.” Aku menggerutu sambik membetulkan posisi rambutku. Kurapikan poniku yang berantakan karena ulah Dimas. Sebuah tangan lain terulur membantuku merapikan poniku. Dimas tersenyum dalam diam. Hening, tak ada kata yang terucap lagi.
“Kembalilah padaku Sha, kita mulai semuanya dari awal lagi. Hanya kamu dan aku, tidak ada yang lainnya.” Ujar Dimas memecah keheningan. Aku tertegun mendengar ucapannya. Masih sebegitu pentingnyakah aku baginya? Apakah dia akan merasa kehilangan bila aku tak ada di sisinya? Aku memiringkan kepalaku dan menatapnya dengan sorot mata bertanya.
“Aku bersungguh-sungguh kalau itu yang ingin kamu tanyakan.” Dia menjawab bahkan sebelum aku mengutarakan pertanyaanku. Aku hanya menghela nafasku berat mendengar jawabanya. Apakah ini tidak terlalu tiba-tiba untuk sepasang kekasih yang telah terpisah selama empat tahun?
“Aku tidak yakin Dim, bukan padamu tapi lebih kepada hatiku sendiri. Aku tak yakin apakah aku masih bisa mencintaimu seperti dulu, apakah luka yang dulu sudah mengering, apakah aku sanggup menatapmu tanpa mengingat kejadian empat tahun yang lalu. Semua pertanyaan itu terus berputar di otakku dan bahkan sekarang melihatmu dalam jarak sedekat ini saja sudah membuatku takut. Aku takut jika aku sampai memelukmu lagi, aku tak akan bisa melepasmu.” Sahutku lirih.
“Kalau begitu jangan pernah melepaskanku karena aku juga tak akan pernah melepaskanmu sampai kapanpun dengan alasan apapun. Aku akan mengikatmu selamanya di sisiku.” Dimas berkata demikian sambil menatapku tepat di manik mataku.
“Aku..aku..aku beri aku waktu Dim. Beri aku waktu untuk memikirkannya lagi.”jawabku sambil memalingkan wajah dari tatapannya. Aku selalu kalah jika harus bertatapan dengannya. Aku takut tak akan bisa menolak permintaannya jika terus menatap matanya.
“Menunggu? Aku sudah menunggu empat tahun untuk mencarimu Sha, dan sekarang kamu masih memintaku untuk menunggu lagi? Sampai kapan? Kita sudah tidak muda lagi. Kamu ingin aku menunggu berapa lama lagi?” sahut Dimas frustasi. Aku hanya diam. Ya, Dimas benar, kami sudah tak muda lagi. Tapi aku tak bisa jika harus menjawabnya sekarang. Bohong kalau aku sudah tak bisa mencintainya sementara selama ini hanya dia yang selalu kupikirkan dan kurindukan. Aku menggigit bibir bawahku ragu. Kepalaku tertunduk memikirkan segalanya tentang hubunganku dan Dimas. Saat kuangkat kembali wajahku, aku melihat Dimas tengah menatapku dengan lembut dan hangat.
“Bisakah kamu menunggu satu jam saja? Aku harus mandi dan berganti pakaian.”
Dimas tersenyum mendengar ucapanku barusan. Dia mengangguk. Aku kemudian meninggalkannya di teras sendirian sementara aku masuk dan menumpang mandi di rumah Sherin ini. Aku butuh mandi untuk menjernihkan pikiranku. Untuk dapat melihat dan menjernihkan segala sesuatu yang awalnya keruh. Akhirnya aku sampai pada keputusan ini. Aku membutuhkan lelaki itu. Aku mencintainya, sangat. Ketika aku sudah yakin dengan keputusan yang kubuat, aku tersenyum pada pantulan diriku di cermin.
Dia masih menunggu dengan secangkir kopi yang entah kapan sudah bertengger manis di meja. Sesekali dia memainkan ponselnya. Aku berdehem pelan setelah duduk di hadapannya. Dia kemudian menatapku lagi dengan hangat.
“Mari kita mulai semuanya dari awal lagi. Hanya kamu dan aku serta jalan baru yang harus kita lalui bersama.” aku mengawali pembicaraan dengan mengatakan apa yang sudah kupikirkan masak-masak tadi. Dimas menatapku tak yakin. Tapi aku bisa melihat ada pendar kebahagiaan di sorot matanya.
“Kamu yakin? Kamu tidak bercanda kan?” tanya Dimas masih tak yakin dengan apa yang kuucapkan barusan. Aku hanya mengangguk mantap. Sejak dulu ini yang aku inginkan. Bersamanya semua akan terasa lebih mudah, aku yakin itu.
Dimas tersenyum dan meraih tanganku dalam genggamannya. Genggamannya begitu hangat dan menenangkan. Caranya menatapku, menggenggam tanganku, dan caranya tersenyum tak pernah berubah. Mungkin hatiku sempat berubah, tapi ternyata memadamkan cinta itu tak mudah. Aku masih mencintainya. Mencintai segala yang ada pada dirinya. Tak ada lagi alasan untukku menolak lelaki ini. Aku masih mencintainya, dan berdasarkan cerita Sherin dan Galih, Dimas tak pernah berkencan dengan wanita lain selama empat tahun ini. Jadi, untuk apa aku ragu menerimanya kembali?
TAMAT

Epilog
Love will find its own way to happiness. Despite having to go through the winding roads, sharp gravel, separated by a chasm without a bridge, love will always find a way to get back together. This is not about how much love you have from the beginning, but on how to keep the love that already exist and grow stronger. The people’s heart may be easily changed, but the love will not be easily extinguished despite the distance apart, space and time.
Aku menutup buku harianku. Kutatap bingkai foto di atas meja kerjaku, aku, Dimas dan malaikat kecil kami, Adisha. Lima tahun sudah berlalu sejak aku dan Dimas kembali merangkai perjalanan kami bersama. Aku masih tetap di Madiun, dan Dimas menyusulku pindah beberapa bulan setelah kami memutuskan untuk menikah. Sembari bekerja di sebuah perusahaan properti, dia juga membangun bisnis kafenya dari awal di kota ini.
Ini adalah tahun ke-4 pernikahan kami. Sekarang aku sudah memiliki malaikat kecilku sendiri yang membuatku dan Dimas semakin kuat. Kami yakin bahwa selama kami menghadapi segalanya bersama, tidak ada yang mustahil. Dan di sinilah kami sekarang, merangkai perjalanan baru yang tak akan pernah berakhir bersama-sama.